etnomusikologiusu

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pop Batak

Studia Kultura, Nomor 10 Tahun 5 Agustus 2005 ISSN: 1412-8585

MUSIK POPULER BATAK TOBA:
KAJIAN TERHADAP ASPEK SEJARAH,
FUNGSI, DAN STRUKTUR

Muhammad Takari
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
Kebudayaan populer yang juga disebut budaya massa adalah kebudayaan yang didukung oleh masyarakat secara umum, dan biasanya berkait erat dengan teknologi dan waktu kontemporer. Termasuk salah satu budaya populer adalah musik etnik atau musik daerah, yang dalam kasusu kajian ini adalah budaya musik populer Batak Toba. Munculnya budaya musik populer Batak Toba ini sangat berkaitan erat dengan aspek sejarah, yaitu berinteraksinya musk tradisional Batak Toba dengan musik Barat, yang salah satu caranya adalah masuk melalui lembaga gereja. Budaya musik ini mempunyai berbagai fungsi seperti hiburan, enkulturasi budaya, ekonomi, estetika dan lain-lainnya. Secara struktural musik populer Batak Toba pada masa sekarang ini cenderung menggunakan tangga-tangga nada diatonik Barat, dengan teks Batak Toba, serta ensambel campuran antara musik tradisi dan musik Barat.

1. Latar Belakang
Membicarakan musik tentunya tak lengkap apabila tidak membicarakan-nya dalam konteks kebudayaan. Musik bukanlah sebuah unsur kebudayaan yang berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan erat denga aspek fungsi sosial dan hostorisnya. Musik adalah bagian dari kebudayaan yang dapat mencerminkan aspek sosial kemasyarakatan. Dikatakan seperti itu, karena musik mampu mengekspresikan berbagai hal yang terjadi dalam sistem sosial dan mempunyai fungsi yang sangat luas. Misalnya musik diadakan untuk menghibur penguasa di istana, untuk upacara pernikahan, untuk upacara yang bersifat ritual, hiburan dan lain-lain tergantung kepada konteks penyajian dan jenis musik yang dibutuhkan.
Dalam perkembangan musik saat ini, jenis musik yang paling pesat berkembang adalah jenis musik populer. Menurut Sitompul (1996:1) musik populer dapat berkembang dengan pesat karena diminati dan dimengerti oleh masyarakat dari berbagai tingkatan sosial misalnya dari kalangan bawah sampai kalangan atas khususnya generasi muda. Selain diminati dan dimengerti, segala sesuatu yang berhubungan dengan musik populer dapat dengan cepat menyebar luas di tengah-tengah masyarakat di mana penyebarluasannya melalui media seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, dan lain-lainnya.
Terbentuk dan berkembangnya sebuah unsur kebudayaan, dapat dilihat dari hasil karya yang didasari oleh ide-ide kreatif oleh tokoh-tokoh dari bidang itu, termasuk musik populer. Pada awalnya musik populer tercipta karena adanya kontak kebudayaan (culture contact). Blues merupakan budaya Afroamerika yang mempunyai ciri sinkopasi dan blue note. Kemudian unsur klasik Barat digabungkan dengan budaya Afroamerika sehingga terbentuk musik ragtime, yang kemudian berkembang menjadi jazz. Sama halnya dengan terbentuknya rock n’roll tokoh yang paling penting pada jenis musik ini adalah Elvis Presley yang mempertemukan unsur blues dan country. Demikian kontak kebudayaan itu terjadi yang didasari oleh ide-ide kreatif oleh tokoh musik sehingga terciptanya banyak jenis musik populer dewasa ini. Musik populer juga selalu memiliki hubungan dengan eksistensi bangsa atau dalam tataran yang lebih kecil adalah etnik.
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki identitas sebagai negara multietnik. Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari beragam etnik, seperti: Jawa, Bali, Madura, Sunda, Tamiang, Kluet, Aneuk Jamee, Aceh Rayeuk, Alas, Gayo, Pakpak-Dairi, Batak Toba, Simalungun, Banjar, Bawean, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Sasak, Makassar, Bugis, Ambon, Dayak (Kada¬zan, Iban, Kenyah, Modang), Asmat, Danu, Sentani, dan lainnya. Selain itu Indonesia juga dihuni oleh para pendatang dari kawasan lainnya di dunia.
Sumatera Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia, yang penduduknya dari berbagai kelompok etnik, yang secara garis besar dapat digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: (a) etnik setem¬pat, yang terdiri dari delapan kelompok etnik: Melayu, Karo, Pakpak-Dairi, Batak Toba, Simalungun, Mandailing-Angkola, Pesisir Tapanuli Tengah, dan Nias, ditambah etnik Lubu dan Siladang; (b) etnik pendatang Nusantara, seperti: Aceh, Minangkabau, Jawa, Sunda, Banjar, Makasar, Bugis, dan lainnya; (c) etnik pendatang Dunia, seperti: Hokkian, Hakka, Kwong Fu, Kanton, Benggali, Tamil, Sikh, Arab, dan lainnya. Pada masa sekarang ini penduduk Sumatera Utara berjumlah 12 juta jiwa lebih, termasuk salah satu provinsi terpadat penduduknya di Indonesia.
Etnik Batak Toba adalah salah satu etnik natif Sumatera Utara, yang daerah kebudayaannya berada di seputar danau Toba, yang kini adalah sebagai salah satu pusat industri pariwisata di Indonesia. Etnik Batak Toba pada masa sekarang ini daerah budayanya meliputi empat Kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten: (a) Tapanuli Utara, (b) Toba Samosir, (c) Samosir, dan (d) Humbang Hasundutan. Mereka memiliki berbagai kesenian, seperti sastra, tari (tortor), musik (gondang), dan rupa (gorga), dan lain-lain. Masyarakat Batak Toba ini sejak abad ke-19 telah berinteraksi secara pesat dengan peradaban Eropa dan agama Kristen Protetan khususnya dari organisasi Reinische Mission Gesselschaft (RMG) yang kemudian berubah menjadi Verenigte Evangelische Mission (VEM). Awalnya agama Protestan ini berkembang dibawa oleh Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dimasukkan berbagai unsur musik Eropa, seperti penggunaan ensambel musik tiup, penggunaan empat suara dalam paduan suara dengan teknik khordal, dan lain-lain.
Kemudian selaras dengan perkembangan teknologi, budaya musik populer Barat juga masuk ke Indonesia, termasuk Batak Toba. Mereka dengan didasari oleh pengalaman kultural sebelumnya dengan antusias mencipta lagu-lagu (musik) populer Batak Toba, dengan berbagai kreativitas dan akulturasinya dengan budaya Barat. Pada paruh pertama abad ke-20, muncullah berbagai komponis ternama dari etnik Batak Toba ini, bahkan beberapa di antaranya adalah komponis lagu-lagu nasional Indonesia, di antaranya adalah Cornel Simanjuntak, di samping itu ada Ismail Hutajulu, Nahum Situmorang, Tilhang Gultom, dan lain-lainnya. Selepas itu muncul pula berbagai komponis musik populer Batak Toba seperti Sidik Sitompul (S. Dis), Buntora Situmorang. Sementara itu muncul pula berbagai kelompok musik populer Batak Toba seperti: Trio Ambisi, Trio Amsisi, Trio Lasidos, Panjaitan Bersaudara, Nainggolan Sisters, dan lain-lain. Dalam pertunjukannya, mereka melakukan akulturasi antara budaya Barat dan Batak Toba, yang diadun sedemikian rupa menjadi budaya populer. Musik populer Batak Toba itu berkembang dengan masuknya pengaruh budaya asing dan berinteraksi dengan budaya Batak Toba. Awalnya musik populer Batak Toba dipengaruhi oleh musik gereja, yang dapat ditelusuri melalui penggunaan tangga nada diatonis (diatonic scale) nampak di dalam melodi-melodi yang diciptakan dan digunakan dalam berbagai peristiwa budaya.
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, masyarakat dan para pemusik Batak Toba banyak mendengar berbagai jenis irama, dengan media utamanya adalah radio, tape recorder, video compact disk, dan televisi. Karena seringnya mendengar musik dalam berbagai irama, para pemusik mendapatkan wawasan secara musikal, alhasil timbul keinginan para pemusik membuat sesuatu yang baru di dalam musik populer Batak Toba yang membawa musik Batak Toba itu kepada perkembangan-perkembangan.
Menurut Panggabean (1994:30-39) musik Batak Toba dapat dibuat penggolongannya kepada empat masa, yaitu: (a) tradisi, (b) transisi, (c) modernisasi, dan (d) konstilasi. Masa tradisi merupakan corak asli dari musik Batak Toba secara melodis, karena belum ada variasi-variasi dalam melodi yang dipengaruhi tradisi asing. Apabila dibandingkan dengan struktur harmoni musik Barat, lagu-lagu pada masa tradisi ini terasa lebih spesifik disebabkan oleh wilayah nada bagi melodi yang dihasilkan oleh instrumen dan tangga nada diatonis belum digunakan.
Masa transisi dalam lagu-lagu Batak Toba terjadi perkembangan dengan adanya perubahan gaya. Hal ini disebabkan masuknya pengaruh gereja, yaitu lagu-lagu di dalam gereja mengiringi saat kebaktian adalah menggunakan harmoni Barat, walaupun lirik lagunya dalam bahasa Batak Toba. Sistem harmoni Barat itu dibawa oleh para misionaris ke dalam gereja Batak. Pengaruh gereja tersebut sangat kuat di dalam lagu-lagu populer Batak Toba, hal ini dapat dilihat pada wilayah nada yang sudah berkembang pada masa ini apabila dibandingkan dengan masa sebelumnya.
Masa modernisasi merupakan masa perkembangan musik Batak Toba yang semakin maju. Salah satu faktor penyebabnya adalah semakin majunya teknologi termasuk media massa seperti radio dan piringan hitam. Hadirnya radio siaran yang resmi berdiri tanggal 16 Juli 1925 di Batavia (sekarang Jakarta), sangat menunjang perkembangan musik di tanah air termasuk musik populer Batak Toba. Musik populer Batak Toba mulai diperde-ngarkan di radio pada mulanya direkam pada bentuk piringan hitam. (Panggabean 1994:34).
Sejak maraknya musik populer dalam berbagai irama pada siaran radio, masyarakat dan pemusik Batak Toba sering mendengar berbagai macam irama seperti: chacha, jazz, rumba, waltz, tango, seriosa, dan lain-lain. Hal ini merupakan faktor pendorong bagi pemusik Batak Toba untuk membuat musik Batak Toba menjadi sesuatu yang baru, dan mencoba membuat musik Batak Toba dengan berbagai irama seperti tersebut di atas.
Masa konstelasi merupakan sebuah hasil interaksi antara corak gaya sebelumnya dengan gaya baru, corak yang sedang ada pada masa ini dalam musik populer secara umum). Masa ini muncul sejumlah pemusik baru yang mencoba memunculkan dan membuat lebih baru dari masa sebelumnya. Masa ini dapat dikatakan suatu trend baru dalam blantika musik populer Batak Toba, dikarenakan pada masa sebelumnya ada lagu-lagu yang diciptakan komponis Batak Toba saat ini, penggarapannya digabung secara tradisi dan teknologi modern. Misalnya lagu Sinanggar Tullo digarap oleh Andolin Sibuea ke dalam irama remix akan tetapi menggunakan alat musik tradisional seperti sulim Batak dan taganing (drum chime) dipadukan dengan alat instrumen modern (berasal dari kebudayaan Barat) seperti seperangkat alat band dan program keyboard synthesizer. O Tano Batak lagu ini digarap oleh Vicky Sianipar dengan bentuk rock dan dimasukkan unsur-unsur orkestra Barat.
Selain lagu-lagu lama digarap dengan bentuk komposisi baru muncul juga lagu-lagu baru di mana sistem penggarapannya mengadopsi beberapa elemen, estetika, harmoni dan juga instrumen sehingga munculnya suatu rasa baru yang lebih dinamis salah satunya instrumen saksofon, hal seperti ini dinamakan perpaduan antara beberapa kebudayaan atau cultural contact. Pengambilan elemen-elemen budaya asing dan mencoba menggabungkan dengan budaya sendiri sehingga terjadi suatu interaksi yang menghasilkan model baru dan rasa yang lebih dinamis.

