ETNOMUSIKOLOGI

ETNOMUSIKOLOGI, ILMU-ILMU SENI,DAN PENGEMBANGAN TEORI

Muhammad Takari

Abstrak

Tulisan ini mengkaji secara umum tentang keberadaan disiplin etnomusikologi di tengah-tengah ilmu-imu seni dan upaya-upaya pengembangan teori di dalamnya. Etnomusiko-logi adalah disiplin saintifik yang pada dasarnya adalah mengkaji musikk dalam kebudayaan manusia di seluruh dunia ini. Etnomusikologi merupakan difusi dua ilmu utama yaitu musikologi dan antropologi. Etnomusikologi masuk ke dalam kelompok disiplin ilmu-ilmu social dan humaniora atau kemanusiaan sekali gus. Di sisi lain, etnomusikologi juga memiliki disiplin-disiplin saudaranya yatu etnokoreologi, yaitu ilmu yang mengkaji tari dalm konteks kebudayaan manusia. Ada lagi antropologi teater, yaitu ilmu yang mengkaji teater dalam konteks kebudayaan. Ke depan tampaknya etnomusikologi akan terus berkembang sesuai dengan teori-teori yang berkembang di dalamnya. Perkembangan ini berdasar kepada perkembangan musik dalam kebudayaan manusia yang terus secara intens distudi dalam disiplin etnomusikologi.

Pengantar

Kesenian adalah ekspresi dan sebuah unsur dari tujuh unsur kebudayaan. Kesenian dapat berwujud dalam bentuk ide, kegiatan, maupun benda-benda seni. Contohnya dalam budaya musik Toba terdapat ide marsiulak hosa yang dilakukan dalam aktivitas hembusan dengan pernafasan yang sirkular (circular breathing) dalam memainkan alat musik sarune (shwam)—sarune itu sendiri adalah benda seni budaya.  Kesenian mencerminkan sejauh mana tingkat peradaban manusia pendukungnya. Kesenian tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat tertentu karena mereka memerlukan pemuasan akan rasa keindahan atau estetika.[i] Kesenian dapat diekspresikan melalui bunyi yang disebut dengan nada dan ritme; titik, garis dan warna; dialog, prolog, epilog, lakon, adegan; gerak-gerik, mimik muka, dan lain-lainnya. Kesenian dapat digunakan dan difungsikan dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Demikian pentingnya kesenian, sampai-sampai dunia wisata di setiap negara pun memungsikan kesenian untuk tujuan bisnis di bidang ini. Sementara itu, selain fungsinya untuk berbagai kepentingan masyarakat, kesenian juga perlu dikaji secara ilmiah, menurut ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah untuk mengetahui ilmu di sebalik pertunjukan dan perwujudan kesenian. Di antara ilmu-ilmu seni adalah etnologi tari (disebut juga dengan etnokoreologi dan antropologi tari), antropologi teater, ilmu seni rupa, kajian seni pertunjukan (performing art study), kajian seni rupa (visual art study), etnomusikologi, dan lain-lain.  Munculnya disiplin-disiplin seni ini, selaras dengan perkembangan ilmu dan perkembangan kebudayaan manusia di dunia.

Seiring dengan perkembangan peradaban dan keilmuan dunia, maka etnomusikologi muncul secara alamiah, untuk perkembangan ilmu dan pencerahan pemikiran.  Di Dunia Barat (Oksidental) ilmu ini muncul di universitas-universitas seperti Wesleyan University, University California of Berkeley, University California at Los Angeles, University of Hawaii, Brown University, Alberta University, Jaap Kunst University, Durham University, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di Dunia Timur etnomusikologi didirikan di beberapa negara, di antaranya adalah National University Philippine, Universiti Sains Malaysia, dan Universiti Malaya. Di Ausralia didirikan di Monash University.

Di Indonesia, disiplin etnomusikologi umumnya diintegrasi-kan ke dalam sekolah tinggi seni atau institut seni. Misalnya di Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang. Satu-satunya disiplin etnomusiklogi yang diasuh universitas adalah Departemen Etnomusikologi, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (FS USU) Medan.  Selain itu, sejak tahun 2009 ini, ketika Program Studi Etnomusikologi FS USU telah berusia 30 tahun, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jederal Perguruan Tinggi, telah mengizinkan USU untuk membuka Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni. Ini juga yang kedua sebagai S-2 Penciptaan dan Pengkajian Seni yang diasuh oleh universitas, selepas Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan melihat kondisi tersebut di atas, maka kita lihat betapa etnomusikologi sebagai ilmu sangat berperan dalam konteks dunia dan nasional Indonesia.

Dalam makalah ini penulis akan mengkaji etnomusikologi dalam konteks ilmu-ilmu seni. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran, bahwa etnomusikologi secara keilmuan memiliki “saudara-saudara” lainnya. Bagaimana kedudukan etnomusikologi secara keilmuan, hubungannya dengan ilmu-ilmu seni lainnya. Bagaimana pula kedudukannya dalam dunia sains. Kemudian tentu saja bagaimana pengembangan teorinya, agar ilmu ini berkembang dalam masyarakat. Dalam hal ini, etnomusikologi di Indonesia, akan menyumbangkan berbagai teori dari kawasan Dunia Timur bagi mengembangkan ilmu ini dalam konteks etnomusikologi di dunia.[ii]

Penceraahan kepada Masyarakat Dunia

Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan, etnomusikologi telah terbukti mampu memberikan pencerahan-pencerahan kepada umat manusia, baik pencerahan dalam tatanan dunia baru atau lama. Dimulai dari kalangan akademisi, pemerintahan, masyarakat, dan suku bangsa atau etnik. Di belahan bumi Eropa, berkat lahirnya disiplin ini, masyarakatnya memberikan apresiasi, memahami, dan akhirnya menyadari keberanekaragaman kebudayaan di seluruh dunia. Sedikit demi sedikit mereka pun mulai meninggalkan istilah-istilah yang berkonotasi tak baik terhadap kelompok manusia lain seperti istilah savage, primitive, tribal, dan sejenisnya.[iii]

Menurut I Made Bandem, etnomusikologi merupakan sebuah bidang keilmuan yang topiknya menantang dan menyenangkan untuk diwacanakan. Sebagai disiplin ilmu musik yang unik, etnomusikologi mempelajari musik dari sudut pandang sosial dan budaya. Sebagai disiplin yang amat populer saat ini, etnomusikologi merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda umurnya. Kendati umurnya baru sekitar satu abad, namun dalam uraian tentang musik eksotik sudah dijumpai jauh sebelumnya. Uraian-raian tersebut ditulis oleh para penjelajah dunia, utusan-utusan agama, orang-orang yang suka berziarah dan para ahli fillogi. Pengenalan musik Asia di Dunia Barat, pada awal-awalnya dilakukan oleh  Marco Polo, pengenalan musik China oleh Jean-Babtise Halde tahun 1735 dan Josep Amiot tahun 1779. Kemudian musik Arab oleh Guillaume-Andre Villoeau hun 1809. Periode ini dipandang sebagai awal perkembangan etnomusikologi. Masa ini pula diterbitkan Ensiklopedi Musik oleh Jean-Jaques Rousseau, tepatnya tahun 1768, yang memberi semangat tumbuhnya etnomusikologi.[iv]  Penelitian tentang musik rakyat dari berbagai bangsa di Eropa dilakukan oleh Grin dan Herder dan kawan-kawannya, yang akhirnya menjadi tumbuhnya benih keasadaran akan perbedaan budaya dalam persamaan universal makhluk manusia.

Sikap dan ideologi etnosentrisme Eropa perlahan-lahan bertukar ke arah humanisme universal manusia. Misalnya konsep Jerman di atas segalanya (Deuthsland ubber alles) tidak relevan dalam tatanan dunia kini. Begitu juga Amerika Serikat yang menetapkan konsep keanekaragaman (unibis e umum),  terus berusaha menerapkannya walau tetap masih adanya sisa-sisa etnosentrisme, terutama pembedaan warna kulit, serta gerakan puritanisme agama.[v]

Demikian juga di kalangan agamawan, penerimaan perbedaan di dunia ini menjadi suatu keniscayaan yang tak boleh ditolak. Vatikan sebagai pusat Katholik telah memberikan dan menghargai konsep-konsep dasar tentang keberagaman manusia dan agamanya di dunia ini.  Agama Kristen Katholik dan Protestan juga memiliki konsep inkulturasi, yaitu menerima semua kebudayaan di dunia ini dengan keindahannya masing-masing dalam konteks membumikan gereja di mana pun di dunia ini.

Dalam Islam pula dijarakan tentang keanekaragaman budaya ini seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an, yang artinya:  “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kamu bangsa dan puak supaya kamu berkenal-kenalan, sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa di antara kamu.” (Qur’an, surah Al-Hujurat:13). Jadi sejak awal Islam telah menghargai perbedaan itu. Ketika etnomusikologi lahir, maka tiada halangan bagi agama ini untuk menerima disiplin ilmu etnomusikologi. Misalnya di beberapa universitas di Turki, mendirikan disiplin ini secara khas Turki. Demikian pula di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Beberapa etnomusikolog, etnokoreolog, dan antropolog di kawasan Asia Tenggara cukup mewarnai etnomusikologi Dunia. Misalnya kita mengenal nama Mohd Anis Md Noor, Mohamed Ghouse Nasuruddin, Rizaldi Siagian, R.M. Soedarsono, Santosa, Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan, dan lain-lain, sebagai ilmuwan muslim. Demikian pula ilmuwan yang beragama lain di Asia Tenggara seperti Jose Maceda, Tan Sooi Beng, dan lainnya. Ini semua mengindikasikan bahwa etnomusikologi diterima di seluruh dunia—bukan hanya di Dunia Barat saja.

Di kawasan Dunia Timur (Oriental) pula, di tempat-tempat ilmu ini berkembang, masyarakatnya menyadari juga akan aneka ragam budaya di dunia yang sama-sama dihuni makhluk manusia ini. Manusia di Dunia Barat maupun  Dunia Timur menyadari bahwa sifat dan sikap etnosentrisme yang rata-rata terkandung dalam nilai kebudayaan mereka, berangsur-angsur berubah seiring proses globalisasi. Mereka belajar   dari sejarah bahwa konsep-konsep etnosentrisme tak lagi relevan diterapkan di masa kini.  Dengan demikian etnomusikologi turut berperanserta dalam mencerahkan makhluk manusia di seluruh dunia.

Etnomusikologi dalam Konteks Keilmuan

Sebagai sebuah disiplin ilmu, etnomusikologi dengan terang-terangan dinobatkan sebagai dua kelompok disiplin, yaitu ilmu humaniora dan ilmu sosial sekali gus. Selain itu pula, sangat dirasakan perlunya memanfaatkan ilmu eksakta di bidang disiplin ini, terutama yang berkaitan dengan organologi, akustik, dan artefak. Etnomusikologi, pada waktu ini, memberikan kontribusi keunikannya dalam hubungannya bersama aspek-aspek ilmu pengetahuan sosial dan aspek-aspek ilmu humaniora, dalam caranya untuk melengkapi satu dengan lainnya, mengisi penuh kedua pengetahuan itu.  Keduanya akan dianggap sebagai hasil akhir darinya sendiri; keduanya dipertemukan menjadi pengetahuan yang lebih luas.[vi]

Etnomusikologi biasanya secara tentatif paling tidak menjangkau lapangan-lapangan studi lain sebagai suatu sumber stimulasi baik terhadap etnomusikologi itu sendiri maupun disiplin saudaranya, dan ada beberapa cara yang dapat dijadikan nilai pemecahan terhadap masalah-masalah ini.  Studi teknis dapat memberitahukan kita banyak tentang sejarah kebudayaan.  Fungsi dan penggunaan musik adalah sebagai suatu yang penting dari berbagai aspek lainnya pada kebudayaan, untuk mengetahui kerja suatu masyarakat.  Musik mempunyai interelasi dengan berbagai tumpuan budaya; ia dapat membentuk, menguatkan, saluran sosial, politik, ekonomi, linguistik, religi, dan beberapa jenis tata tingkah laku lainnya.  Teks nyanyian melahirkan beberapa pemikiran tentang suatu masyarakat, dan musik secara luas dipergunakan sebagaimana analisis makna terhadap prinsip struktur sosial.  Etnomusikolog seharusnya tak dapat menghindarkan diri terhadap dirinya sendiri dengan masalah-masalah simbolisme di dalam musik, pertanyaan tentang hubungan antara berbagai seni, dan semua kesulitan pengetahuan apa itu estetika dan bagaimana strukturnya.  Ringkasnya, masalah-masalah etnomusikologi bukan hanya terbatas kepada teknik semata–tetapi juga tentang tata tingkah laku manusia.  Etnomusikologi juga tidak sebagai sebuah disiplin yang terisolasi, yang memusatkan perhatiannya kepada masalah-masalah esoteris saja, yang tak dapat diketahui oleh orang selain yang melakukan studi etnomusikologi itu sendiri.  Tentu saja, etnomusikologi berusaha mengkombinasikan dua jenis studi, untuk mendukung hasil riset, untuk memecahkan masalah-masalah spektrum yang luas, yang mencakup baik ilmu humaniora ataupun sosial.