2. Permasalahan Kajian
Penelitian ini diberi tajuk Musik Populer Batak Toba: Kajian Terhadap Aspek Sejarah, Fungsl, dan Struktur. Dengan demikian, dalam penelitian ini, penulis memfokuskan permasalahan kajian kepada tiga aspek utama, perkembangan musik populer Batak Toba, yaitu: (1) sejarah, (2) fungsi, dan (3) struktur. Ketiga-tiga bidang ini memiliki kaitan yang erat dalam konteks mengkaji musik populer Batak Toba. Yang dimaksud dengan kajian sejarah adalah menekankan kepada aspek ruang dan waktu yang dilalui oleh musik populer Batak Toba, mencakup seniman, masyarakat pendukung, dari masa ke masa. Untuk mengkaji masa ini dipergunakan pula pembabakan (periodesasi). Yang dimaksud fungsi di dalam penelitian ini adalah fungsi sosiobudaya, yaitu bagaimana sebuah institusi sosial sebagaimana halnya musik populer dapat menyumbangkan berbagai fungsi dalam masyarakat, misalnya hiburan, integrasi sosial, identitas budaya, dan lain-lain. Yang dimaksud struktural adalah suatu kegiatan sosiobudaya pada prinsipnya memiliki pola-pola tertentu. Misalnya musik populer Batak Toba dibentuk oleh unsur-unsur melodi dan teks. Melodi sendiri memiliki bidang-bidang seperti tangga nada, wilayah nada, kontur, dan sejenisnya. Teks terdiri dari: baris, rima (persamaan bunyi), maksud atau isi, makna konotatif, gaya bahasa, diksi, dan lain-lain. Sebelumnya diuraikan dahulu gambaran umum kesenian dalam masyarakat Batak Toba.