Ilmu pengetahuan humaniora lebih menaruh perhatian kepada nilai-nilai kemanusiaan dibandingkan dengan ilmu pengetahuan sosial, dan lebih menaruh perhatian kepada nilai kebebasan dalam mendeskripsikan perilaku manusia.  Pernyataan ini, secara umum memang benar, yang kembali mendiskusikan dan menanyakan metode-metode daripada menanyakan muatan lapangan studinya.  Begitu juga, penting untuk menyatakan bahwa ilmu pengetahuan humaniora sangat melibatkan nilai-nilai, dan ini menjadi titik kuncinya.  Dengan demikian, fokus ilmu-ilmu humaniora dibangun di atas kritik pengujian dan evaluasi dari produk manusia di dalam urusan kebudayaan (seni, musik, sastra, filsafat, dan religi), sedangkan fokus ilmu pengetahuan sosial adalah cara  manusia hidup bersama, termasuk aktivitas-aktivitas kreatif mereka.

Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Sebagai sebuah disiplin ilmu, etnomusikologi tentu saja harus berdasar kepada tiga esensi dasar dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, yaitu epistemologis, aksiologis, dan ontologis. Dalam filsafat dikenal dua istilah yang saling berkaitan, tetapi memiliki makna yang berbeda yaitu istilah pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (ilmu atau sains) yang berasal dari bahasa Inggris science. Pengetahuan adalah istilah yang digunakan dalam filsafat yang berarti belum sampai kepada tahap ilmu pengetahuan. Filsafat sendiri dapat diartikan sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh—suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.[vii]

Ilmu pegetahuan adalah sebuah disiplin yang mempunyai tahapan-tahapan dan prosedur-prosedur tertentu, yang sering disebut ilmiah. Di antaranya adalah rasionalisme, empirisme, determinisme, hipotesis dan pembuktian, asumsi, pengamatan (observasi), penelitian, pengolahan data, temuan, dan lain-lainnya.[viii]

Dalam ontologis biasanya dipertanyakan apa yang ingin kita ketahui. Seterusnya dalam epistemologis dipertanyakan tentang bagaimana kita mengetahuinya. Sedangkan pada aksiologis ditanyakan nilai apa yang berkembang pada pengetahuan yang kita ketahui.

Ketiga dasar filosofis ini tentu saja dapat diaplikasikan dalam menjawab munculnya etnomusikologi di tengah-tengah ilmu pengetahuan yang bersifat saintifik. Secara ontologis etnomusikologi digunakan oleh para ilmuwannya untuk mengetahui musik dalam kebudayaan.  Atau kalau diperluas menjadi musik dalam kebudayaan, musik sebagai kebudayaan, dan musik dalam konteks kebudayaan. Secara filosofis mengetahui musik tujuan akhirnya adalah mengetahui bagaimana manusia yang menggunakan dan mendukung musik itu. Musik adalah salah satu cabang kesenian, dan kesenian sediri adalah salah satu unsur kebudayaan. Jadi mengetahui musik, harus mempertimbangkan dalam seni dan kebudayaan yang lebih holistik. Selain itu dalam rangka mengetahui musik tentu saja harus melihatnya dalam konteks sosial juga selain budaya. Bagaimana musik ini hidup dan berkembang dalam kelompok manusia, sejauh apa pula sumbangannya dalam konteks sosiobudaya.

Secara epistemologis pula etnomusikologi dalam rangka mengetahui musik dalam kebudayaan, mestilah memiliki teori dan metode. Teori adalah panduan dasar dalam memecahkan dan memerikan fenomena musik dalam konteks sosiobudaya. Teori menjadi alat untuk menganalisis. Namun untuk mengembangkan ilmu dibutuhkan penemuan dan pembaharuan teori di kalangan ilmuwan etnomusikologi atau ilmu terkait secara terus-menerus. Sementara metode digunakan untuk mendukung kerja penelitian dan analisis. Metode yang baik dapat mempermudah kerja etnomusikolog dan memperoleh hasil yang terverifikasi. Teknik kerja dalam etnomusikologi tampaknya sangat diwarnai dan didukung oleh penemuan teknologi terkini. Oleh karenanya etnomusikolog haruslah menguasai teknologi terkait, bukan gagap teknologi (gaptek).

Kemudian secara aksiogis, yaitu nilai-nilai apa yang terkandung dalam disiplin etnomusikologi, harus diletakkan sejak awal beridirinya disiplin ini.  Nilai-nilai, sasaran dan tujuan etnomusikologi tidak berbeda menariknya dengan disiplin-disiplin lain.  Musik adalah fenomena manusia secara universal dan musik ini dalam pengetahuan filsafat Barat berjasa dalam studi terhadap kebenaran itu sendiri.  Kepentingan manusia yang akhir kali adalah manusia itu sendiri, dan musik itu adalah bagian dari apa yang ia lakukan dan bagian dari apa yang ia studi terhadap dirinya sendiri.  Namun kepentingan yang sama adalah fakta bahwa musik adalah sebagai tata tingkah laku manusia, dan etnomusikolog mempunyai andil baik itu dengan ilmu pengetahuan sosial atau humaniora, menjangkau suatu pengetahuan kenapa manusia bertata tingkah laku seperti itu.

Fusi dan Prosesnya

Etnomusikologi sebagai sebuah disiplin ilmu, merupakan fusi atau gabungan dari dua induk ilmu yaitu etnologi (antropologi) dan musikologi.  Penggabungan ini sendiri telah menimbulkan dampak yang kompleks dalam perkembangan etnomusikologi.  Jika kemudian ia berfusi lagi dengan ilmu lain, katakanlah arkeologi, maka akan terjadi sesuatu perkembangan yang menarik. Dalam konteks etnomusikologi, bidang musikologi   selalu  dipergunakan   dalam   mendeskripsikan struktur   musik  yang  mempunyai  hukum-hukum  internalnya sendiri–sedangkan etnologi memandang musik sebagai  bagian dari fungsi  kebudayaan manusia  dan sebagai  suatu  bagian yang  menyatu dari suatu dunia yang  lebih  luas.   Secara eksplisit dinyatakan oleh Merriam sebagai berikut.

Ethnomusicology  carries  within itself the seeds of  its  own division, for it has always been compounded of two distinct  parts, the  musicological  and  the ethnological, and  perhaps  its  major problem  is  the  blending of the two in  a  unique  fashion  which emphasizes neither but takes into account both. This dual nature of the field is marked by its literature, for where one scholar writes technically  upon the structure of music sound as a system  in  itself, another chooses to treat music as a functioning part of human culture and as an integral part of a wider whole.  At  approximately the same time, other scholars, influenced  in considerable part by American anthropology, which tended to  assume an aura of intense reaction against the evolutionary and diffusionist schools, began to study  music in its ethnologic context.  Here the emphasis was placed not so much upon the structural  components of  music  sound as upon the part music plays in  culture  and  its functions in the wider social and cultural organization of man.  It has been tentatively suggested by Nettl (1956:26-39) that it is possible to characterize German and American “schools” of ethnomusicology,  but the designations do not seem quite apt.  The  distinction to be made is not so much one of geography as it is one of theory,  method, approach, and emphasis, for many provocative  studies  were  made by early German scholars in problems  not  at  all concerned  with music structure, while many American  studies  heve been devoted to technical analysis of music sound.[ix]

Dari  kutipan paragraf di atas,  menurut Merriam  para pakar etnomusikologi membawa  dirinya  sendiri kepada  benih-benih  pembahagian  ilmu, untuk  itu selalu dilakukan percampuran dua bagian  keilmuan yang   terpisah,  yaitu  musikologi  dan   etnologi.   Kemudian menimbulkan  kemungkinan-kemungkinan  masalah  besar   dalam rangka  mencampur kedua disiplin itu dengan cara yang  unik, dengan  penekanan  pada salah satu bidangnya,  tetapi  tetap mengandung kedua disiplin tersebut.  Sifat dualisme lapangan studi  ini,  dapat ditandai  dari  literatur-literatur yang dihasilkannya–seorang sarjana menulis secara teknis tentang struktur  suara musik sebagai suatu sistem  tersendiri,  sedangkan  sarjana  lain  memilih  untuk  memperlakukan  musik sebagai  suatu  bagian dari fungsi kebudayaan  manusia,  dan sebagai  bagian  yang integral dari  keseluruhan  kebudayaan.   Pada  saat  yang  sama,  beberapa  sarjana  dipengaruhi secara  luas oleh para pakar antropologi Amerika, yang cenderung  untuk mengasumsikan  kembali  suatu aura reaksi  terhadap  aliran-aliran  yang  mengajarkan  teori-teori  evolusioner  difusi, dimulai   dengan   melakukan  studi  musik   dalam   konteks etnologisnya.   Di sini, penekanan etnologis yang  dilakukan para sarjana ini lebih luas dibanding dengan kajian struktur komponen suara  musik sebagai suatu bagian dari permainan musik dalam  kebudayaan, dan fungsi-fungsinya dalam organisasi sosial dan  kebudayaan manusia yang lebih luas.

Hal  tersebut  telah disarankan  secara  tentatif  oleh Nettl  yaitu  terdapat  kemungkinan  karakteristik  “aliran-aliran”   etnomusikologi   di  Jerman  dan   Amerika,   yang sebenarnya  tidak  persis  sama.   Mereka  melakukan   studi etnomusikologi  ini,  tidak  begitu  berbeda,  baik   dalam geografi,  teori,  metode,  pendekatan,  atau  penekanannya.  Beberapa  studi  provokatif  awalnya  dilakukan  oleh   para sarjana  Jerman.   Mereka  memecahkan  masalah-masalah  yang bukan  hanya pada semua hal yang berkaitan  dengan  struktur musik saja.  Para   sarjana   Amerika    telah mempersembahkan teknik analisis suara musik.  Dari  kutipan di atas tergambar dengan jelas bahwa etnomusikologi dibentuk dari dua  disiplin  dasar  yaitu  etnologi  dan  musikologi, walau  terdapat variasi penekanan bidang yang  berbeda  dari masing-masing  ahlinya.   Namun  terdapat  persamaan   bahwa mereka   sama-sama  berangkat  dari  musik dalam konteks kebudayaannya.

Berbagai definisi tentang etnomusikologi telah dikemukakan dan dianalisis oleh para pakar etnomusikologi.  Dalam edisi berbahasa Indonesia, Rizaldi Siagian dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan Santosa dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, telah mengalihbahasakan berbagai definisi etnomusikologi, yang terangkum dalam buku yang bertajuk Etnomusikologi, 1995, yang disunting oleh Rahayu Supanggah, terbitan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, yang berkantor pusat di Surakarta.  Dalam buku ini, Alan P. Merriam mengemukakan 42 definisi etnomusikologi dari beberapa pakar, menurut kronologi sejarah dimulai oleh Guido Adler 1885 sampai Elizabeth Hesler tahun 1976.[x]

Dari 42 definisi tentang etnomusikologi dapat diketahui bahwa etnomusikologi adalah fusi dari dua disiplin utama yaitu musikologi dan atropologi, pendekatannya cenderung multi disiplin dan interdisiplin.  Etnomusikologi masuk ke dalam bidang ilmu humaniora dan sosial sekali gus, merupakan kajian musik dalam kebudayaan, dan tujuan akhirnya mengkaji manusia yang melakukan musik sedemikian rupa itu.  Walau awalnya mengkaji budaya musik non-Barat, namun sekarang ini semua jenis musik menjadi kajiannya namun jangan lepas dari konteks budaya.  Dengan demikian, masalah definisi dan lingkup kajian etnomusikologi sendiri akan terus berkembang dan terus diwacanakan tanpa berhenti.

Ruang Lingkup Kajian

Dalam pandangan dua jenis disiplin yang mengisi etnomusikologi ini, atau musik eksotik (‘ajaib’) sebagaimana yang kemudian mereka sebut, kebanyakannya selalu didefinisikan dalam istilah-istilah yang menekankan kepada deskriptif: studi karakter struktural dan daerah geografis yang selalu ingin dijangkaunya.  Misalnya  Benjamin Gilman, pada tahun 1909, menganjurkan ide studi terhadap musik eksotik yang sebenarnya, meliputi bentuk-bentuk musik primitif dan Dunia Timur atau Oriental (1909), sedangkan V.M. Bingham menambahinya dengan musik para petani Dalmatian (1914).  Penilaian umum terhadap pandangan ini, memberikan anjuran untuk juga mempergunakan definisi secara kontemporer, di mana daerah geografis lebih ditekankan, dibanding jenis-jenis studi yang dilakukan.  Marius Schneider mengatakan bahwa “tujuan utama [etnomusikologi adalah] studi komparatif terhadap semua karakteristik, yang biasa atau tidak biasa, dari [musik] non-Eropa”[xi]; dan Nettl mendefinisikan etnomusikologi sebagai “sains terhadap sejumlah besar musik rakyat di luar peradaban Barat.”[xii]

Kesulitan dengan jenis definisi seperti ini adalah terhadap kecenderungan untuk membatasi ruang lingkup dan pendekatannya, yang pada akhirnya, etnomusikologi ini lebih berupa suatu proses dibandingkan dengan pembatasan geografis yang statis. Willard Rhodes, sebagai contoh, memberikan langkah dalam arahan ini, meskipun bersifat tentatif, ia menambahkan musik “Timur Tengah, Timur Jauh, Indonesia, Afrika, Indian Amerika Utara, dan musik rakyat (folk) Eropa” juga studi “musik dan tarian populer.”  Pada masa yang lebih akhir, Kolinski mempunyai maksud untuk mendefinisikan etnomusikologi sebagai “sains terhadap musik non-Eropa” dan dia mencatatat bahwa “etnomusikologi ini tidak banyak perbedaannya dalam area geografis analisis, sebagaimana dalam pendekatan umum yang membedakan etnomusikologi dari musikologi pada umumnya”[xiii]

Jaap Kunst menambahkan suatu dimensi lanjutan, yaitu kualifikasi terhadap tipe-tipe musik yang dapat distudi dalam etnomusikologi, seperti yang ditulisnya seperti berikut [terjemahan penulis].

Studi etnomusikologi, atau, yang pada awalnya disebut: musikologi komparatif, adalah musik dan alat musik tradisional dalam semua strata kebudayaan umat manusia, dari yang disebut masyarakat primitif sampai kepada bangsa yang berperadaban.  Sains kita ini, selanjutnya, menyelidiki semua musik tribal dan folk dan setiap jenis musik seni non-Barat.   Di samping itu, studinya juga mencakup aspek sosiologi musik, seperti fenomena akulturasi musik, mis. Pengaruh hibridasi dengan elemen-elemen musik asing.  Musik seni dan musik populer (hiburan) Barat tidak termasuk ke dalam lapangan etnomusikologi.[xiv]

Mantle Hood mengajukan definisinya dari usul Masyarakat Musikologi Amerika, tetapi dengan menyisipkan (memasukkan ke dalam tanda kurung) prefiks “etno,” yang dalam usulannya menyatakan bahwa “[Etno]musikologi adalah suatu lapangan ilmu pengetahuan, yang mempunyai objek penyelidikan terhadap seni musik, sebagaimana pula fisika, psikologi, estetika, dan fenomena kebudayaan.  [Etno]musikolog  adalah seorang ilmuwan-peneliti, dan dia mengarahkan dirinya terutama untuk mencapai pengetahuan tentang musik.[xv]  Akhirnya, Gilbert Chase menunjukkan bahwa “penekanan pada masa kini … adalah studi musik kontemporer manusia, untuk masyarakat apa pun, ia dapat memasukkannya, apakah masyarakat primitif atau kompleks, Timur atau Barat.”[xvi]

Untuk definisi yang bervariasi ini, saya mempunyai suatu yang perlu ditambahkan, dalam menyatakan etnomusikologi, Merriam  mendefinisikannya sebagai “studi musik di dalam kebudayaan”[xvii]  adalah suatu yang penting bahwa definisi ini sesungguhnya dapat diterangkan jika ia benar-benar dipahami.  Makna implisit yang terkandung dalam asumsi bahwa etnomusikologi adalah dibentuk dari musikologi dan etnologi, dan suara musik merupakan hasil dari proses tata tingkah laku manusia, yang dibentuk oleh berbagai nilai, sikap, dan kepercayaan masyarakatnya yang turut mengisi suatu kebudayaan.  Suara musik tidak akan tercipta, kecuali dari satu orang  ke orang lainnya, dan meskipun kita tidak dapat memisahkan dua aspek tersebut secara konseptual, tidak akan diperoleh kenyataan yang lengkap tanpa mau mempelajarinya.   Tata tingkah laku manusia menghasilkan musik, tetapi prosesnya adalah suatu yang kontinu; tata tingkah laku itu sendiri membentuk hasil suara musik, dan dengan demikian studi terhadap aspek yang satu tentunya akan melibatkan aliran studi lainnya.

Dalam Konteks Aliran Pemikiran

Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan, maka etnomusikologi juga tidak harus mengisolasi diri dari perkembangn-perkembangan arus pemikiran ilmu-ilmu sosial, humaniora, maupun eksakta pada masa kini. Etnomusikologi harus membuka diri untuk menerima berbagai teori dan metode dari ilmu-ilmu lainnya. Pada masa sekarang ini jelas terjadi pergulatan antara aliran pemikiran modernisme dengan posmodernisme.  Begitu juga muncul aliran pemikiran posstrukturalisme dan poskolonialisme. Semua aliran-aliran ini sudah semestinya direspons oleh para etnomusikolog di seluruh dunia.

Ada kesamaan dan titik temu antara tujuan etnomusiklogi sebagai ilmu dengan aliran pemikiran posmodernisme, sebagai antitesis terhadap modernisme, yaitu adanya kesamaan menghargai pluralitas budaya.  Secara historis, istilah posmodernisme muncul dalam kebudayaan Eroamerika pada dasawarsa 1960-an. Posmodernisme muncul dalam disiplin-disiplin: seni rupa, sastra, arsitektur, teater, musik, ilmu-ilmu sosial, filsafat, dan lainnya. Walaupun posmodernisme muncul secara spektakuler pada dekade 1960-an, terutama di Amerika, namun gejala-gejala geliatnya telah tampak sejak akhir abad kesembilan belas di mana saat itu lagi tumbuh subur ide modernisme di dunia ini.  Rintisan awal aliran pemikiran ini bersumber dari pemikiran filosof Friederich Nietzsche di akhir abd kesembilan belas. Kemudian diteruskan ke awal abad kedua puluh oleh pemikiran filsafat yang bersumber dari filosof Martin Heidegger.

Aliran pemikiran posmodernisme ini mulai diwacanakan secara holistik dan serius oleh filosof Lyotard dan Kristeva. Bahkan terjadi polemik antara Lyotard yang mewakili kubu posmodernisme (poststrukturalis) dan Habermas yang mewakili kubu modernisme (strukturalis). Bagi Habermas, meskipun di dunia ini terjadi krisis sosiopolitis yang begitu mendasar, namun mencuatnya gagasan rasionalisme modernis tampaknya belum selesai, dan masih akan berlangsung lama. Para pendukung posmodernisme juga umumnya terkesan anti terhadap filsafat Hegelian dan Marxisme, yang mereka anggap sangat totalitarian. Hegel menotalkan setiap unsur kehidupan pada unsur roh atau juwa, sebaliknya Karl Marx pada substansi materi.

Kritik lainnya para pendukung posmodernisme diarahkan kepaa berbagai faham kebenaran dalam dunia ilmiah yang disebut dengan legitimasi, yang biasanya mengacu secara tunggal pada idealisme.  Padahal sains yang lahir dari metode rasional dan empirik, tidak akan leps dari aspek etika, metafisika, dan hal-hal irasionalitas lainnya. Dengan demikian, dalam kondisi masyarakat kontemporer, pengetahuan tidak membutuhkan lagi legitimasi pada kebenaran tunggal, sehingga manusia dihadapkan kepada delegitimasi atau paralogi, yang menghargai keanekaragaman atau pluralisme.

Dalam konteks kenegaraan misalnya, Indonesia memiliki filsafat dan way of life Pancasila, yang menurut masyarakatnya digali dari nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Aliran pemikiran Pancasila ini wajar diterima oleh seluruh warga negara Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sudah selayaknya setiap etnomusikolog Indonesia atau etnomusikolog Indonesianis mendudukan aliran pemikiran ini dalam konteks mengkaji seni, terutama yang sarat dengan muatan-muatan nilai Pancasila. Masih banyak aliran-aliran pemikiran lain yang dapat diambil kira oleh para etnomusikolog. Ini menjadi daya tarik sendiri ke masa depan.

Aplikasinya di Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang merdeka pada tahun 1945. Dalam masa kemerdekaan ini, kita dapat membaginya kepada peiodesasi politik, yaitu Orde Lama dari tahun 1945 sampai 1966. Kemudian dilanjutkan ke masa Orde Baru mula tahun 1966 sampai 1998. Kemudian Era Reformasi dari tahun 1998 hingga kini. Periode ini diwarnai dengan tesis dan antitesis pemikiran dan skala pembangunan bangsa Indonesia yang merdeka. Zaman Orde Lama ditandai dengan pengutamaan di bidang pembangunan politik. Kemudian masa Orde Baru ditandai dengan pembangunan ekonomi. Zaman Reformai pula ditandai dengan pembangunan demokrasi dan kebebasan.

Etnomusikologi sebagai institusi formal memang baru dimulai tahun 1979, ketika Universitas Sumatera Utara, yang ketika itu dipimpin oleh Adi Putra Parlindungan Lubis membuka Jurusan Etnomusikologi, yang diintegrasikan di Fakultas Sastra. Pendirian institusi ini bekerjasama dengan The Ford Foundation Amerika Serikat dan Monash University, Australia.  Namun demikian, rintisan etnomusikologi ini sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Masuknya Kristen ke Indonesia juga menjadi pengalaman menarik bagi bangsa Eropa. Mereka tidak akan dapat masuk melalui kekuatan senjata dan penjajahan, tetapi dapat masuk dengan cara pendekatan budaya, seperti yang dilakukan Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak. Demikian pula rintisan etnomusikologi ini sudah dimulai dengan berdirinya konserva-torium-konservatorium musik yang polarisasinya seperti yang terjadi dalam berbagai konservatorium di Eropa.

Saat Indonesia merdeka dalam rangka membina dan memberdayakan seni tradisi Indonesia, maka dibukalah sekolah-sekolah seni. Di peringkat sekolah menengah didirikan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang terdiri dari Jurusan Karawitan, Musik Barat, Tari, dan Teater.  Untuk seni rupa didirikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Khusus untuk Jurusan Musik didirikan Sekolah Menengah Musik Negeri (SMMN). Di peringkat Perguruan Tinggi (PT) didirikan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) atau Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian berangsur-angsur dinaikkan tarafnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Perkembangan yang lebih akhir dinaikkan statusnya menjadi Institut Seni Indonesia atau Institut Kesenian. Kesemua perguruan tinggi seni ini hanya terdapat di kawasan Indonesia Barat, khsususnya pulau Jawa, Bali, dan Sumatera saja. Kini perguruan tinggi seni itu terdiri dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Ada pula universitas-universitas yang mengasuh ilmu seni seperti Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung. Di sisi lain, universitas hasil pengembangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) tetap memelihara program kependidikan kesenian, yang diintegrasikan ke dalam Jurusan Sendratasik, seperi yang terdapat di Universitas Negeri Medan (Unmed), Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Makasar, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, dan lainnya.

Bidang ilmu etnomusikologi di Indonesia diajarkan di peringkat atau jenjang strata satu saja, yang ini agak berbeda dengan di berbagai universitas dunia, yang umumnya mengasuh disiplin ilmu ini di peringkat strata dua atau tiga. Namun demikian pemerintah Indonesia memiliki kebijakan yang lebih memperluas cakupan strata dua di bidang seni,  yaitu didirikanlah program studi penciptaan dan pengkajian seni baik di strata dua atau tiga. Tujuannya adalah untuk membentuk wadah yang lebih luas dalam menimba lulusan strata satu di bidang seni.

Etnomusikologi dan Pascasarjana Magister dan Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni

Dengan didirikannya strata dua atau program pascasarjana magister dan strata tiga atau program doktoral penciptaan dan pengkajian seni, etnomusikologi memiliki peran dan harus “berkawan” dengan rekan-rekan yang berilmu sejenis, apakah itu dari musikologi, etnologi tari, antropologi teater, kependidikan, ilmu seni rupa, maupun yang lainnya (seperti sastra, linguisitik, dan filsafat). Perkawanan ini terjadi ketika kuliah di strata dua dan tiga.

Oleh karena itu, sudah selayaknya etnomusikolog Indonesia baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri membantu polarisasi ilmu ini, dan bekerjasama dengan rekan-rekan yang berilmu sejenis. Hal ini sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai pemerintah. Bahwa magister seni dan doktor seni jangan hanya bertungkus lumus di bidangnya saja, tetapi mampu juga mengapresiasi atau bekerjasama dengan bidang seni lain sejenis, dalam rangka menjadi ilmuwan, dan tururt serta terlibat dalam mensejahterahkan rakyat Indonesia, terutama di bidang seni dan pariwisata.

Tahun 2009 ini, dua program studi penciptaan dan pengkajian seni dibuka di pulau Sumatera, tepatnya di Fakultas Sastra USU Medan, Sumatera Utara–dan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, Sumatera Barat. Sebelumnya telah berdiri di Universitas Gadjah Mada, IKJ, ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, dan ISI Denpasar.  Bagaimanapun ke depan institusi seni dan universitas pengasuh ilmu seni di Indonesia ini mestilah bekerjasama dan membentuk jejaring keilmun dan profesi untuk mendayagunakan ilmu-ilmu seni di Repubik Indonesia ini. Etnomusikologi yang diposisikan di strata satu pun harus punya andil kuat untuk itu.