3. Gambaran Umum Kesenian Batak Toba
Kesenian yang ada dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba di antaranya adalah: sastra, tortor (tari), gorga (rupa), dan gondang (musik).
(1) Seni sastra yang terdapat dalam budaya Batak Toba merupakan ekspresi dari mitologi-mitologi, pelipur lara, norma-norma sosial, dan lainnya, yang muncul sesuai dengan alam pikiran manusianya yang menjadi bahan teladan dalam kehidupan. Oleh karena itu sastra ini berdasar kepada konsep budaya masyarakat Batak Toba pada umumnya. Di antara seni sastra Batak Toba itu adalah sebagai berikut: (a) tabas-tabas, yaitu semacam doa yang diucapkan oleh datu atau dukun; (b) tudosan, yaitu perumpamaan suatu benda terhadap kehidupan, dengan membandingkan pada perasaan hati; (c) turi-turian, yaitu cerita yang berbentuk legenda, misalnya legenda Siboru Deak Parujar, Tunggal Panaluan, dan lainnya; (d) umpama, yaitu sejenis pantun yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial dan keteladanan; (e) umpasa yaitu penyajian sastra yang bermakna sebagai ucapan syukur atau berkat, dan mengandung unsur pantun; (f) andung-andung yaitu penyajian untuk meratapi jenazah orang yang dikasihi; (g) huling-hulingan atau hutinsa yaitu penyajian sastra yang berbentuk teka-teki, jika ia berbentuk teka-teki cerita maka disebut dengan torhan-torhanan.
(2) Seni tortor dalam kebudayaan Batak Toba merupakan gambaran dari kehidupan, yaitu tentang tubuh manusia, norma-norma, penyembahan, dan lainnya. Secara etimologis, tortor berasal dari kata martortor (bergetar), yaitu dari suara getaran rumah adat. Rumah adat Batak Toba tidak dipaku dengan paku dari besi, tetapi diikat dengan rotan. Jadi kalau berjalan di dalam rumah sambil menghentak-hentak akan kedengaran getaran (martortor) kayu (M. Hutasoit 1976:15).
M. Hutasoit (1976:15-22) dalam bukunya yang bertajuk Gondang dohot Tortor Batak, membagi tortor ke dalam dua bagian besar: (1) Tortor Hatopan, yaitu tortor umum yang ditandai dengan karakteristik semua gerakan penari adalah sama. Gerakan tortor ini telah diketahui orang ramai. Tortor Hatopan in dibagi dua: (a) Tortor Hatopan Baoa (tortor yang dilakukan oleh kaum pria saja), (b) Tortor Hatopan Boru (tortor yang dilakukan oleh kaum wanita saja); (2) Tortor Hapunjungan, yaitu tortor khusus yang tidak semua orang bebas menarikannya, karena sudah ditentukan kelas-kelasnya. Misalnya Tortor Naposo adalah khusus untuk muda-mudi, Tortor Raja khusus untuk raja atau orang yang diagungkan. Tortor Hapunjungan terbagi dua: (a) Tortor Hapunjungan Baoa adalah jenis teraian lelaki, yang terdiri dari Tortor: Naposo, Nasiar-siaran; Situan Natorop, Mejan, Raja, Dalan, Sibaran, Joa-joa, Monsak, dan Hoda-hoda; (b) Tortor Hapunjungan Boru adalah jenis tarian wanita, yang terdiri dari Tortor: Naposo, Soripada, Siboru, Sibaran, Haro-haro, Siar-siaran, Sihutur Sanggul, Tumba, dan lainnya.
Dalam budaya Batak Toba terdapat seni gorga. Mengenai seni gorga ini, Baginda Sirait (1980:17) menjelaskan bahwa bermula adalah seorang raja yang kaya mencari dukun untuk mengobati anak kesayangannya. Sudah banyak dukun dan datu yang mencoba mengobati tetapi tidak ada yang berhasil. Dengan tidak diduga datanglah seorang tua (natua-tua) memberikan tafsir berupa kaji diri, bahwa penyakit anak itu akan sembuh kalau roh jahat yang menguasai anak yang sakit itu diusir. Untuk mengusir roh jahat itu maka dibawalah si anak ke rumah. Mula-mula di atas tanah dibuat gambar yang berbentuk raksasa dan untuk menimpa garis-garisnya maka dipotonglah ayam sambil menumpahkan darah ayam itu mingikuti garis raksasa tadi. Melalui sembahyang dan menghadirkan gambar tadi maka sembuhlah penyakit si anak. Atas permintaan raja maka dipanggillah tukang untuk memahatkan gambar seperti gambar pengobatan tadi di atas pintu rumahnya.
Lebih lanjut B. Sirait mengemukakan bahwa pada umumnya gorga yang terdapat di Batak Toba adalah mengandung nilai-nilai spiritual dan estetika tinggi. Jenis gorga dibagi dalam dua bagian besar yang dibedakan dengan warnanya: (a) gorga silinggom adalah gorga yang didominasi warna hitam, (b) gorga sipalang atau sigara ni api didominasi warna merah. Menurut garisnya terdiri dari gorga: (a) si tompi yaitu lambang ikatan kekeluargaan, (b) dalihan na tolu melambangkan kekerabatan, (c) simeol-meol melambangkan kegembiraan, (d) simeol-meol masialoan sama seperti simeol-meol cuma motifnya berhadap-hadapan, (e) si tagan lambang peringatan agar tidak sombong dan congkak, (f) si jonggi lambang keperkasaan, (g) si lintong lambang kesaktian, (h) simarogung-ogung lambang kejayaan dan kemakmuran, (i) ipon-ipon lambang kemajuan, (i) iran-iran lambang kecantikan, (j) hariara sundung di langit melambangkan terciptanya manusia, (k) hoda-hoda lambang kebesaran, (l) simataniari lambang kekuatan hidup, (m) desa na ualu adalah melambangkan perbintangan untuk menentukan saat-saat baik bagi manusia untuk bertani, menangkap ikan, dan lainnya, (n) janggar atau jorngom melambangkan penjaga keamanan, (o) gaja dompak melambangkan kebenaran, (p) ulu paung berupa raksasa setengah manuasia dan setengah hewan melambangkan keperkasaan untuk menjaga setan-setan dari luar kampung, (q) singa-singa melambangkan keadilan hukum dan kebenaran, (r) boraspati (cecak) melambangkan kekuatan pelindung manusia dari bahaya dan memebri tuah serta harta kekayaan kepada manusia; (s) susu (payudara wanita) melambangkan kesuburan (B. Sirait 1980:18-36).
Musik dalam budaya Batak Toba terdiri dari musik vokal dan instrumental. Musik vokal yang disebut ende dan musik instrumental yang disebut gondang. Ende dapat dibagi menurut fungsi dan tujuan lagu tersebut. Jenis-jenis ende adalah ende: (a) mandideng, nyanyian untuk menidurkan anak, (b) sipaingot nyanyian yang isi teksnya berupa pesan kepada anak perempuan yang akan menikah,, (c) pargaulan, nyanyian solo khorus oleh kaum muda pada waktu senggang, (d) tumba, nyanyian khusus untuk iringan tari tumba, biasanya saat terangbulan, (e) sibaran yanyian yang menceritakan penderitaan yang berkepanjangan yang menimpa seseorang atau keluarga, (f) pasu-pasuan, nyanyian yang berkenaan dengan pemberkatan, yang bersiri lirik-lirik tentang kekuasaan Tuhan, biasanya dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya, (g) hata yaitu nyanyian yang dinyanyikan dengan ritme yang “monoton” seperti metric speech atau rap dengan lirik berupa pantuk dengan persajakan AABB dengan memiliki jumlah suku kata yang relatif sama setiap barisnya. Biasanya nyanyian ini dilakukan sekelompok anak yang dipimpin oleh seorang yang lebih dewasa atau orang tua, (h) andung, yaitu nyanyian yang menceritakan riwayat hidup seseorang yang telah meninggal, baik pada waktu di depan jenazah ataupun setelah dikubur. Nyanyian ini secara spontanitas dengan garis melodi yang bebas (Ben Pasaribu 1986:27-28).
Masyarakat Batak Toba umumnya memiliki rasa musikalitas dalam kehidupannya, yang dalam penciptaan musik baru tanpa perlu terlalau jauh meninggalkan tradisi nenek moyangnya. Orang Batak Toba umumnya terkenal memiliki suara yang baik, yang dapat dilihat melalui kebiasaannya yang hobi bernyanyi pada saat-saat berkumpul dan juga dalam mengadakan upacara-upacara adat Batak, selalu menghadirkan musik. Misalnya pada upacara kematian, perkawinan, dan lainnya. Dalam pengertian yang luas musik vokal Batak Toba memiliki berbagai fungsi sosial, baik yang sifatnya sekuler, maupun ritual. Hal ini juga dideskripsikan oleh Hilman Situmorang (1988:151): “Rap adong do kesenian marende dohot marandung di halak Batak, alai gumondang ma ummalo marende sian na malo mangandung.” Artinya adalah bahwa kesenian menyanyi dan bersenandung bersamaan kelahirannya pada masyarakat batak Toba, tetapi lebih banyak orang yang lebih pandai menyanyi dari pada bersenandung (mangandung).
Remy Silado atau Yapi Tambayong (1992), seorang kritikus musik ternama Indonesia juga memberikan pandangannya terhadap rasa musikalitas orang Batak Toba.

Sederet nama para komposer dan pemusik yang berasal dari Batak Toba, yaitu Amir Pasaribu, Cornel Simanjuntak, Liberty Manik, E.L. Pohan, Tilhang Gultom, Nahum Situmorang, dan Nortir Simanungkalit. Ini membuktikan bahwa orang Batak Toba memiliki musikalitas yang baik. Bahkan setiap orang dari masyarakat tersebut memiliki kemampuan bernyanyi dan sangat respek terhadap musik.

Musik instrumental Batak Toba secara ensambel dapat dibagi dua yaitu: (a) ensambel gondang sabangunan, dan (b) ensambel gondang hasapi atau uning-uningan. Ensambel gondang sabangunan terdiri dari alat musik: (a) taganing, terdiri dari lima gendang satu sisi berbentuk konis dan pembawa melodi (drum chime) dan satu gordang juga gendang satu sisi berbentuk konis membawa ritmik, satu sarune bolon (shwm), empat gong yang disebut ogung (oloan, ihutan, panggora, dan doal), serta satu simbal yang disebut hesek. Alat-alat musik pembawa melodi adalah taganing dan sarune bolon, pembawa ritme konstan adalah ogung dan hesek, pembawa ritme variatif adalah gordang.
Gondang hasapi adalah ensambel musik tradisional Batak Toba yang terdiri dari alat-alat musik: garantung (wooden xylophone), sulim (side blown flute), sarune etek (shawm), hasapi ende (short neck lute melody), hasapi doal (short neck lute appergiation), dan hesek (symbals). Alat-alat musik yang berfungsi pembawa melodi adalah garantung, sulim, sarune etek, dan hasapi ende. Sebagai pembawa ritme variatif adalah hasapi doal, dan sebagai pembawa ritme konstan adalah hesek.
Kedua ensambel ini, turut memberikan kontribusi terhadap masuknya instrumen saksofon dan teknik bermainnya dalam musik populer Batak Toba. Teknik permainan sarune bolon yang terdapat dalam ensambel gondang sabangunan dan sarune etek dalam ensambel gondang hasapi, secara eksplisit diteruskan oleh para pemain saksofon yang berlatar belakang budaya musik Batak Toba. Demikian sekilas mengenai kesenian termasuk musik tradisi Batak Toba. Selanjutnya diuraikan tentang konsep budaya (musik) populer.