Ilmu-Ilmu Seni

Seperti sudah terurai di atas, bahwa tampaknya pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional, tampaknya mempolarisasikan ilmu seni secara bersama, tidak sendiri-sendiri. Artinya tidak mengkhususkan pengembangan bidang seni secara parsial saja, tetapi holistik dan menyeluruh. Untuk itu perlu saling memahami dan kerjasama antara pakar, mahasiswa, dan luusan ilmu-ilmu seni ini seperti yang diuraikan ada sub tulisan ini.

Pendekatan Multidisiplin dan Interdisiplin

Dengan gambaran seperti tersebut di atas, tentu saja penekanan pendekatan multidisilin dan interdisiplin sangat mutlak diperlukan, dalam ilmu-ilmu seni dan tak terkecuali etnomusikologi di Indonesia. Pendekatan multidisiplin dan interdisiplin ini juga sejiwa dengan roh etnomusikologi yang sejak berdirinya  adalah hasil dari fusi dua ilmu dasar yaitu musikologi dan antropologi.

Selain dari itu pendekatan yang demikian perlu pula melihat dan mengaplikasikan metode dan teori yang berasal dari ilmu-ilmu bahasa, sastra, filsafat, ilmu agama, etnokoreologi, semiotika, psikologi, sosiologi, fisika (gelombang), dan lain-lainnya. Dengan demikian akan didapati kajian yang mendalam, holistik, dan menjawab permasalahan sosiobudaya yang dihadapi.

Persinggungan Ilmu-ilmu Seni dengan Antropologi

Antropologi adalah sebuah bidang ilmu yang mempelajari manusia (anthropos), sebagai sebuah disiplin integrasi dari berbagai ilmu yang masing‑masing mempelajari suatu kompleks masalah‑masalah khusus mengenai makhIuk manusia.[xviii]  Integrasinya ini mengalami proses sejarah yang panjang, dimulai sejak kira‑kira. awal abad ke‑19. Antropologi mulai mencapai bentuknya yang konkret setelah lebih dari 60 pakamya dari berbagai negara Eroamerika bertemu mengadakan simposiurn tahun 1951. Pendekatan ilmiah antropologi adalah berdasarkan kepada kajian menyeluruh (universal) terhadap manusia, yang mencakup bermacam jenis manusia, kebudayaannya, serta semua aspek pengalaman manusia. Pendalaman bidang‑bidang antropologi di antaranya adalah: antropologi fisik, antropologi budaya, arkeologi, antropologi linguistik, dan etnologi.

Kesenian sebagai salah satu unsur dan ekspresi budaya, jelas dapat dikaji oleh antropologi budaya. Namun dalarn perkembangan selanjutnya, beberapa disiplin yang objeknya adalah seni berdiri dan tetap memakai berbagai teori dan metode dalam antropologi, seperti persinggungannya dengan musikologi menghasilkan etnomusikologi, dengan tari menghasilkan antropologi tari, dengan teater menghasilkan antropologi teater, dan seterusnya. Oleh karena itu, akan dibahas apa itu musikologi secara garis besar saja.

Musikologi lahir di Dunia Barat, yang pada dasamya mempelajari musik seni (art music) Barat seperti kcarya‑karya Bach, Beethoven, Stravinsky, musik gereja, trobadour, trouvere, dan lainnya. Ilmu ini mernbuat dikotomi yang mencolok antara “musik seni” dan “musik primitif” berdasarkan atas ada atau tidaknya budaya tulis dan teori yang telah berkembang. Secara keilmuan, musikologi bersifat humanistis dan cenderung mengesampingkan ilmu‑ilmu pengetahuan lain, kecuali yang bersinggungan saja. Secara mendasar, musikologi bersifat historis budaya Barat dan objek studinya adalah musik sebagaimana adanya.

Berbanding terbalik dengan musikologi, antropologi mempunyai ciri‑ciri mempelajari manusia sepanjang masa; melihat semua aspek budaya manusia dan masyarakat sebagai sekelornpok variabel yang berinteraksi. Antropologi mernpunyai orientasi saintifik, yang metodologinya sebagian historis akan tetapi pada dasarnya bersifat saintifik. Tujuan antropologi adalah untuk memahami tingkah laku manusia.

Musikologi dan antropologi bukanlah bentuk studi yang sama. Yang pertarna masuk pada studi humaniora, yang kedua adalah ilmu sosial. Setelah berpadu dalam disiplin baru etnomusikologi, maka terjadi perkembangan‑perkembangan lebih lanjut, disertai ciri khas setiap kawasan yang mengasuh ilmu ini, walaupun dasar‑dasamya adalah ingin mengetahui manusia, lewat jendela budaya musik secara universal.  Dalam perkembangan selanjutnya, para musikolog yang sadar akan kemitraan dengan budaya di luar Barat, bahkan menjadi etnomusikolog. Atau ada juga etnomusikolog yang kajiannya adalah musik Eropa, biasanya musik folk atau rakyat.

Secara ilmiah, interaksi positif terjadi antara antropologi dengan teater, musik, dan tari. Yang pertarna menghasilkan. disiplin antropologi teater, yang kedua etnomusikologi, dan ketiga etnologi tari, atau disebut juga antropologi tari dan etnokoreologi. Ketiga disiplin ilmu pengetahuan tersebut lahir di Barat, dan etnomusikologi muncul paling dahulu, yaitu akhir abad ke‑19 (1890‑an). Demikian pula di Indonesia, etnomusikologi lebih dahulu dibuka di Fakultas Sastra, Universitas Surnatera Utara, tahun 1979, yang kemudian diikuti oleh institusi seni lainnya. Kemudian disusul oleh berdirinya ilmu antropologi tari dan antropologi teater.

Antropologi Tari

Antropologi tari adalah sebuah disiplin baru yang sebelumnya dikenal sebagai etnologi tari, atau oleh sebagian pakar disebut dengan etnokoreologi. Walau istilah etnologi tari baru tersebar luas, tetapi  penelitian di bidang etnologi tari telah berlangsung sejak tahun 1930‑an. Jika di bidang etnomusikologi ada tokoh Alan P. Merriam, maka dalarn antropologi tari salah seorang perintisnya adalah Getrude Prokosch Kurath yang kumpulan esainya diterbitkan tahun 1986 dengan judul Half Century of Dance Research oleh Cross Cultural Dance Research (CCDR, Flagstaff, Arizona, Amerika Serikat).  Ada pula seorang tokoh yang dikenal cukup ahli baik di bidang etnomusikologi maupun antropologi tari yaitu Curt Sachs.

Kurath menggunakan 20 tahun pertama karirnya sebagai penari dan produser pertunjukan budaya, tetapi kemudian menceburkan dirinya di bidang penelitian etnologi tari. Menurutnya, metode penelitian etnologi tari terdiri dari tiga tahap: (1) melakukan studi secara aktif dan mendatangi upacara‑upacara masyarakat yang diteliti; (2) mentransfer pola‑pola tari ke dalam bentuk tulisan, dengan deskripsi verbal dan layout visual; dan (3) menginterpretasikan fakta‑fakta yang telah diorganisasikan.

Seperti dalam studi etnomusikologi, yang tergantung latar belakang pengalaman dan pendidikannya, dalam kajian tari pun ada peneliti‑peneliti yang lebih menekankan salah satu disiplin: antropologi atau tari. Seperti yang dikemukakan oleh Adrianne Kaeppler, bahwa para ahli etnologi tari biasanya adalah berlatarbelakang sebagai penari‑‑yang melihat tari terpisah dari konteks budaya masyarakatriya. Mereka selalu mendeskripsikan tari menurut pandangan mereka sendiri, bukan pandangan masyarakat pelaku tari itu. Mereka mendeskripsikan secara. struktural bagian‑bagian tari itu seperti pola gerak, motif, garis, arah, dan repetisi tari.

Sebaliknya, para etnolog tari ingin mengetahui lebih dari itu. Antropologi pada abad ke‑20 telah berkembang dari pendekatan deskriptif dan natural ke pendekatan yang menekankan kepada teori. Bagi antropolog, deskripsi tari dari seluruh dunia ini bukan etnologi, hanya sekedar data, yang lebih jauh harus dianalisis secara. etnografis, sehingga didapatkan makna‑makna kulturalnya, baik dengan memakai teori maupun metode ilmiah.

Menurut Janet Adshead dalarn bukunya Dance Analysis: Theory and Practice (London, Dance Book, 1988:6) penelitian terhadap tari pada perkembangan sekarang ini memerlukan bantuan disiplin lainnya, seperti: antropologi, sejarah, psikologi, sosiologi, teologi, dan lainnya. Disiplin-­disiplin ini sangat membantu untuk memahami tari dalarn konteks yang lebih luas, serta menjelaskan fungsi‑fungsinya dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.

Kajian Pertunjukan Budaya atau Antropologi Teater

Kajian pertunjukan (performance study) adalah sebuah disiplin (ilmu) yang relatif baru, yang dalam pendekatan saintifiknya berdasar kepada interdisiplin atau multidisiplin ilmu, yaitu mempertemukan antara lain antropologi, kajian teater, antropologi tari atau etnologi tari, etnomusikologi, folklor, semiotika, sejarah, linguistik, koreografi, kritik sastra, dan lainnya. Dua orang tokoh terkernuka pada disiplin ini adalah Victor Turner (antropolog) dan Richard Schechner (aktor, sutradara teater, pakar pertunjukan, dan editor majalah The Drama Review).

Sasaran kajian pertunjukan tidak terbatas kepada pertunjukan yang dilakukan di atas panggung saja, tetapi juga yang terjadi di luar panggung, seperti olah raga, permainan, sirkus, karnaval, perjalanan ziarah, nyekar, dan upacara. Dia menulis buku yang terkenal From Ritual to Theater On the Edge of the Bush: Anthropology as Experience, The Anthropology of Performance, dan The Anthropology of Experience. Buku yang terakhir ini, disuntingnya bersarna Victor Turner dan Edward M. Bruner tahun 1982 setahun sebelum ia meninggal dunia. Pada karya‑karyanya tersebut secara saintifik Schechner dan Turner tampaknya menawarkan pentingnya pendekatan pengalaman, pragmatik, praktik, dan pertunjukan dalarn mengkaji kesenian. Tentunya pendekatan ini diperlukan berdasarkan asumsi dasar bahwa pengalarnan yang kita alami tidak hanya dalam bentuk verbal tetapi juga dalam bentuk imajinasi dan impresi (kesan). Keseluruhan disiplin pertunjukan budaya di atas umumnya mendasarkan kajianya pada pendekatan ilmiah dengan menggunakan teori­-teori.

Pengembangan Teori dalam Etnomusikologi dan Ilmu-ilmu Seni

Sebagai disiplin ilmu dengan pendekatan-pendekatan ilmiah, maka etnomusikologi dan ilmu-ilmu seni lain seperti etnokoreologi, musikologi, antropologi teater, ilmu seni rupa, pengkajian seni pertunjukan, pengakajian seni rupa, dan lainnya perlu mengembangkan teori dan metode. Pengembangan ini mutlak diperlukan sebagai respons perubahan zaman dan keilmuan yang pasti terjadi secara terus-menerus.

Ilmu pengetahuan (sains) adalah suatu disiplin yang mempunyai tahap‑tahap dan prosedur tertentu, yang sering disebut dengan pendekatan ilmiah. Di antaranya adalah: rasionalisme, empirisme, determinisme, hipotesis dan pembuktian, asumsi, pengamatan, penelitian, dan lainnya.[xix]  Teknik yang dikenal dengan metode ilmiah sangat didasarkan kepada akal sehat.  Model penelitiannya berjalan mengikuti lngkah-langkah seperti berikut: (a) identifikasi variabel yang dipelajari; (b)  satu hipotesis mengenai hubungan satu variabel terhadap yang lainnya atau terhadap satu situasi; (c) suatu uji realitas di mana hubungan hipotesis diukur dengan suatu hasil penelitian; (d) suatu evaluasi hubungan yang terukur dibandingkan dengan hipotesis awalnya, dan dikembangkannya generalisasi-generalisasi; dan (e) saran-saran mengenai keberaturan teoretis dari penemuan-penemuan, faktor-faktor yang terlibat dalam uji yang mungkin menyesatkan hasil-hasilnya, dan hipotesis-hipotesis lain yang tercetus dalam pikiran dalam konteks penelitian.[xx]

Pendekatan saintifik biasanya menggunakan teori tertentu. dalarn mengkaji fenomena alam, biologi, sosial, budaya, dan lain‑lainnya. Teori memiliki peran penting dalam pendekatan ilmiah. Dengan teori seorang ilmuwan dibekali dasar‑dasar bagaimana mencari dan mengolah data‑­sehingga didapatkan kesimpulan yang absah. Teori menurut Marckward[xxi] memiliki tujuh pengertian: (1) sebuah rancangan atau skema pikiran, (2) prinsip dasar atau penerapan ilmu pengetahuan, (3) abstrak pengetahuan yang antonim dengan praktik, (4) rancangan hipotesis untuk menangani berbagai fenornena, (5) hipotesis yang mengarahkan seseorang, (6) dalam matematika adalah teorema yang menghadirkan pandangan sistematik dari beberapa subjek, dan (7) ilmu pengetahuan tentang komposisi musik. Jadi dengan dernikian, teori berada dalam tataran ide orang, yang kebenarannya secara empiris dan rasional telah diujicoba terutama oleh pakar teori tersebut. Dalam dimensi waktu teori‑teori dari semua disiplin ilmu terus berkembang. Teori‑teori yang dipergunakan dalam mengkaji tari, musik, teater/pertunjukan, seni rupa, diambil dari berbagai disiplin atau dikembangan sendiri secara khas, seperti beberapa contoh yang dikemukakan berikut ini.