4. Konsep Musik Populer
Konsep budaya populer (popular culture) dan seni populer (art culture) digunakan dengan secara meluas di Barat selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem pendidikan populer, meluasnya kapitalisme, dan peristiwa proses modernisasi dan urbanisasi. Budaya populer memberikan pengertian yang sama dengan budaya massa (Gans 1974:10). Konsep budaya massa berasal dari bahasa Jerman masse dan kultur. Masse ialah golongan rakyat (nonaristokrasi) yang tidak berpendidikan, yang merujuk juga pada istilah lower-middle class atau kelas pekerja yang miskin. Kultur juga bermakna sebagai budaya tinggi, yang tidak saja melingkupi seni, musik, kesusastraan, dan penghasilan simbolis lain yang diminati oleh golongan elit yang berpendidikan dalam masyarakat, tetapi juga corak pemikiran dan perasaan golongan itu yang dikatakan golongan yang berbudaya. Jadi, budaya massa adalah hasil simbolis yang diminati golongan mayoritas berbudaya itu. Ada pula para pengkaji yang menganggap penggunaan istilah budaya massa adalah lebih tepat dari budaya populer karena dikatakan penghasilan unsur-unsur budaya seperti itu ialah untuk masyarakat ramai (Donald 1968:12). Konsep budaya massa dipergunakan karena hubungan dengan pengeluaran unsur-unsur budaya secara besar-besaran (massive scale), penggunaannya pula adalah meluas dan bagi kepentingan masyarakat manusia (Lohisse 1973:17).
Munculnya budaya populer mempunyai sejarah perkembangan tersendiri. Perubahan politik feodal ke arah demokrasi, perkembangan teknologi, dan usaha perdagangan sistem kapitalis menjadi titik tolak munculnya budaya populer ini. Menurut Donald sistem politik demokrasi dan pelajaran yang semakin meluas meruntuhkan monopoli golongan kelas atas terhadap unsur budaya (Donald 1968:12). Perkembangan teknologi yang lebih baik dapat mengeluarkan bentuk hiburan dengan harga murah. Ia berpendapat teknologi modern seperti piringan hitam dan film sesuai bagi pengeluaran dan penyebaran hiburan yang meluas. Jadi usaha menawarkan hiburan menjadi lapangan bisnis yang menguntungkan.
Budaya populer bukanlah sebuah fenomena baru, ia merupakan kontinuitas dari budaya rakyat yang menjadi milik rakyat. Seni rakyat (folk art) adalah hasil budaya ekspresif rakyat yang disesuaikan dengan kehendak golongan mereka, berbeda dari budaya populer yang disebut sebagai imposed from above (Donald 1968:13). Orang-orang yang ahli dalam lapangan tertentu, seperti artis-artis menerima bayaran dari pihak penyelenggara. Penyelenggara bertujuan mencari untung dan menggunakan bahan budaya sebagai barang dagangan. Penonton merupakan pengguna sementara unsur-unsur budaya menjadi barang pengguna. Penawaran unsur-unsur budaya seperti itu senantiasa berubah-ubah bergantung kepada perubahan citarasa pengguna.
Seni rakyat pada mulanya terpisah dari budaya tinggi (hoc cultuur) tetapi kemudian budaya populer memainkan peranan penting dalam menyambungkan antara dua budaya itu (Donald 1968:13). Perkembangan budaya populer Barat bukanlah masalah baru tetapi paling tidak telah muncul abad ke-17 (Lowenthal 1961:14-28). Persoalan dan perdebatan ahli-ahli agama yang menganggap bahwa hiburan yang bertujuan melarikan individu dari kenyataan merusakkan dan membawa keburukan kepada moral anggota masyarakat, bertentangan dengan ahli-ahli filsafat yang menganggap hiburan sebagai kepentingan dasar sebagaimana kepentingan dasar lainnya yang mempunyai fungsi tertentu dalam kehidupan masyarakat.
Budaya populer dikatakan bersifat seragam atau homogen karena pengeluarannya yang besar-besaran dan tidak statis. Apa yang dianggap budaya tinggi pada masa lalu adalah hak milik golongan elit yang bertujuan menyampaikan nilai dan menggunakan unsur budaya untuk menyebarkan pengajaran kepada khalayak ramai. Golongan elit menggunakan unsur-unsur budaya untuk mengukuhkan kedudukan mereka. Sementara itu budaya populer tersebar kepada masyarakat awam dan menentukan the image of a centripetal force rather than a centrifugal force (Lohisse 1973:35).
Konsep budaya populer meliputi aktivitas-aktivitas yang diminati orang ramai yang bertujuan memberi hiburan, seperti musik, film, buku, dan lainnya yang selalu dikaitkan dengan apa yang disalurkan melalui media massa (Winston 1973:54). Budaya populer atau budaya massa ini boleh dilihat melalui sifat-sifatnya yang tersebar secara meluas dan dapat menarik perhatian kelas pekerja industri, dan produksinya dibuat secara besar-besaran (Quail 1969:22).
Budaya populer memegang peranan penting dalam menaikkan citra budaya. Munculnya budaya populer yang boleh dikatakan sebagai sebuah revolusi dalam perkembangan budaya telah dapat merapatkan jurang pemisah antara golongan elit dan rakyat biasa (Donald 1968:15). Munculnya budaya populer kadang-kadang menimbulkan kekeliruan. Rosenberg menerangkan beberapa kekeliruan atau anggapan orang ramai yangkurang tepat tentang budaya populer. Orang selalu mengaitkan kemunculan budaya populer dengan kapitalisme, yang berawal di Amerika Serikat, dan berasal dari sistem politik demokrasi (Rosenberg 1960:11). Anggapan seperti itu tidak disetujui Rosenberg karena ia percaya bahwa pengaruh perkembangan teknologi pertumbuhan budaya populer adalah besar sekali. Perkembangan ekonomi dan perkembangan politik tidak dapat dianggap sebagai akibat langsung sebagaimana yang berlaku dalam revolusi industri yang berkembang di Eropa abad ke-19.
Masyarakat umumlah yang menentukan nilai dan selera atau kehendak masyarakat (Gans 1974:12). Selera masyarakat umum ini penting dalam menentukan corak budaya populer, misalnya dalam menentukan tema, pertunjukan, dan sejenisnya. Nilai anggota masyarakat adalah manifestasi terhadap bentuk budaya populer dalam suatu zaman.
Proses urbanisasi merupakan faktor penting dalam pertumbuhan budaya populer. Setelah bergulirnya revolusi industri di Barat pada abad ke-19, banyak golongan petani pindah dan bekerja di kota sebagai pusat industri. Golongan ini, yang dijuluki proletariat dan petty bourgeois, belajar membaca dan menulis dengan tujuan memperbaiki kedudukan dan menambahkan keahlian mereka dalam pekerjaan baru serta menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Hiburan diperlukan untuk mengisi masa lapang mereka. Untuk itu di pasar dimunculkan bahan-bahan erstz culture atau kitsch yang dapat memenuhi masa lapang, dan mengurangi keletihan mereka setelah bekerja. Kitsch adalah hasil revolusi industri yang menyebabkan rakyat mengalami proses urbanisasi dan perkembangan sistem pendidikan (Howe 1960:497).
Pertumbuhan budaya populer berkaitan dengan aspek seni yang menimbulkan pula konsep seni populer. Seni populer adalah kontinuitas dari seni tradisional. Seni populer, seperti musik, tari, dan teater disalurkan melalui media massa hingga menyebabkan orang menganggap media massa juga sebagai seni populer. Media massa bukanlah seni, tetapi alat komunikasi yang bisa mempengaruhi pertumbuhan seni. Media massa menyiarkan penerangan tetapi dilakukan dalam bentuk hiburan untuk masyarakat ramai. Konsep seni populer muncul selaras dengan pertumbuhan budaya populer abad ke-19 (Bigsby 1973:16).
Seni populer dalam keadaan tertentu mengambil alih seni tradisional dengan berbagai cara: ada yang muncul sebagai tiruan dan kontinuitas dari seni tradisional, ada pula yang muncul dalam bentuk baru. Seni rakyat juga menjadi seni populer dalam konteksnya tersendiri (Kaplan 1967:317). Kadang-kadang bentuk seni populer disesuaikan dengan kesadaran dan kehendak masyarakat umum. Seperti halnya dalam musik populer Batak Toba yang menjadi kajian dalam tulisan ini.
Dengan perkembangan sistem komunikasi, seni dapat tersebar dengan meluas dan diminati. Oleh sebab itu sebagian pihak menganggap nilainya turut jatuh, citarasa umum dianggap mediocre, dan norma kitsch diterima. Namun jika kita menganalisis keadaan baru yang mendatangkan kesan kepada seni, kita tidak dapat membuktikan bahwa dengan meluasnya peminat atau penonton nilai sebuah budaya semakin berkurang. Ada pula orang yang menganggap bahwa nilai seni itu tinggi apabila penghasilannya sedikit (Duvignand 1972: 130).
Musik populer Batak Toba tampaknya mengikuti konsep-konsep seperti yang telah diuraikan di atas. Musik populer Batak Toba umumnya mengikuti format ensambel band yang ada pada budaya musik Barat, namun elemen-elemen tradisional Batak Toba juga menjiwainya. Musik populer Batak Toba adalah bagian dari kebudayaan massa (cultural mass) Batak Toba, yang dibentuk oleh golongan rakyat dalam budaya Batak Toba.
Selain itu, terjadinya pergantian sistem politik feodal ke arah demokrasi, perkembangan teknologi, dan usaha perdagangan sistem kapitalis menjadi titik tolak munculnya budaya musik populer Batak Toba ini. Awalnya masyarakat Batak Toba menganut sistem feodalisme terutama saat kekuasaan politik tradisional sistem kerajaan yang mengatur ekonomi rakyat, terutama yang paling jelas adalah pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, dimana para tengkulak menguasai bisnis pertanian dan perikanan yang mengatur kehidupan rakyat Batak Toba. Kemudian setelah merdeka, mulailah beralih ke sistem demokrasi Pancasila, rakyat memiliki hak untuk berpolitik dan mengatur sendiri kehidupannya. Demikian pula dengan sistem perdagangan bebas turut menumbuhkembangkan kebudayaan massa, termasuk musik populer Batak Toba. Mereka sudah melakukan distribusi kaset rekaman dalam industri yang diatur oleh sistem liberalisme.
Budaya musik populer Batak Toba pula merupakan kontinuitas dari budaya rakyat yang menjadi milik rakyat. Hal ini dapat dibuktikannya berbagai elemen musik rakyat atau tradisi rakyat tetap dilanjutkan dalam musik populer Batak Toba. Yang jelas adalah penggunaan teks-teks berbahasa Batak Toba yang mengikuti tradisi seni sastra Batak Toba, begitu pula berbagai konsep musik gondang yang ditransformasikan ke dalam musik populer Batak Toba, juga teknik bermainnya, judul lagu, dan lain-lainnya, yang bukan suatu kreativitas yang terputus dari tradisinya.
Budaya populer dikatakan bersifat seragam atau homogen karena pengeluarannya yang besar-besaran dan tidak statis. Kenyataan ini dapat dilihat dari sistem produksi budaya musik populer Batak Toba yang biasanya dilakukan secara besar-besaran melalui bentuk kaset tape, video compact disk, compact disk, dan lainnya.
Seni populer dalam keadaan tertentu, mengambil alih seni tradisional dengan berbagai cara: ada yang muncul sebagai tiruan dan kontinuitas dari seni tradisional, ada pula yang muncul dalam bentuk baru. Hal ini juga berlaku dalam musik populer Batak Toba. Ada yang mengambil unsur musik tradisional, tetapi tak jarang pula muncul dalam bentuk baru (kreativitas), umumnya setelah adanya persinggungan dengan budaya musik Barat, beragai elemen baru ini masuk ke dalam musik populer Batak Toba.
Dengan perkembangan sistem komunikasi, seni dapat tersebar dengan meluas dan diminati. Setelah ditemukannya media komunikasi seperti radio, televisi, dan internet, maka seni musik populer Batak Toba meluas persebarannya. Sampai kini, bahkan seni ini diminati baik oleh masyarakat Batak Toba sebagai pendukungnya, maupun masyarakat bukan Batak Toba yang juga turut mendukung keberadaannya atau minimal sebagai peminat musik populer Batak Toba. Demikian sekilas konsep musik populer secara umum dan musik populer Batak Toba secara khusus. Selanjutnya kita uraikan secara umum musik populer Barat dan pengaruhnya bagi musik populer Batak Toba.

5. Musik Populer Barat dan Pengaruhnya pada Musik Populer Batak
Pada asasnya perhatian ke arah dunia musik diawali dengan timbulnya kegoncangan di dunia perdagangan internasional dan juga dalam bidang moneter internasional yang tidak hanya terjadi di negara-negara maju (developed countries) tetapi pengaruhnya juga dirasakan pula oleh negara-negara berkembang, seperti halnya Indonesia (Sindhunata 1983:96), sebagai upaya mengatasi situasi ekonomi akibat rendahnya pendapatan negara melalui sektor minyak dan gas bumi, sehingga sektor non migas merupakan alternatif yang berpeluang baik untuk dikembangkan. Tidak hanya produksi ekonomi saja yang diindustrikan, tetapi semua kejadian dalam masyarakat, terjadilah industri kebudayaan, seni, pemikiran, dan lain-lain (Sumitro Djojohadikusumo 1975:76-110).
Pada tahun 1920 terjadi suatu perkembangan besar dalam musik populer. Beberapa perkembangan penting yang bersifat teknis bertambah dengan didirikannya stasiun radio komersial yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi, media elektronika seperti radio, televisi, piringan hitam, kaset video, film musikal, laser disc serta perkembangan proses rekaman yang sangat berperan dalam penyebarluasan musik populer di seluruh dunia. Dengan adanya penemuan media elektronika, musik populer menjadi komoditas industri yang baru untuk kepentingan komersial. Pesatnya penjualan produksi musik populer didukung oleh pemutaran-pemutaran film atau sinetron musikal, yang memberikan akses kepada masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan musik populer di gedung-gedung bioskop, atau hanya dengan memegang remote control di rumah melihatnya melalui televisi. Masyarakat umum adalah bahagian utama sebagai konsumen dari musik populer ini.
Puncak penjualan industri musik populer Barat (dan dunia) tercatat pada tahun 1955 ketika pemusik Bill Halley memperkenalkan musik rockn’ roll dalam film musikal yang bertajuk Arround the Clock. Selanjutnya bermunculan kelompok musik baru yang juga bergaya rockn’ roll yang menguasai pasaran musik dunia melalui piringan hitam, kaset rekaman atau pertunjukan musik, dan pemutaran film musik.
Tokoh-tokoh musik populer dunia di antaranya adalah Elvis Presley (1935-1977), disusul kelompok musik The Beatles (anggotanya John Lennon, Ringgo Star, George, Paul McCartney), dan Bee Gees. Selain grup musik populer tersebut, masih banyak lagi grup musik dan penyanyi populer lainnya yang bermunculan seperti: Queen, Abba, Scorpion, Michael Jackson, Stevie Wonder, Elton Jhon, Sting, Roxeete, Prince, Debbie Gibson, Mariah Carey, Bobby Brown, Tommy Page, Christina Aguilera, Madonna, dan lainnya.
Jenis-jenis musik populer yang berkembang dalam kebudayaan Barat, dalam hal ini Eropa dan Amerika telah berpengaruh besar kepada perkembangan musik Indonesia termasuk juga musik populer Batak Toba.
Jenis-jenis musik Barat itu di antaranya adalah musik kaum budak (slave music), yang merupakan lagu-lagu kaum budak yang dibawa dari Afrika ke Amerika. Teks-teks nyanyian itu banyak mengambil isi Alkitab, yang mencerminkan penderitaan lahir dan batin, serta kerinduan akan pembebasan sistem perbudakan.
Jenis lainnya adalah jazz, yang berasal dari kota New Orleans, bagian selatan Amerika tahun 1619 orang negro mulai datang ke Amerika, di daerah Virginia. Pada awalnya, kaum negro belum bekerja sebagai budak belian. Hal ini baru mulai dengan berkembangnya abad ke-19. Bagian Amerika Utara dikuasai oleh masyarakat Inggris beragama Kristen yang bersikap puritan menentang ritual kaum negro, sedangkan di Amerika Selatan di bawah pengaruh agama Katholik, tradisi lama lebih mudah ddipertahankan. Musik jazz yang pada awalnya diciptakan oleh orang kulit hitam dalam masa perbudakan selama Perang Dunia Kedaua kemudian membuat orang kulit hitam dan kulit putih bermain bersama dalam ensambel jazz, sehingga ada percampuran antara corak musik yang disebut Afro-Jazz. Musik jazz ditandai penerapan teknik improvisasi secara dominan yang dijalin dengan permainan irama yang singkopik. Gaya permainan ini bermula tahun 1914 di area perkebunan New Orleans, sebagai perpaduan antara musik orang-orang negro asal Afrika dengan peralatan sistem nada dan melodi-melodi Marcia bangsa Creole Perancis. Sesudah tahun 1960 keluar dari Amerika dan menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan berbagai ragam dan gaya. Hal ini ditunjang oleh kemampuan irama ini berpadu dengan jenis musik lain seperti populer, rock, dan klasik. Tokoh-tokoh jazz di antaranya adalah Louis Armstrong, Benny Goodman, Lester Young, dan lain-lain.
Genre lainnya adalah musik rockn’roll, yang pada masa-masa awal perkembangannya memakai unsur dixiland (musik jazz yang berawal dari kerangaka country) dan ragtime (Japi Tambayong 1992:56). Merupakan gaya permainan musik jazz klasik, sifatnya ceria dan ragtime adalah irama musik tario bangsa negro Amerika yang populer abad ke-19, menggunakan nada-nada singkopatis, khususnya pada instrumen musik piano. Berdasarkan jenisnya adalah: hard rock dan heavy metal.
Genre lainnya adalah blues, yaitu jenis lagu ratapan dari masyarakat negro Amerika. Berkembang mulai tahun 1911, sebagai perintis musik jazz. Dalam pertunjukan vokalnya umum dilakukan secara solo yang lambat. Namun dalam instrumental nampaknya lebih leluasa, kesenduannya terasa oleh penurunan nada ke-3 dan ke-7. Jenis lagu ini juga memiliki bentuk khusus yang terdiri dari 12 birama.
Genre lainnya country dan western adalah musik Eropa yang berasal dari imigran Irlandia (Inggris) yang dimainkan di kalangan masyarakat kulit putih. Di Amerika nyanyian ini dimainkan dengan menggunakan progresi harmoni dan tonalitas.
Genre lain adalah musik alternatif, yang timbul karena adanya kejenuhan terhadap aturan-aturan komposisi yang dianggap hanya membatasi kreativitas pemusik. Para pemusik jenis alternatif ini berkarya tanpa terlalu terikat dengan hukum komposisi atau penggunaan alat-alat musik. Jenis musik ini merupakan lanjutan dari punk yang populer pada dekade 1970-an. Grups musik alternatif di antaranya adalah: Red Hot Chili Peppers, Spin Doctors, Pearl Jam, Car Cars, dan lain-lain.
Berikutnya adalah genre soul, yang berasal dari lagu-lagu spiritual yang berkembang menjadi musik gospel, yaitu musik yang dipertunjukkan di luar gereja. Kemudian dibangun suatu tempat bagi penyanyi kulit hitam melalui rekaman pada piringan hitam. Gaya mereka disebut rhytm and blues (R&B) yang kemudian berkembang menjadi gaya yang berjalan sendiri, misalnya solo dengan iringan paduan suara. Larik lagu umumnya beertema cinta, kebebasan, dan kehidupan sosial. Kebanyakan penyanyi soul berkulit hitam, seperti: James Brown, natalia Colie, Tina Turner, Diana Ross, Stevie Wonder, Whitney Houston, Michael jackson, Tony Braxton, Tony Toni Tone, dan lain-lain.
Genre lainnya disco, yang merupakan akronim dari kata disc jockey (DJ) yaitu pemain piringan hitam di tempat-tempat dansa. Corak musik dansa yang paling populer sekali pada paruh kedua dasawarsa 1970-an, sebagai lanjutan dari rock dasawarsa 1950-an. Penyanyi musik disco antara lain: Donna Summer, Barry White, Peter Brown, Linda Clifford, Karen Young, Madonna, Janet jackson, dan lain-lain. Sedangkan grup disco antara lain: Disco Trex, Sister Sledge, dan lain-lain.
Genre lain funk, yang merupakan perkembangan dari musik soul. Funk biasa juga disebut funky. Pada jenis musik ini terdapat unsur jazz, rock dan ritme dari musik soul. Ciri khas funk antara lain ritmenya berjalan terus menerus seperti seorang yang berbicara progresi akord berjalan bebas dan tidak memeiliki aturan tertentu. Penyanyi funk di antaranya: Funkadelic, Commodores, Kool and the Funky Bunch, Fith no More, dan lain-lain.
Genre lain adalah rap, yang merupakan perkembangan akhir dari soul. Ciri musik rap tidak memiliki aturan yang jelas, dan mengutamakan kebebasan. Liriknya seperti bertutur atau bercerita sambil penyanyinya menari tanpa henti. Tema lagu berkisah tentang kehidupan sosial, politik, kebebasan, keadilan, dan lainnya. Jenis musik ini menggunakan alat-alat seperti: drum, bunyi piringan hitam, bass, keyboard, dan lainnya. Penyanyian di antaranya: Bobby Brown, Gypsy, kematau Das, The Fatback Band, dan lain-lain.
Jika kita lihat lagu-lagu populer Batak Toba, maka unsur-unsur musik populer Barat masuk ke dalamnya. Misalnya slow rock terdapat dalam lagu-lagu Dunghuon Hutanda Ho, Endengkon Di Radio Bege, Satongkin Do. Jenis lagu blues dapat dilihat pada lagu Tumagon Nama Mate. Selain jenis lagu, irama (jenis pola-pola ritme tertentu) dari budaya musik Barat juga mempengaruhi irama musik Batak Toba.
Sebagai contoh adalah irama fox-trot, yaitu jenis irama dan pola tari dari Amerika Serikat yang muncul tahun 1912. tarian dalam birama biner ini akrab dengan genre musik jazz, namun dalam perkembangannya menjadi dua macam, langkah cepat (quick step) dan yang bertempo lambat (slow foxtrot). Dalam lagu-lagu populer Batak Toba, irama ini digunakan dalam lagu: Marhappy-happy Tung So Boi, Modom Ma Damang Unsok, O Tao Toba, Rura Silindung, Dengke Julung-julung, Nahinali Bangkudu, Napinalu Tulila, Sapata Ni Napuran, Beha Padundung Bulung, Ala Dao, dan lain-lain.
Berkutnya irama calypso, yangmerupakan irama dansa yang berasal dari Trinidad yang sangat populer pada dasawarsa 1950-60-an. Contoh lagu pada irama ini adalah pada lagu Sitogol, Alama Dogema, Pulo Samosir, Dana Tiniptip Sanggar, Luahon Damang, Marombus-ombus, Luat Pahae Nauli, dan Dorma Sijunde Do Sihabiaran.
Irama rumba, adalah jenis irama pengiring tarian rumba yang berasal dari Kuba. Bertempo cepat dengan ciri utama singkopatik dalam birama 2. berhasil terangkat sebagai tari ballroom dan juga ke dalam musik jazz di Amerika sekitar tahun 1930-an. Contoh irama ini pada musik populer Batak Toba adalah pada lagu: E,e Ndang Maila, Ketabo-Ketabo, Nungga Lao Nungga Lao, Tumba Goreng, Sisingamangaraja, dan lain-lain.
Irama lainnya adalah tango, yaitu yang digunakan untukmengiringi tarian tango dari Amerika Selatan, tepatnya di pinggiran kota Buenos Aires, Argentina. Berkembang ke seluruh penjuru Amerika tahun 1910, mungkin dibawa oleh budak-budak negro asal Afrika. Contohnya dalam musik populer Batak Toba, pada lagu-lagu: Anak Sasada Tading Manetek, Di Jou Au Mulak Tu Rura Silindung, Malala Rohangki, dan lainnya.
Chacha adalah irama musik iringan tariyang populer tahun 1950-an, berasal dari Amerika Latin dan dikenalkan oleh Perez Prado. Irama dansa ini menjadi topik penting dalam pembahasan kebudayaan Indonesia jaman Sukarno. Contohnya dalam musik populer Batak pada lagu: Sai Ga Ma Ho, Sai Tudia Ho Marhuta, dan Situmorang Nabonggal.
Bolero sebagai irama iringan tari, merupakan ritme dasar drum dalam bentuk sajian cressendo. Tekniknya mirip seperti kebanyakan lagu tarian rakyat Spanyol, yang dilakukan alat musik tiup bukan vokal. Dengan birama 3/4 yang biasa dihiasi dengan bunyi kastanet oleh komponis Perancis M. Ravel. Contoh irama ini pada musik populer Batak Toba adalah pada lagu: Dao Pe Ho Marhutasada dan Holong Ni Roham Do Sinta-sinta Di Au.
Irama lainnya adalah samba, yang berasal dari Afrika dibawa ke Brasilia, dengan banyak variasi meter dupel dan berciri khas kunci-kunci mayor. Merupakan irama dan tarian nasional yang diperlombakan tahunan pada perayaan karnaval. Berbirama dua dengan gerak-gerak singkopatik dan tempo moderato. Contohnya pada musik populer Batak adalah pada lagu: Tumbarudekdek dan Nungga Tarhirim.
Irama berikutnya adalah wals (waltz), yaitu irama pengiring tari dalam birama 3, yang mulai dibawa pada akhir abad ke-18. Kepesatan perkembangnnya pada abad ke-19 berada di tangan komponis-komponis Wina, Austria seperti Joseph Warner ataupun Johann Strauss. Contoh irama ini pada musik populer Batak Toba adalah pada lagu: Lisoi, Nasonang Do Hita Nadua, Untte Malau.
Bossanova adalah termasuk irama jazz khas Amerika Latin, yang biasa juga digunakan mengiringi tari. Disebut juga dansa asmara (the dance of love), irama ini termasuk paling digemari pada dasawarsa 1960-an. Sebuah lagu populer yang dikenal luas di Indonesia, dinyanyikan Judy Garland berjudul Blame it on Bossanova. Di dalam musik populer Batak Toba contohnya pada lagu Lontung Sisia Marina.