Berikut ini akan dideskripsikan teori-teori dan metode yang lazim digunakan dalam etnomusikologi dan ilmu-ilmu seni. Kemudian penulis menawarkan pengembangan-pengembangannya ke masa depan, yang pasti dibutuhkan oleh disiplin-disiplin ini. Pengembangan tentu harus dilatarbelakangi oleh dasar filsafat terbentuknya ilmu ini, dan selain itu juga perlunya latar belakang teori-teori yang pernah ada dan yang tetap digunakan hingga ke hari ini.

Semiotika

Pendekatan untuk mengkaji seni, salah satunya mengambil teori semiotika dalam rangka usaha untuk memahami bagaimana makna diciptakan dan dikomunikasikan melalui sistern simbol yang membangun sebuah peristiwa seni. Dua tokoh perintis semiotika adalah Ferdinand de Saussure seorang ahli bahasa dari Swiss dan Charles Sanders Peirce, seorang filosof dari Amerika Serikat. Saussure melihat bahasa sebagai sistem yang membuat lambang bahasa itu terdiri dari sebuah imaji bunyi (sound image) atau signifier yang berhubungan dengan konsep (signified). Setiap bahasa mempunyai lambang bunyi tersendiri.

Peirce juga menginterpretasikan bahasa sebagai sistem larnbang, tetapi terdiri dari tiga bagian yang saling berkaitan: (1) representatum, (2) pengamat (interpretant), dan (3) objek.  Dalarn kajian kesenian berarti kita harus memperhitungkan peranan seniman pelaku dan penonton sebagai pengamat dari lambang‑lambang dan usaha kita untuk memahami proses pertunjukan atau proses penciptaan. Peirce membedakan lambang‑lambang ke dalarn tiga kategori: ikon, indeks, dan simbol. Apabila larnbang itu menyerupai yang dilambangkan seperti foto, maka disebut ikon. Jika larnbang itu menunjukkan akan adanya sesuatu seperti tirnbulnya asap akan diikuti api, disebut indeks. Jika larnbang tidak menyerupai yang dilambangkan, seperti burung garuda melambangkan negara Republik Indonesia, maka disebut dengan simbol.

Dengan mengikuti pendekatan semiotika, maka dua pakar pertunjukan budaya, Tadeuz Kowzan dan Patrice Pavis dari Perancis, mengaplikasikannya dalam pertunjukan. Kowzan menawarkan 13 sistern lambang dari sebuah pertunjukan teater–8 berkaitan langsung dengan pemain dan 5 berada di luarnya. Ketiga belas lambang itu adalah: kata‑kata, nada bicara, mirnik, gestur, gerak, make‑up, gaya rarnbut, kosturn, properti, setting, lighting, musik, dan efek suara.

Pavis menyusun daftar pertanyaan yang lebih lugas dan detil untuk mengkaji sebuah pertunjukan. Pertanyaan‑pertanyaannya menekankan perlunya dijelaskan bagaimana makna dibangun dan mengapa demikian. Pertanyaan ini menekankan pentingnya sebuah proses pertunjukan. Adapun pertanyaan‑pertanyaan itu adalah yang mencakup: (1) diskusi umum tentang pertunjukan, yang meliputi: (a) unsur‑unsur apa yang mendukung pertunjukan, (b) hubungan antara sistem‑sistem pertunjukan, (c) koherensi dan inkoherensi, (d) prinsip‑prinsip estetis produksi, (e) kendala‑kendala  apa yang dijumpai tentang produksi seni, apakah momennya kuat, lernah, atau membosankan; (2) skenografi, yang meliputi: (a) bentuk ruang pertunjukan‑‑mencakup: arsitektur, gestural, keindahan, imitasi tata ruang, (b) hubungan. antara tempat penonton dengan panggung pertunjukan, (c) sistem pewarnaan dan konotasinya., (d) prinsip‑prinsip organisasi ruang yang meliputi hubungan antara on‑stage dan off‑stage dan keterkaitan antara ruang yang diperlukan dengan gambaran panggung pada teks drama; (3) sistem tata cahaya; (4) properti panggung: tipe, fungsi, hubungan antara ruang dan para pemain; (5) kostum: bagaimana mereka mengadakannya serta bagaimana hubungan kostum antar pernain; (6) pertunjukan: (a) gaya. individu atau konvensional, (b) hubungan antara pernain dan kelompok, (c) hubungan antara. teks yang tertulis dengan yang dilakukan, antara pernain dan peran, (d) kualitas gestur dan mimik, (e) bagaimana dialog dikembangkan; (7) fungsi musik dan efek suara; (8) tahapan pertunjukan: (a) tahap keseluruhan, (b) tahap‑tahap tertentu sebagai sistem tanda seperti tata cahaya, kostum, gestur, dan lain‑lain, tahap pertunjukan yang tetap atau berubah tiba‑tiba; (9) interpretasi cerita dalam pertunjukan: (a) cerita apa yang akan dipentaskan, (b) jenis dramaturgi apa yang dipilih, (c) apa yang menjadi ambiguitas dalam pertunjukan dan poin‑poin apa yang dijelaskan, (d) bagaimana struktur plot, (e) bagaimana cerita dikonstruksikan oleh para pemain dan bagaimana pementasannya, (f) termasuk genre apakah teks dramanya; (10) teks dalam pertunjukan: (a) terjemahan skenario, (b) peran yang diberikan. teks drama dalam produksi, (c) hubungan antara teks dan imaji; (11) penonton: (a) di mana pertunjukan dilaksanakan, (b) prakiraan penonton tentang apa yang akan terjadi dalam pertunjukan, (c) bagaimana reaksi penonton, dan (d) peran penonton dalam konteks menginterpretasikan makna‑makna; (12) bagaimana mencatat produksi pertunjukan secara teknis, (b) imaji apa yang menjadi fokus; (13) apa yang tidak dapat diuraikan dari tanda‑tanda pertunjukan: (a) apa yang tidak dapat diinterpretasikan dari sebuah pertunjukan, (b) apa yang tidak dapat direduksi tentang tanda dan makna pertunjukan (dan mengapa), (14) apakah ada masalah‑masalah khusus yang perlu dijelaskan, serta berbagai komentar dan saran lebih lanjut untuk. melengkapi sejumlah pertanyaan dan memperbaiki produksi pertunjukan.[xxii]

Menurut Encylopedia Brittanica pengertian dari semiotika itu adalah seperti yang dijabarkan berikut ini.

 Semiotic also called  Semiology,  the study of signs and sign-using behaviour. It was defined by one of its founders, the Swiss linguist Ferdinand de Saussure, as the study of “the life of signs within society.” Although the word was used in this sense in the 17th century by the English philosopher John Locke, the idea of semiotics as an interdisciplinary mode for examining phenomena in different fields emerged only in the late 19th and early 20th centuries with the independent work of Saussure and of the American philosopher Charles Sanders Peirce.

Peirce’s seminal work in the field was anchored in pragmatism and logic. He defined a sign as “something which stands to somebody for something,” and one of his major contributions to semiotics was the categorization of signs into three main types: (1) an icon, which resembles its referent (such as a road sign for falling rocks); (2) an index, which is associated with its referent (as smoke is a sign of fire); and (3) a symbol, which is related to its referent only by convention (as with words or traffic signals). Peirce also demonstrated that a sign can never have a definite meaning, for the meaning must be continuously qualified.

Saussure treated language as a sign-system, and his work in linguistics has supplied the concepts and methods that semioticians apply to sign-systems other than language. One such basic semiotic concept is Saussure’s distinction between the two inseparable components of a sign: the signifier, which in language is a set of speech sounds or marks on a page, and the signified, which is the concept or idea behind the sign. Saussure also distinguished parole, or actual individual utterances, from langue, the underlying system of conventions that makes such utterances understandable; it is this underlying langue that most interests semioticians.

This interest in the structure behind the use of particular signs links semiotics with the methods of structuralism (q.v.), which seeks to analyze these relations. Saussure’s theories are thus also considered fundamental to structuralism (especially structural linguistics) and to poststructuralism.

Modern semioticians have applied Peirce and Saussure’s principles to a variety of fields, including aesthetics, anthropology, psychoanalysis, communications, and semantics. Among the most influential of these thinkers are the French scholars Claude Lévi-Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault, Jacques Derrida, Roland Barthes, and Julia Kristeva.[xxiii]

Semiotika atau semiologi adalah kajian teradap tanda-tanda (sign)  serta tanda-tanda yang digunakan dalam perilaku manusia.  Definisi yang sama pula dikemukakan oleh salah seorang pendiri teori semiotika, yaitu pakar linguistik dari Swiss Ferdinand de Sausurre. Menurutnya semiotika adalah kajian mengenai “kehidupan tanda-tanda dengan masyarakat yang menggunakan tanda-tanda itu.”  Meskipun kata-kata ini telah dipergunakan oleh filosof Inggris abad ke-17 yaitu John Locke, gagasan semiotika sebagai sebuah modus interdisiplin ilmu, dengan berbagai contoh fenomena yang berbeda dalam berbagai lapangan studi, baru muncul ke permukaan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika munculnya karya-karya Sausurre dan karya-karya seorang filosof Amerika Serikat, Charles Sanders Peirce.

Dalam karya awal Peirce di  lapangan semiotika ini, ia menumpukan perhatian kepada pragmatisme dan logika.  Ia mendefinisikan tanda sebagai “sesuatu yang mendukung seseorang untuk sesuatu yang lain.”  Salah satu sumbangannya yang besar bagi semiotika adalah pengkategoriannya mengenai  tanda-tanda ke dalam tiga tipe, yaitu: (a) ikon, yang disejajarkan dengan referennya (misalnya jalan raya adalah tanda untuk jatuhnya bebatuan);  (b) indeks, yang disamakan dengan referennya (asap adalah tanda adanya api); dan (c) simbol, yang berkaitan dengan referentnya dengan cara penemuan (seperti dengan kata-kata atau signal trafik).

Secara saintifik, istilah semiotika berasal dari perkataan Yunani semeion.  Panuti Sudjiman dan van Zoest[xxiv]  menyatakan bahwa semiotika berarti tanda atau isyarat dalam satu sistem lambang yang lebih besar.  Manakala bidang pragmatik mengkaji kesan penggunaan lambang terhadap proses komunikasi.  Dengan menggunakan pendekatan semiotika, seseorang boleh menganalisis makna yang tersurat dan tersirat di balik penggunaan lambang dalam kehidupan manusia sehari-hari. Semiotika dapat menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan lambang, termasuk: penggunaan lambang, isi pesan, dan cara penyampaiannya.[xxv]   Dalam semiotika terdapat hubungan tiga segi antara lambang, objek, dan makna.[xxvi] Lambang itu mewakili objek yang dilambangkan. Penerima yang menghubungkan lambang dengan objek dan makna, disebut interpretan, yang berfungsi sebagai perantara antara lambang dengan objek yang dilambangkan.  Oleh karena itu, makna  lambang hanya terwujud dalam pikiran interpretan, selepas saja  interpretan menghubungkaitkan lambang dengan objek.

Dalam konteks kajian musik, terdapat beberapa makna musik.  Salah satu yang fundamental adalah bahwa tanda dan objek menghadirkan sebuah keterhubungan identitas.  Bahwa tanda musikal adalah murni sebagai sebuah ikon.  Bagaimanapun, musik memiliki kapasistas tanda.  Beberapa ahli estetika musik, seperti Eduard Hanslick[xxvii] dan para komposer seperti Pierre Boulez,[xxviii] dan John Cage,[xxix]  mengemukakan bahwa estetika musik itu sangat bergantung kepada modus signifikasi.  Sehingga ide musik murni atau musik absolut tak mungkin terwujud dalam membicarakan musik dalam kebudayaan.  Setiap tradisi musik di dunia ini memiliki asas dan konsepsi estetika yang berlainan.

Pentingnya mengkaji berbagai tanda ikonik dalam musik juga penting.  Peirce membagi tanda-tanda ikonik dalam pelbagai imaji, diagram, dan metafora.  Imaji adalah ikon yang menghadirkan karakter objek.  Contoh musikal ikonik adalah mulai dari suara burung sampai kepada musik sesungguhnya.  Dalam analisis semiotika ini, purlu pula bagi para pengkajinya memperhatikan pada aspek metafora.  Musik adalah bidang semiotika yang kompleks, yang dapat dikaji melalui berbagai titik pandang.