6. Alat Musik Tiup di Gereja Batak Toba
Tahun 1862 seorang misionaris Kristen Protestan Ingwer Ludwig Nommensen datang ke Tanah Batak Toba dengan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan Batak Toba. Nommensen menyebarkan agama Kristen Protestan dengan sangat berani kepada masyarakat Toba, dengan resiko nyawa yang harus ditanggungnya. Berkat kegigihannya ini, maka berdirilah sebuah gereja yang pertama di Tanah Batak yakni Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Seiring dengan penyebaran agama Kristen Protestan, para misionaris turut membangun sarana-sarana seperti pendidikan dengan membuka sekolah, kesehatan dengan membuka rumah sakit dan balai pengobatan maupun membangun sarana transportasi. Hal ini mendorong berakarnya agama Kristen di dalam budaya masyarakat Batak Toba. Perubahan itu selaras dengan konsep hidup orang Batak Toba di dunia, yaitu mencari hamoraon (kekayaan), hagabeon (memiliki keturunan yang berhasil), dan hasangapon (kemuliaan atau kehormatan).
Kebaktian menjadi bagian dari masyarakat Batak Toba Kristen. Perhatian masyarakat terhadap eksistensi gereja juga didorong oleh pengetahuan tambahan terhadap pengenalan musik-musik gereja yang berasal dari Eropa. Setiap acara kebaktian gereja mereka dikenalkan lagu-lagu melalui notasi Barat. Bersamaan dengan itu para misionaris memperkenalkan alat-alat musik seperti: trumpet, saksofon alto, saksofon tenor, trombon, dan sausafon. Instrumen tersebut dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian gereja pada saat upacara.
Para misionaris juga mengajarkan bagaimana cara memainkan alat musik tersebut kepada sekelompok warga jemaat yang dianggap sungguh-sungguh mengikuti ajaran agama Kristen dan mempunyai minat dan perhatian yang tinggi untuk bermain musik. Mereka diajar mengenal notasi musik yang ada. Melalui proses belajar yang cukup lama, akhirnya beberapa warga jemaat mahir memainkan ensambel musik tiup tersebut.
Pengetahuan tentang alat-alat musik organ dan brass sama sekali masih baru bagi masyarakat Batak Toba, demikian juga tentang musik gereja yang bertangga nada diatonik. Instrumen musik brass yang pertama hanya terdiri dari sebuah trumpet, yang digunakan untuk mengiringi kebaktian di gereja yang dimainkan oleh Berausgegeben von D. Johansen Ruhlo, putra Nommensen sendiri, mengingat saat itu belum ada warga jemaaat Batak Toba yang dapat memainkannya.
Perkembangan agama Kristen Protestan semakin lama semakin pesat dan pertunjukan solo trumpet tidak sanggup lagi mengimbangi tikat intensitas paduan suara jemaat, sehingga ditambahlah trumpet tersebut menjadi empat buah. Untuk itu Johansen terpaksa harus mengajari beberapa warga untuk memainkannya, juga mengajarkan notasi balok khususnya yang tertuang dalam Buku Logu, buku nyanyian pokok gereja HKBP (Tampubolon 1999:44).
Setelah penjajahan berakhir tahun 1943, para zending Jerman juga meninggalkan Tanah Batak, namun aktivitas kerohanian tetap berjalan. Para pendeta yang telah diajar kerohanian dan pengenalan musik oleh para misionaris mengambil alih kepemimpinan gereja.
Pada saat pendudukan Jepang ini, selain digunakan untuk kegiatan gereja, brass band juga digunakan mengiringi kegiatan-kegiatan para militer Jepang yang hendak berperang, seperti saat pemberangkatan tentara yang hendak berperang. Menurut keterangan para informan, alat musik yang digunakan bukan milik gereja tetapi dibawa oleh para tentara Jepang dari negerinya.
Pada saat pasar malam di sekitar Balige, pemerintah Jepang mempergelarkan brass band sebagai hiburan. Para pemain musik brass band yang terlibat diberi honorarium oleh pihak pemerintah Jepang. Kalau awalnya penggunaan brass band adalah untuk kegiatan agama Kristen di gereja, maka saat penjajahan Jepang diperluas menjadi bagian dari hiburan. Demikian sekilas masuknya alat musik saksofon dan lainnya dalam HKBP. Selain itu, di Simalungun juga terjadi hal sama, khususnya di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
Kenyataan yang dijumpai dalam melagukan nyanyian gereja dipengaruhi oleh nyanyian rakyat Simalungun, khususnya bagi orang-orang Simalungun di pedesaan tidaklah dapat dipungkiri. Namun tidak perlu menyalahkan atau mengatakan bahwa nyanyian yang mereka lagukan tidak benar. Sering terdengar isu, kebanyakan dari beberapa kalangan pendeta yang pernah bertugas di daerah pedesaan, bahwa melagukan nyanyian gereja banyak salahnya. Terkadang, para pendeta itu tidak dapat mengikuti nyanyian jemaatnya. Suatu ketika tahun 1988 ketika mengikuti kebaktian bagi para anggota partarompet (peniup trumpet) GKPS, seorang penginjil, P.P. Luther Purba, membuat suatu ilustrasi dalam khotbahnya mengenai cara bernyanyi anggota jemaat GKPS Marbun Lokkung dan sekitarnya yang tidak bersungguh-sungguh. Temponya tidak sesuai dengan jiwa lagunya. Misalnya lagu-lagu puji-pujian dinyanyikan lambat tidak gembira, seharusnya cepat dan gembira. Melodinya banyak yang diubah. Singkat kata ia menghendaki kalau melagukan nyanyian gereja haruslah benar sesuai dengan tuntutan lagu itu sendiri. Apa yang dituntutkannya itu tidaklah mesti demikian. Kita harus lihat latar belakang kebudayaan musik dan latar belakang cara belajar nyanyian gereja tersebut. Mereka melagukan nyanyian gereja itu memang sungguh-sungguh dari lubuk hatinya dengan tujuan memuji Tuhan. Mereka merasa menyanyi sesuai dengan kebiasaan yang mengungkapkan rasa emosionalnya dengan sungguh-sungguh.
Sekitar tahun 1960-an, seorang pendeta Jerman yang bernama J. Depperman telah banyak mengamati dan memperhatikan kehidupan musik di daerah Simalungun. Akhirnya ia memutuskan suatu gagasan untuk mengadakan alat musik tiup (trumpet) bagi para jemaat, yang berasal dari bantuan RMG/VEM. Trumpet ini diberikan kepada para jemaat yang dianggap tepat sekali gus memberikan pelatihan cara memainkan alat musik tersebut. Sekurangnya 60 buah trumpet diberikan kepada para jemaat dengan perincian minimal 10 buah setiap kelompok. Adapun para jemaat yang memiliki grup trumpet tersebut antara lain: GKPS Jalan Sudirman Pematang Siantar, GKPS Pematang Raya, GKPS Saribu Dolok, GKPS Tebing Tinggi, GKPS Teladan Medan, dan GKPS Bangun Purba. Trumpet ini digunakan pada waktu ibadah mengiringi nyanyian gereja. Sebagai penyegaran dilakukan latihan. Di samping itu secara beramai-ramai bergabung mengiringi nyanyian-nyanyian ketika adanya pesta-pesta gereja yang besar (Setia Dermawan Purba 1994:203-205).
Kalau kita lihat dari peristiwa di HKBP dan GKPS, tampaknya adalah keinginan para pengurus gereja untuk membawa para jemaatnya bernyanyi (berdoa) dengan menggunakan nada-nada yang tepat menurut standar musik Barat. Selain itu adalah memberikan ciri khas bagi gereja Protestan di kawasan ini. Dengan demikian adanya alat-alat musik tiup dalam gereja adalah hasil dukungan gereja. Sehingga kemudian dalam konteks upacara kematian digunakan ensambel brass band, seperti yang diuraikan berikut ini.