Teori Fungsionalisme

Untuk mengkaji sejauh apa  fungsi komunikasi seni pertunjukan, serta bagaimana fungsi lagu dan tari dalam masyarakat, biasanya digunakan teori fungsionalisme.  Menurut Lorimer et  al., teori   fungsionalisme   adalah  salah  satu   teori   yang dipergunakan  pada ilmu sosial, yang menekankan pada  saling ketergantungan  antara  institusi-institusi (pranata-pranata) dan  kebiasaan-kebiasaan   pada  masyarakat  tertentu.   Analisis   fungsi menjelaskan   bagaimana   susunan   sosial   didukung   oleh fungsi institusi-institusi seperti: negara, agama, keluarga, aliran dan pasar terwujud.  Sebagai contoh, pada masyarakat yang  kompleks seperti Amerika Serikat, agama  dan  keluarga mendukung  nilai-nilai  yang  difungsikan  untuk   mendukung kegiatan   politik  demokrasi  dan ekonomi  pasar. Dalam masyarakat   yang   lebih  sederhana,   masyarakat   tribal, partisipasi   dalam   upacara  keagamaan   berfungsi   untuk mendukung  solidaritas  sosial di  antara kelompok-kelompok manusia yang berhubungan kekerabatannya.  Meskipun teori ini menjadi dasar bagi para penulis Eropa abad ke-19,  khususnya Emile  Durkheim,  fungsionalisme  secara  nyata   berkembang sebagai sebuah teori yang mengagumkan sejak dipergunakan oleh Talcott Parsons dan Robert Merton tahun 1950-an.  Teori  ini sangat  berpengaruh kepada para pakar sosiologi  Anglo-Amerika dalam dekade 1970-an. Bronislaw Malinowski dan A.  R.  Radcliffe-Brown, mengem-bangkan  teori ini di bidang antropologi,  dengan  memusatkan perhatian pada masayarakat bukan Barat.  Sejak dekade 1970-an,  teori fungsionalisme dipergunakan pula  untuk  mengkaji dinamika konflik sosial.[xxx]

Dalam bidang komunikasi, ada beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya mengenai fungsi komunikasi.  Fungsi komunikasi memperlihatkan arus gerakan yang seiring dengan masyarakat atau individu.  Komunikasi berfungsi menurut keperluan pengguna atau individu yang berinteraksi.  Oleh karena itu, fungsi komunikasi bisa dikaitkan dengan ekspresi (emosi), arahan, rujukan, puitis, fatik, dan metalinguitik yang berkaitan dengan bahasa.   Secara umum fungsi komunikasi terdiri dari empat kategori utama yaitu: (1) fungsi memberitahu, (2) fungsi mendidik, (3) memujuk khalayak mengubah pandangan, dan (4) untuk menghibur orang lain.

Fungsi untuk memberi tahu, artinya adalah melalui komunikasi berbagai konsep atau gagasan diberitahukan kepada  orang lain (penerima komunikasi), dan penerima ini menerimanya, yang kemudian dampaknya ia tahu tentang gagasan yang dikomunikasikan tersebut.  Akhirya isi komunikasi itu akan direspons oleh penerima, boleh jadi dalam bentuk perilaku, balasan, dan lainnya. Pemberitahuan ini sangat penting dalam konteks sosial kemasyarakatan.  Misalnya orang yang diberitahu bahwa salah seorang warganya meninggal dunia, melalui saluran komunikasi, seperti dalam bentuk lisan atau bukan lisan seperti bunyi bedug dengan pukulan dan irama tertentu, atau lambang-lambang, seperti bendera merah atau hijau di depan rumah, dan lainnya. Akibatnya penerima komunikasi akan menafsir pesan komunikasi dalam bentuk lisan dan bukan lisan tadi, kemudian datang bertakziah ke tempat warganya yang meninggal dunia.

Fungsi komunikasi lainnya adalah mendidik. Artinya adalah bahwa  komunikasi berperan dalam konteks pendidikan manusia.  Komunikasi menjadi saluran ilmu dari seseorang kepada orang lainnya.  Ilmu pengetahuan dipindahkan dari sesorang yang tahu kepada orang yang belum tahu.  Berkat terjadinya komunikasi maka kelestarian kebudayaan akan terus berlanjut antara generasi ke generasi, dan dampak akhirnya masyarakat itu cerdas dan dapat mengelola alam melalui ilmu pengetahuan.

Komunikasi juga berfungsi untuk mengubah pandangan  manusia atau memujuk khlayak untuk merubah pandangannya.  Melalui komunikasi, pandangan seseorang atau masyarakat dapat diubah, dari satu pandangan ke pandangan lain. Apakah pandangan yang lebih baik atau lebih buruk menurut stadar norma-norma sosial.  Dalam konteks bernegara misalnya, pandangan yang tak sesuai dengan ideologi negara akan bisa dipujuk untuk menuruti ideologi yang selaras dengan negara.  Dalam konteks ini umumnya suatu kabinet di dalam negara, membentuk departemen komunikasi, informasi, atau penerangan.  Tujuan utamanya adalah memujuk masyarakat bangsa itu untuk menurut ideologi dan program-program pembangunan yang dianut dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Fungsi komunikasi lainnya adalah menghibur orang lain.  Maksudnya adalah bahwa melalui komunikasi seorang penyampai atau sumber komunikasi akan menghibur orang lain sebagai penerima komunikasi, yang memang dalam konteks sosial diperlukan.  Fungsi komunikasi sebagai sarana hiburan ini akan dapat membantu seseorang atau sekumpulan orang terhibur dari beban sosial budaya yang dialaminya.  Hiburan ini dapat berupa rasa simpati sumber kepada penerima.  Bentuknya boleh saja seperti ungkapan verbal turut merasakan apa yang dirasakan penerima komunikasi, atau juga seperti bernyanyi, bermain musik, melawak, dan lain-lainnya.  Dengan demikian, melalui komunikasi terjadi hiburan, yang juga melegakan diri dari himpitan  dan tekanan sosial.  Demikian sekilas teori fungsionalisme komunikasi dalam seni pertunjukan.  Selanjutnya kita lihat bagaimana teori  fungsionalisme di bidang antropologi, serta bagaimana fungsi seni pertunjukan.

Teori fungsionalisme dalam ilmu antopologi mulai dikembangkan oleh seorang pakar yang sangat penting dalam sejarah teori antropologi, yaitu Bronislaw Malinowski (1884-1942).  Ia lahir di Cracow, Polandia, sebagai putera keluarga bangsawan Polandia. Ayahnya seorang guru besar dalam ilmu sastra Slavik.  Jadi tidak mengherankan apabila Malinowski memperoleh pendidikan yang kelak memberikannya suatu karir akademik juga. Tahun 1908 ia lulus dari Fakultas Ilmu Pasti dan Alam dari Universitas Cracow.  Yang menarik, selama studinya ia gemar membaca buku mengenai folklor dan dongeng-dongeng rakyat, sehingga ia menjadi tertarik kepada ilmu psikologi.  Ia kemudian belajar psikologi kepada Profesor W. Wundt, di Leipzig, Jerman.

Perhatiannya terhadap folklor menyebabkan ia membaca buku J.G. Frazer, bertajuk The Golden Bough, mengenai ilmu ghaib, yang menyebabkan ia menjadi tertarik kepada ilmu etnologi.  Ia melanjutkan belajar ke London School of Economics, tetapi karena di  Perguruan Tinggi itu tak ada ilmu folklor atau etnologi, maka ia memilih ilmu yang paling dekat kepada keduanya, yaitu ilmu sosiologi empiris.  Gurunya ahli etnologi, yaitu C.G. Seligman.  Tahun 1916 ia mendapat gelar doktor dalam ilmu itu, dengan menyerahkan dua buah karangan sebagai ganti disertasi, yaitu The Family among the Australian Aborigines (1913) dan The Native of Mailu (1913).   Kemudian ia berangkat ke Pulau Trobiand di utara Kepulauan Massim, sebelah tenggara Papua Nugini, untuk melakukan penelitian tahun 1914.   Sehabis perang dunia pertama pada tahun 1918, ia pergi ke Inggris karena mendapat pekerjaan sebagai asisten ahli di London School of Economics.

Ia mulai mengembangkan suatu kerangka teori baru untuk menganalisis fungsi kebudayaan manusia, yang disebutnya dengan teori fungsional tetang kebudayaan, atau a functional theory of culture.  Ia kemudian mengambil keputusan untuk menetap di Amerika Serikat, ketika ia ditawari untuk menjadi guru besar antropologi di University Yale tahun 1942.  Sayang tahun itu juga ia meninggal dunia.  Buku mengenai teori fungsional yang baru yang telah ditulisnya, diredaksi oleh muridnya H. Cairns dan menerbitkannya dua tahun selepas itu (Malinowski 1944).

Pemikiran Malinowski mengenai syarat-syarat metode etnografi berinteraksi secara fungsional yang dikembangkannya dalam berbagai kuliahnya.  Isinya adalah tentang metode-metode penelitian lapangan.   Dalam masa penulisan ketiga buku etnografi mengenai kebudayaan Trobiand selanjutnya, menyebabkan konsepnya mengenai fungsi sosial  adat, perilaku manusia, dan pranata-pranata sosial, menjadi lebih mantap.  Ia membedakan fungsi sosial dalam tiga tingkat abstraksi yaitu:

(1)       Fungsi sosial suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh atau efeknya terhadap adat, perilaku manusia, dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat;

(2)       Fungsi sosial suatu adat, pranata sosial, atau usur kebudayaan pada tingkat abstraksi kedua mengenai pengaruh atau efeknya terhadap keperluan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang terlibat;

(3)       Fungsi sosial suatu adat atau pranata sosial pada tingkat abstraksi ketiga mengenai pengaruh atau efeknya terhadap keperluan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi suatu sistem sosial tertentu.

Malinowski juga mengemukakan teori fungsional tentang kebudayaan.  Kegemaran Malinowski terhagap ilmu psikologi juga tampak ketika ia mengujungi University Yale di Amerika Serikat selama setahun, pada tahun 1935.  Di sana ia berteu dengan ahli-ahli psikologi seperti J. Dollard, yag ketika itu sedang mengembangkan serangkaian penelitian mengenai proses belajar.  Menurut sarjana psikologi dari Yale itu, asas dari proses belajar adalah tidak lain dari ulangan-ulangan  dari reaksi-reaksi suatu organisme terhadap gejala-gejala dari luar dirinya, yang terjadi sedemikian rupa  sehingga salah satu keperluan naluri dari organisme tadi dapat dipuaskan.  Teori belajar, atau learning theory, ini sangat menarik perhatian Malinowski, sehingga dipakainya untuk memberi asas pasti bagi pemikirannya terhadap hubungan-hubungan berfungsi dari unsur-unsur sebuah kebudayaan.

Seperti telah diuraikan di atas, saat Malinowski awal kali menulis karangan-karangannya tentang pelbagai aspek masyarakat orang Trobiand sebagai kebulatan, ia tidak sengaja mengenalkan pandangan yang baru dalam ilmu antropologi.  Namun reaksi dari kalangan ilmu itu memberinya dorongan untuk mengembangkan suatu teori tentang fungsi dari unsur-usur kebudayaan manusia.  Dengan demikian, dengan menggunakan learning theory sebagai dasar, Malinowski mengembangkan teori fungsionalismenya, yang baru terbit selepas ia meninggal dunia. Bukunya bertajuk A Scientific Theory of Culture and Other Essays (1944).  Dalam buku ini Malinowski mengembangkan teori tentang fungsi unsur-unsur kebudayaan yang sangat kompleks.  Namun inti dari teori itu adalah pendirian bahwa segala kegiatan kebudayaan itu sebenarnya  bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah keperluan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.  Kesenian sebagai contoh dari salah satu unsur kebudayaan, terjadi karena manusia ingin memuaskan keperluan nalurinya akan keindahan; ilmu pengetahan juga timbul karena keperluan naluri manusia untuk ingin tahu; teknologi muncul karena keperluan manusia akan peralatan yang mempermudah hidupnya; organisasi sosial timbul karena manusia ingin hiduop berkelompok untuk menuju cita-cita bersama, dan seterusnya.  Namun banyak juga kegiatan kebudayaan terjadi karena kombinasi dari beberapa macam human needs itu.  Dengan faham ini, kata Malinowski, seseorang peneliti boleh mengkaji dan menerangkan banyak masalah dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia.