7. Brass Band
Sadie dalam The New Grove Dictionary of Music mengatakan bahwa brass band adalah sebuah bentuk musik tiup (wind band) yang keseluruhannya terdiri dari alat musik yang terbuat dari logam kuningan, yang berasal dari tahun 1820-an (1980:209). Brass band digunakan oleh resimen kavaleri (pasukan berkuda) dan menjadi sangat terkenal terutama di Inggeris dan Amerika Serikat. Di Inggris, brass band menjadi tradisi militer bersama-sama dengan ensambel musik tiup kayu (wood wind), di Amerika Serikat sebagian besar band memakai kuningan dan kayu pada tahun 1800-an.
Tradisi musik brass band yang pada awalnya muncul di Eropa dan Amerika, pada masa sekarang ini telah menjadi tradisi kebudayaan musik bangsa lain. Tradisi tersebut dapat dikatakan sebagai suatu hasil kontak kebudayaan dan jelas mempunyai hubungan dengan ekspansi teritorial bangsa-bangsa Eropa ke berbagai kawasan di dunia.
Masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara juga memiliki ensambel musik ensambel brass band yang lazim juga disebut dengan ensambel musik tiup. Istilah ini muncul karena sebagaian besar alat musiknya adalah alat musik tiup kecuali drum yang ditabuh.
Sampai sekarang ini, brass band pada masyarakat Batak Toba telah berkembang cukup pesat dan menyebar serta terdapat di berbagai tempat seperti Balige, Pematang Siantar, Tarutung, dan Medan. Masyarakat Batak Toba sangat merespons secara positif terhadap kehadiran brass band, terbukti pada perkembangan penggunaannya, yang dalam waktu singkat menjadi tradisi bagi beberapa kalangan masyarakat Batak Toba untuk menggunakannya sebagai musik yang dainggap berpretise semacam itu.
Menurut penjelasan dari para informan, tempat awal mulai berkembangnya brass band di dalam aktivitas budaya masyarakat Batak Toba adalah di daerah Tambunan Balige. Hal ini tidak suulit dibuktikan karena kehadiran brass band di daerah ini sebagai musik yang dikenal masyarakat masih relatif baru, yakni sekitar 1930-an.
Menurut S. Tambunan, pada tahun 1930-an muncullah dua ahli musik yang bernama Adian Silalahi dan Ismail Hutajulu di Desa Tambunan. Keduanya membawa seperangkat alat musik brass band yang baru dan agak berbeda dengan perangkat brass band yang ada sebelumnya. Kedatangan Adian Silalahi dan Ismail Hutajulu membawa gelombang baru dalam penggunaan instrumen brass band pada masyarakat Batak Toba di Tambunan untuk masa-masa selanjutnya. Adian Silalahi juga belajar musik dari Pendeta Berchauzer dari Jerman.
Adian Silalahi selanjutnya mengumpulkan beberapa pemuda yang mempunyai bakat dan kemampuan untuk dibina dan dididik. Para pemuda itu diajarkan bagaimana memainkan alat-alat musik brass band dengan baik. Ia mengajar secara informal, misalnya di kedai-kedai kopi dan di rumah kediaman.
Melihat keberhasilan sistem pengajaran ini, maka seorang penduduk yang terkenal karena kaya di Desa Tambunan Balige, memberikan seperangkat alat musik brass band yang dibeli dari Amerika Serikat. Kemudian dibentuklah brass band di desa ini, yang sering difungsikan pada berbagai kegiatan seperti pertandingan olah raga antar desa atau kecamatan. Anggota dari kelompok pemain brass band ini selain para pemuda juga para orang-orang tua yang dulunya aktif sebagai pemain alat-alat musik brass band di gereja.
Musik brass band ini kemudian digunakan juga dalam opera Batak, yaitu teater Batak Toba yang berkembang dasawarsa 1930-an, yang dipelopori oleh Tilhang Gultom. Seiring dengan berkembangnya teater ini, maka beberapa pemain opera Batak dan pemusik brass band bekerja sama menselaraskan iringan lagu rakyat dengan musik brass band. Lagu-lagu yang dibawakan kebbanyakan bertema perjuangan. Dalam hal ini musik brass hanya berfungsi sebagai pengiring atau pendukung permainan musik tradisi yang sedang dimainkan dalam opera Batak tersebut.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1945, perkembangan brass band di Desa Tambunan semakin maju. Penggunaannya telah beralih dari konteks keagamaan menjadi hiburan yang sekuler, seperti menghibur pemain oleh raga juga seni pertunjukan opera Batak. Brass band di Desa Tambunan ini juga digunakan untuk menyambut kedatangan Presiden Soekarno saat berkunjung di Balige tahun 1950.
Sejak hadirnya Guru adian Silalahi dan Ismail Hutajulu, lahirlah kelompok musik brass band yang bersifat profesional. Kelompok ini disebut dengan Vereniging Musik Silalahi yang berlokasi di Desa Tambunan. Kelompok musik ini beranggotakan warga masyarakat yang mempunyai bakat musik, dan mereka diberi pelajaran notasi musik dan teknik memainkan alat-alat musik brass band termasuk saksofon. Bagi mereka yang tidak dapat membaca dan mempelajari notasi musik, dilatih secara lisan dan mengasah kemampuan rasa musikalnya. Sehingga ketika mendengar suara musik brass band, timbul kepekaan untuk dapat menyesuaikan dengan alat-alat musik lain yang umumnya membentuk tekstur polifoni atau homofoni.
Dari Desa Tambunan ini, kemudian brass band menyebar ke daerah-daerah lain seperti Pematang Siantar dan Kota Medan. Seorang pengusaha Batak Toba yang sukses yaitu Pak Situmorang membentuk kelompok brass band yang diberi nama Duma Musik yang beranggotakan sembilan pemusik, yang kesemuanya berasal dari Desa Tambunan. Di samping peralatan yang lengkap, kelompok ini juga diberi kebutuhan tempat tinggal bagi para senimannya.
Empat bulan pertama sejak berdirinya mereka mendapat panggilan satu kali seminggu, tetapi dalam bulan kelima sudah meningkat menjadi rata-rata dua kali seminggu. Setelah satu tahun, rata-rata undangan sudah tiga kali seminggu. Pemain brass band ini menerima honorarium setiap kali panggilan main. Berarti makin banyak undangan semakin tinggi pula penghasilannya. Keberhasilan ini diikuti oleh didirikannya kelompok brass band baru. Tahun 1988 B. Pangaribuan mendirikan Tambunan Group Musik. S. Pasaribu mendirikan Immanuel. Sampai tahun 2005 ini perkembangan kelompok brass band di kota Medan adalah sebagai berikut.