Menurut penjelasan Ihromi[xxxi]  Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme, yang ditulis Malinowski dalam artikel  bertajuk “The Group and the Individual in Functional Analysis”,  dalam jurnal American Journal of Sociology, jilid 44 (1939), hal. 938-964.  Dalam artikel ini Malinowski  beranggapan atau berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu terdapat.  Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan menyatakan bahwa setiap pola kelakuan yang telah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bahagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, yang memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan.  Menurut Malinowski, fungsi dari  satu unsur budaya adalah kemampuannya untuk memenuhi beberapa keperluan dasar atau  beberapa keperluan yang timbul dari keperluan dasar yaitu keperluan sekundari dari para warga suatu masyarakat.  Keperluan pokok atau asas adalah seperti makanan, reproduksi (melahirkan keturunan), merasa enak badan (bodily comfort), keamanan, kesantaian, gerak, dan pertumbuhan.  Beberapa aspek dari kebudayaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar itu.  Untuk memenuhi kebutuhan dasar ini, muncul keinginan jenis kedua (derived needs), keinginan sekunder yang juga harus dipenuhi oleh kebudayaan.  Misalnya unsur kebudayaan yang memenuhi keinginan akan makanan menimbulkan keinginan sekunder untuk kerja sama dalam mengumpulkan makanan atau yang untuk diproduksi.  Untuk ini masyarakat mengadakan bentuk-bentuk organisasi politik dan pengawasan sosial, yang akan menjamin kelangsungan kewajiban kerjasama itu.   Sehingga menurut pandangan Malinowski mengenai kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat.

Malinowski percaya bahwa pendekatan fungsional mempunyai sebuah nilai praktis yang penting.  Pengertian nilai praktis ini dapat dimanfaatkan oleh mereka yang bergaul dengan masyarakat primitif.  Ia menjelaskan sebagai berikut: “nilai praktis teori fungsionalisme ini adalah teori ini mengajar kita tentang kepentingan relatif dari berbagai kebiasaan yang beraneka ragam; bagaimana kebiasaan-kebiasaan itu tergantung satu dengan yang lainnya, bagaimana harus dihadapi oleh para penyiar agama, oleh penguasa kolonial, dan oleh mereka yang secara ekonomi mengekploitasi perdagangan dan tenaga orang-orang masyarakat primitif.”[xxxii]

Selain Malinowski pakar teori fungsionalisme dalam ilmu antropologi lainnya adalah Arthur Reginald Radcliffe-Brown.  Seperti Malinowski, ia mendasarkan teorinya mengenai perilaku manusia pada konsep fungsionalisme.  Namun berbeda dengan Malinowski, Radcliffe-Brown merasa bahwa berbagai aspek perilaku sosial, bukanlah berkembang untuk memuaskan keinginan individual, tetapi justeru timbul untuk mempertahankan strukur sosial masyarakat.  Struktur sosial sebuah masyarakat adalah keseluruhan jaringan dari hubungan-hubungan sosial yang ada[xxxiii] (Radcliffe-Brown 1952).

Sebuah contoh nyata pendekatan yang  bersifat struktural-fungsional dari Radcliffe-Brown adalah kajiannya mengenai cara penanggulangan ketegangan sosial yang terjadi di antara orang-orang yang terikat karena faktor perkawinan, yang terdapat dalam pelbagai masyarakat yang berbeda.  Untuk mengurangi kemungkinan ketegangan antara orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan karena perkawinan, misalnya orang beripar, atau berbesanan.  Ia menjelaskan bahwa masyarakat boleh melakukan satu dari dua cara sebagai berikut: pertama dibuat peraturan yang ketat yang tidak membuka kesempatan betemu muka antara orang yang mempunyai hubungan ipar atau mertua seperti halnya pada suku Indian Navajo di Amerika Serikat, yang melarang seorang menantu laki-laki bertemu muka dengan mertua perempuannya.  Kemudian, yang kedua, hubungan itu dianggap sebagai hubungan berkelakar seperti yang terdapat pada orang-orang Amerika kulit putih yang mengenal banyak lelucon tentang ibu mertua.  Dengan begitu, konflik antara anggota keluarga dapat dihindarkan dan norma budaya, yaitu aturan ketat pada orang Navaho dan lelucon pada orang kulit putih Amerika, berfungsi dalam menjaga solidaritas sosial masyarakatnya.  Demikian sekilas tentang teori fungsionalisme yang lazim digunakan di bidang antropologi.

Teori Evolusi

Selain itu dalam seni pertunjukan lazim pula dipergunakan pula teori evolusi. Pada dasarnya, teori evolusi menyatakan bahwa unsur kebudayaan berkembang sejalan dengan perkembangan ruang dan waktu, dari yang berbentuk sederhana menjadi lebih kompleks. Teori ini dalam kesenian banyak digunakan untuk mengkaji sejarah seni. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Wan Abdul Kadir dari Malaysia dalam tulisannya. yang berjudul Budaya Popular dalam Masyarakat Melayu Bandaran (1988), yang mengkaji perkembangan kebudayaan Melayu dari masa kerajaan Melayu Melaka sampai akhir Perang Dunia Kedua‑‑yaitu terdiri dari masa Kerajaan Melayu Melaka 1400‑an berkembang ke masa pendudukan Pulau Pinang oleh Inggris tahun 1786, pembukaan Singapura 1819, Pernerintahan Kolonial sampai 1874, 1880‑an pertumbuhan teater bangsawan, 1908 film, 1914 piringan hitam, 1930 film Melayu, dan 1930‑an radio. Wan Abdul Kadir melihat perkembangan budaya masyarakat Melayu dari yang sederhana ke yang lebih kompleks dalam batasan waktu tahun 1400‑an sampai pertengahan abad ke‑20 dan berdasarkan penemuan teknologi baru.

Teori Difusi

Teori difusi juga dipergunakan dalam mengkaji seni.  Pada prinsipnya, teori ini mengemukakan bahwa suatu kebudayaan dapat menyebar ke kebudayaan lain melalui kontak budaya. Karena teori ini berpijak pada alasan adanya suatu sumber budaya, maka ia sering disebut juga dengan teori monogenesis (lahir dari suatau kebudayaan). Lawannya adalah teori poligenesis, yang menyatakan bahwa beberapa kebudayaan mungkin saja memiliki persamaan‑persamaan baik ide, aktivitas, maupun benda. Tetapi sejumlah persamaan itu bukanlah menjadi alasan adanya satu sumber kebudayaan. Bisa saja persamaan itu muncul secara kebetulan, karena ada unsur universal dalarn diri manusia. Misalnya bentuk dayung perahu hampir sama di mana‑mana di dunia ini. Namun itu tidak berarti bahwa ada satu sumber budaya pembentuk dayung perahu. Katakanlah dayung perahu berasal dari China Selatan. Teori ini banyak dipergunakan oleh para pengkaji seni yang mencoba mencari adanya sebuah sumber budaya. Dalarn kajian seni, misalnya sebagian besar peneliti percaya bahwa zapin berasal dari Yaman. Hal ini didukung oleh fakta‑fakta sejarah, dan bukti-bukti peninggalannya di Yaman sekarang ini, dan persebaran kesenian ini ke berbagai kawasan di Nusantara.

Teori Pergerakan Sosial dan Perilaku Kolektif

Dalam karyanya yang bertajuk Protest Movements in Rural Java (1973), Sartono Kartodirdjo mempergunakan sebahagian kerangka analitis yang pernah dikemuakan Landsberger dalam “The Role of Peasant Movements and Revolts in Development: An Analitical Framework” dalam Landsberger (ed.) Latin American Movements (1968) untuk memahami asal-usul, perkembangan, dan berbagai dampak pergerakan yang bersifat protes sosial.  Dalam semua kasus yang kompleks, faktor-faktor harus dikaji, serta fenomena keresahan sosial hanya dapat dijelaskan melalui kombinasi sebab-sebab yang terpisah.  Aspek-aspek analitis yang merupakan kerangka penelitian Kartodirdjo adalah: (a) struktur politik ekonomi pedesaan Jawa abad ke-19 dan 20; (b) basis massa pergerakan sosial; (c) kepemimpinan pergerakan-pergerakan sosial; (d) ideologi-ideologi pergerakan; dan (e) dimensi budaya yang bersifat mendorong pergerakan sosial (cultural conduciveness).  Dari sembilan butir hal yang dikemukakan Landsberger hanya empat yang diambilnya, yaitu: (a) peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya; (b) sekutu-sekutu dan musuh-musuh gerakan tani; (c) cara-cara aksi gerakan tani; (d) gerakan sebagai organisasi; dan (e) pemikiran mengenai berhasil serta gagalnya gerakan tani dan dampaknya.

Sebuah pendekatan ilmu sejarah lainnya adalah menggunakan teori perilaku kolektif atau dalam bahasa Inggris disebut collective behaviour.  Contoh aplikasi ini dalam tulisan sejarah adalah apa yang ditulis oleh Ibrahim Alfian, yang mengkaji peperangan yang berlangsung antara kerajaan Aceh melawan kerajaan Belanda 1873-1912.  Buku yang ditulis Ibrahim Alfian bertajuk Perang di Jalan Allah (1987).  Teori perilaku kolektif ini ia adopsi dari tulisan sosiolog Amerika Serikat, Neil J. Smelser, dalam buku yang berjudul Theory of Collective Behaviour, 1962.

Teori Siklus Kuint dan Lainnya

Dalam mengkaji timbulnya tangga nada di dunia ini, para etnomusikolog telah mencapai tahap generalisasi, dengan menggunakan teori siklus kuint (overblown fifth). Dari bahan‑bahan sejarah di China ditemui bahwa untuk membentuk sebuah tangga nada, seorang rajanya bernama Huang Ti memerintahkan memotong bambu dalam ukuran‑ukuran tertentu berdasarkan siklus interval kuint dengan rasio matematis 3/4 dan 2/3. Di Yunani‑Romawi, India, serta Timur Tengah, tangga nada diturunkan dari alat‑alat musik bersenar dengan membagi rasio panjangnya senar. Sehingga didapati tangga nada heptatonik (7 nada) yang dibagi ke dalam dua tetrakord (kumpulan empat nada tangga nada). Tangga nada jenis ini dianalisis dalam teori devisif.

Para pengkaji seni yang meminati upacara‑upacara terutama kematian, selalu menggunakan teori rites de passages yang ditawarkan oleh antropolog Van Gennep. Bahwa sebuah kematian manusia adalah dalam kondisi transisi dari suatu dunia ke dunia lain.  Para etnomusikolog juga dalam mengkaji struktur musik sering menggunakan teori kantometrik, yaitu sebuah teori “general” untuk melihat bagaimana struktur umum budaya musik yang diteliti melalui 37 jenis parameter dimensi ruang dan waktu dalarn musik. Selain itu juga dipergunakan teori weighted scale, yang melihat unsur‑unsur pembentuk melodi, seperti: tangga nada, wilayah nada, jumlah nada , interval, kontur, formula, dan lainnya (lihat Malm 1977). Para etnolog tari, dalam mengkaji struktur tari juga selalu menggunakan teori koreometrik, yang sama dasarnya dengan kantometrik namun dipergunakan untuk mengkaji struktur tari. Unsur‑unsur tari yang dibahas di antaranya: waktu, ruang, dan tenaga.

Selain dari teori‑teori ilmu sosial dan humaniora dalam kajian seni tak kalah pentingnya juga dipergunakan teori‑teori dalam ilmu eksakta. Misalnya untuk mendeskripsikan pengecoran dalam pembuatan alat‑alat musik, dipergunakan teori reduksi oksidasi (redoks) dan sejenisnya dari ilmu kimia. Atau untuk menguji aspek akustik dan timber bunyi alat‑alat musik, biasanya dipergunakan disiplin fisika gelombang. Salah satu karya monumental di bidang akustik musik adalah karya John Backus yang berjudul The Acoustical Foundation of Music (1977).

Teori‑teori yang dipergunakan dalarn mengkaji seni akan terus berkembang, scsuai dengan perkembangan pcradaban manusia di muka bumi ini. Dengan demikian, seniman dan ilmuwan seni terus ditantang untuk mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan umat manusia secara umum atau secara khusus kelompoknya.

Penutup

Etnomusikologi secara formal dan institusional adalah disiplin ilmu yang relatif baru. Namun dalam konteks sejarah ilmu-ilmu seni, ia termasuk pelopor awal. Etnomusikologi awalnya muncul di belahan bumi peradaban Barat. Kemudian ilmu ini tumbuh dan berkembang juga di wilayah Dunia Timur.  Etnomusikologi dalam konteks  ilmu pengetahuan dan filsafat, masuk ke dalam rumpun ilmu humaniora dan sosial sekali gus. Etnomusikologi juga merupakan disiplin ilmu yang menekankan kepada penelitian lapangan.

Dalam konteks ilmu-ilmu seni, etnomusikologi memiliki peran strategis. Ilmu ini sangat mewarnai ilmu-ilmu seni. Etnomusikologi yang tampil dan muncul di awal-awal sejarah perkembangan ilmu-ilmu seni, menjadi percontohan dan model bagi ilmu-ilmu seni lainnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya antara ilmuwan etnomusikologi dengan ilmu-ilmu seni seperti antropologi tari, antropologi teater, pengkajian seni pertunjukan, pengkajian seni rupa, ilmu seni rupa, bekerjasama mengkaji kebudayaan (seni) manusia. Bagaimanapun fokus kajian ilmu-ilmu seni ini agak sedikit berbeda, dan pengalamannya tentu saja berbeda. Untuk saling mengembangkan keilmuan dan daya guna dalam masyarakat mutlak diperlukan kerjasama dan saling bertukar ilmu.

Pengembangan teori juga selayaknya dilakukan terus-menerus oleh para pakar etnomusikologi. Teori ini dikembangkan berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari hasil penelitian. Teori akan sangat berguna dalam rangka memecahkan persoalan kajian atau pokok permasalahan penelitian. Teori ini juga perlu didukung oleh metode-metode dan teknik-teknik dalam proses mengembangkan disiplin etnomusikologi.

Tentang Penulis

Muhammad Takari, Dosen Fakultas Sastra USU, lahir pada tanggal 21 Desember 1965 di Labuhanbatu. Menamatkan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas di Labuhanbatu.  Tahun 1990 menamatkan studi sarjana seninya di Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya tahun 1998 menamatkan studi magister humaniora pada Program Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 2009 menyelesaikan studi S-3 Pengajian Media Komunikasi di Universiti Malaya, Malaysia.  Aktif sebagai dosen, peneliti, penulis di berbagai media dan jurnal dalam dan luar negeri.  Juga sebagai seniman khususnya musik Sumatera Utara, dalam rangka kunjungan budaya dan seni ke luar negeri.  Kini juga sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.  Kantor: Jalan Universitas No. 19 Medan, 20155, telefon/fax.: (061)8215956.  Rumah: Tanjungmorawa, Bangunrejo, Ds I, No. 40/3, Deliserdang, 20336, e-mail: mtakari@yahoo.com.


[i]Pada dasarnya, sejak di alam kandungan manusia itu telah membutuhkan keindahan. Denyut jantung dan nadi itu sendiri adalah ritme dan taktus kehidupan musikal. Gerakan-gerakan saat berada di dalam kandungan ibu, juga mencerminkan adanya konsep-konsep tarian awal dalam diri manusia. Kemudian saat lahir ia menangis sekeras-kerasnya, yang juga mengekspresikan jiwa dan raganya “terkejut” sementara lahir di dunia fana ini seperti yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya. Setelah lahir dan kemudian tmbuh dan berkembang, ia pun belajar. Dengan menggunakan unsur-unsur keindahan, seperti bernyanyi, menari, main musik, main bola, main petak umpet, dan sejenisnya, makhluk manusia muda ini lebih akan dapat menerima pendidikan yang diperoleh dari alam sekitarannya.

[ii]Tentu saja ini bukan hanya hayalan atau cita-cita yang begitu tinggi.  Bagaimanapun sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia memiliki peran strategis, baik itu politis, ekonomi, budaya, maupun ilmu pengetahuan.  Dalam berbagai perlombaan di peringkat internasional para siswa Indonesia telah berkali-kali menjadi juara. Yang baru lalu siswa menengah kita menjuarai olimpiade matematika peringkat dunia, yang diselenggarakan di New Delhi. Begitu pula Bacharuddin Jusuf Habibie, adalah mantan presiden Indonesia ketiga, yang sekaligus teknokrat penemu teori aerodinamika pesawat terbang yang digunakan di peringkat dunia. Untuk bidang etnomusikologi kemungkinan sumbangan untuk ilmu pengetahuan manusia di dunia ini juga terbuka lebar, karena faktor-faktor: Indonesia memiliki ragam budaya yang kaya. Selain itu setiap kelompok etnik memiliki ilmu pengetahuannya sendiri, yang terbukti dapat mencerahkan dari masa ke masa. Begitu pula para ilmuwan sosial, budaya, dan eksakta di Indonesia mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya bagi kesejahteraan umat manusia sejagad, bukan hanya untuk orang Indonesia saja.

[iii]Mungkin yang sangat luas menyebar dalam disiplin ini, dan hal itu juga umum terjadi di dalam antropologi.  Titik pandangan ini pada dasarnya terlindung secara alamiah, bahwa musik berbagai masyarakat di dunia ini banyak disalahgunakan dan dirugikan; misalnya kebanyakan orang Barat tidak menempatkannya sebagai dualisme; dan selanjutnya membantu etnomusikolog untuk melindunginya dari hinaan lainnya serta menerangkan dan memenangkannya dengan berbagai kemungkinan.  Dalam cara ini, etnomusikologi seperti juga antropologi, memandang dunia keseluruhannya sebagai lapangan studi dan melakukan reaksi kembali dengan disiplin yang lebih khusus, yang mengkonsentrasikan perhatian hanya terhadap fenomena budaya Barat.  Titik pandangan ini muncul secara luas di dalam etnomusikologi, salah satunya mencapai pernyataan atau kesimpulan langsung.  Jaap Kunst, sebagai contoh, melakukan reaksi dengan intensitas keras kepada pandangan orang-orang Barat bahwa musik pada masyarakat lainnya adalah “tidak lebih dari sekedar inferior, peradaban yang lebih primitif, atau sebagai suatu jenis musik yang murtad.”

[iv]I Made Bandem, 2001. “Etnomusikologi Penyelamat Musik Dunia,” dalam Selonding: Jurnal Etnomusikologi Indonesia. Yogyakarta: Masyarakat Etnomusikologi Indonesia. Volume 1 tahun 1. h. 1-2.

[v]Kesadaran tentang kesamaan hak dan kewajiban antara seiap warga negara dalam negara bangsa ini, dalam sejarah politik Amerika Serikat telah dibuktikan pada tahun 2009 ini, ketika seorang keturunan kulit hitam (ibunya kulit putih) yaitu Barack Obama Husin menjadi presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Beberapa dasawarsa sebelumnya seorang Katolik yaitu John Fitzgerald Kennedy menjadi presiden Amerika Serikat, yang mungkin kedua kondisi in tak pernah terbayangkan di era-era sebelumnya. Bagaimanapun secara normatif, yang menjadi presiden Amerika Serikat seharusnya adalah  Anglosakson  kulit putih dan beragama Protestan.

[vi]Silahkan lihat lebih jauh Alan P. Merriam, 1964. The Anthropology of Music. Chicago: North Western University Press.

[vii]Yuyun S. Suria Sumantri, Ilmu dalam Perpektif, Yayasan Obor dan Leknas LIPI, Jakarta, 1984, h. 4.

[viii]Lebih lanjut lihat Norman K. Denzim dan Yvonna S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative Research, Sage Publications, Thousand Oaks, London dan New Delhi, 1995.

[ix]Silahkan lihat lebih jauh Alan P. Merriam, op. cit. 1964. h. 3-4.  Buku ini menjadi “bacaan wajib dan mendasar” bagi para pelajar etnomusikologi seluruh dunia, dengan pendekatan kebudayan, fungsionalisme, strukturalisme, sosiologis, dan lain-lainnya.

[x]R. Supanggah, 1995. Etnomusikologi. Surakarta: Yayasan bentang Budaya, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.  Buku ini merupakan kumpulan enam tulisan  oleh empat pakar etnomusikologi (Barat) seperti: Barbara Krader, George List, Alan P. Merriam,  dan K.A. Gourlay; yang dialihbahasakan oleh Santosa dan Rizaldi Siagian.  Dalam buku ini Alan P. Merriam menulis tiga artikel, yaitu: (a)  “Beberapa Definisi tentang ‘Musikologi Komparatif’ dan ‘Etnomusikologi’: Sebuah Pandangan Historis-Teoretis,” (b) “Meninjau Kembali Disiplin Etnomusikologi,” (c) “Metode dan Teknik Penelitian dalam Etnomusikologi.”  Sementara Barbara Krader menulis artikel yang bertajuk “Etnomusikologi.” Selanjutnya George List menulis artikel “Etnomusikologi: Definisi dalam Disiplinnya.”  Pada akhir tulisan ini K.A. Gourlay menulis artikel yang berjudul “Perumusan Kembali Peran Etnomusikolog di dalam Penelitian.”  Buku ini barulah sebagai alihbahasa terhadap tulisan-tulisan etnomusikolog (Barat).  Ke depan, dalam konteks Indonesia diperlukan buku-buku panduan tentang etnomusikologi terutama yang ditulis oleh anak negeri, untuk kepentingan perkembangan disiplin ini.  Dalam ilmu antropologi telah dilakukan penulisan buku seperti Pengantar Ilmu Antropologi yang ditulis antropolog Koentjaraningrat, diikuti oleh berbagai buku antropologi lainnya oleh para pakar generasi berikut seperti James Dananjaya, Topi Omas Ihromi, Parsudi Suparlan, Budi Santoso, dan lain-lainnya.

[xi]Marius Schneider, 1957. “Primitive Music,” dalam  Egon Weller (ed.), Ancient and Oriental Music. London: Oxford University Press. h. 1-22.

[xii] Bruno Nettl, 1956. Music in Primitive Culture. Cambridge: Cambridge University Press. h. 1.

[xiii]Mieczyslaw Kolinski, 1957. “Ethnomusicology in Problems and Methods,” dalam  Ethnomusicology Newsletter. No 10: 1-7, h. 1-2.

[xiv]Jaap Kunst, 1959. Ethnomusicology.The Hague: Martinus Nijhoff. (Edisi Ketiga) h.1.

[xv]Mantle Hood, 1957.  Training and Playing in Ethnomusicology. Ethnomusicology Newsletter. No. 11:2-8. h. .

[xvi]Gilbert Chase, 1958. “A Dialectical Approch in Music History.” Ethnomusicology. 2:1-9. h. 7.

[xvii]Alan P.  Merriam, op. cit., 1964.

[xviii]Koentjaraningrat, 1980. Pengantar Ilmu Antropologi.  Jakarta: Rineka Cistra, h.1.

[xix]Lihat Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, 1995. Handbook of Qualitative Research. New Delhi dan London: Thousand Oaks.

[xx]Keneth R. Hoover, 1989. Unsur-unsur Pemikiran Ilmiah dalam Ilmu Sosial. (Terjemahan Hartono H.). Yogyakarta: Tiara Wacana. h. 26.

[xxi]Marckward, Albert H. et al. (eds.), 1990. Webster Comprehensive Dictionary  (volume 2). Chicago: Ferguson Publishing Company. h. 1302.

[xxii]Dalam tulisan Victor Turner dan Edward M. Bruner (eds.). 1983. The Anthropology of Performance. Urbana dan Chicago: University Illinois.

[xxiii]Encyclopedia Brittanica (versi elektronik), 2007. London.

[xxiv] Panuti Sudjiman dan Art van Zoest,  (eds.), 1992.  Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

[xxv]D.K. Berlo, 1960. The process of Communication. San Francisco: Rinenart Press. h.54.

[xxvi]Lihat tulisan-tulisan: (a) Wimal Dissanayake, 1993. Teori Komunikasi Perspektif Asia. Rahmah Hashim (penterj.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Pelancongan Malaysia; (b) Littlejohn S.W. Littlejohn, S.W. 1992. Theories of Human Communication. Ed ke-4. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company; dan (c) Barthes, 1967. Barthes, R., 1967. Elementss of Semiology. London: Jonathan Cape.

[xxvii]Eduard Hanslick, 1957. The Beautiful in Music. Edited and translated by Gustave Cohen.  New York: Liberal Arts. h. 61.

[xxviii]Eduard Hanslick, 1957. The Beautiful in Music. Edited and translated by Gustave Cohen.  New York: Liberal Arts. h. 61.

[xxix]John Cage, 1961. Silence. Middletown: Wesleyan University Press.

[xxx]Lawrence T. Lorimer et al., 1991, Grolier Encyclopedia of Knowledge (volume 1-20).  Danburry, Connecticut: Groller Incorporated. vol. 18. h.112-113.

[xxxi]Ihromi, 1987. Pokok-pokok Atropologi Budaya. Jakarta: Jambatan. h. 59-61.

[xxxii]Ibid. Keberatan utama terhadap teori fungsionalismenya Malinowski adalah bahwa teori ini tidak dapat memberi penjelasan mengenai adanya aneka ragam kebudayaan manusia.  Keinginan-keinginan  yang diidentifikasikannya, sedikit banyak bersifat universal, seperti keinginan akan makanan yang semua masyarakat harus memikirkannya kalau ingin hidup terus.  Jadi  teori  fungsionalisme memang dapat menerangkan kepada kita bahwa semua masyarakat menginginkan pengurusan soal mendapatkan makanan, namun teori ini tak dapat menjelaskan kepada kita  mengapa setiap mesyarakat berbeda pengurusannya mengenai pengadaan makanan mereka.  Dengan kata lain, teori fungsionalisme tidak menerangkan mengapa pola-pola kebudayaan tertentu timbul untuk memenuhi suatu keinginan manusia, yang sebenarnya boleh sahaja dipenuhi dengan cara yang lain yang boleh dipilih dari sejumlah alternative dan mungkin cara itu lebih mudah.

[xxxiii]Radcliffe-Brown, A.R., 1952., Structure and Function in  Primitive Society. Glencoe: Free Press.

About takarimuhammad

long live education
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s