Tabel 1
Kelompok Brass Band di Kota Medan

No Nama Kelompok Musik (Brass Band) Keterangan
1. Amdito Musik Aktif
2. Amora Musik Aktif
3. Bonansa Musik Aktif
4. Boris Musik Sudah bubar
5. Duma Musik Aktif
6. Horas Musik Aktif
7. Immanuel Musik Sudah Bubar
8. Keong Mas Musik Tidak aktif
9. Mangampu Tua Musik Aktif
10. Medan Musik Aktif
11. Musik Gideon Sudah bubar
12. Patra Musik Aktif
13. Parulian Musik Aktif
14. SDH Musik Aktif
15. Sidorame Grup Musik Aktif, HKBP Sidorame
16. Sinar Anugerah Musik Aktif
17. Sinar Silindung Musik Aktif
18. Sopo Nauli Musik Aktif
19. Tambunan Musik Aktif
20. Tonggo Musik Aktif
(Sumber: Horasman Sinurat 2001:25, dan wawancara di lapangan).

Bagi pemusik brass band, pengetahuan dan pemahaman terhadap adat Batak Toba, umumnya kurang lebih sama dengan anggota masyarakat awam lainnya. Namun karena mereka sudah sering terlibat langsung dalam aktivitas adat, tidak dapat tidak mereka sedikit lebih memahami tujuan-tujuan dari sebuah upacara adat. Mereka akhirnya berusaha bertindak sebagai seorang yang mengerti tentang adat dan tujuan pelaksanaan adat yang dilaksanakan.
Pemusik brass band menyadari bahwa brass band dalam mengiringi upacara adat sebagaimana layaknya gondang sabangunan sudah merupakan “penyimpangan,” dan jelas-jelas tak dapat menyamai kedudukan gondang sabangunan. Brass band juga tidak dapat menggantikan fungsi gondang sabangunan dalam hal yang sakral seperti gondang saem. Ini pertanda bahwa pemakaian brass band dalam upacara adat hanyalah penggantian yang membawa perubahan nilai-nilai pada upacara adat.
Dalam mentransformasikan gondang sabangunan, para pemain kelompok-kelompok brass band, secara konseptual menghubungkan teknik dan kedudukan permainannya dengan instrumen gondang sabangunan.

Tabel 2
Subtitusi instrumen antara Ensambel Gondang Sabangunan
dengan Brass Band

No Instrumen ensambel Gondang Sabangunan Instrumen Brass Band
1. Taganing Trumpet
2. Gordang Drum set
3. Ogung Oloan Sausafon
4. Ogung Ihutan Saksofon Alto
5. Ogung Doal Trombon
6. Ogung Panggora Saksofon Tenor
7. Sarune Trombon
8. Hesek Simbal

Seperti terlihat pada tabel di atas, alat musik saksofon alto menggantikan fungsi ogung ihutan dan saksofon tenor menggantikan ogung panggora. Keduanya kalau merujuk kepada teknik bermain adalah lebih mengutamakan ritmis ketimbang melodis. Sementara peran melodis dibawa oleh trombon yang menggantikan taganing dan trumpet yang menggantikan sarune. Namun dalam praktiknya fungsi musikal yang dibawakan saksofon juga dapat membawakan melodi. Contoh gaya permainan brass band sebagai cikal bakal musik populer Batak Toba adalah seperti pada Notasi 1 berikut ini.

Notasi 1
GONDANG MULA-MULA/SOMBA-SOMBA

MM ♪ = 130 Disajikan Oleh: Tambunan Musik Group

Dilihat dari sajian di atas, secara umum tekstur musik disajikan secara polifoni. Digunakan dua saksofon, yaitu saksofon alto dan saksofon tenor, kedua-duanya membawakan melodi yang berbeda dan ritme yang berbeda pula. Namun bersama trumpet, sausafon, dan trombon—membentuk jalinan harmoni polifoni. Sementara itu trombon membawakan teknik up beat yang dalam ensambel gondang sabangunan dilakukan oleh ogung doal. Sausafon selain memberikan unsur harmoni sekali gus juga melakukan teknik apergiasi, yaitu memainkan nada-nada akor tetapi dalam jalinan melodi dan ritmik yang diulang-ulang
Masuknya instrumen saksofon ini ke dalam musik populer Batak Toba ini juga mengalami perubahan-perubahan evolutif dan tidak mendadak. Sebelum masuknya agama Kristen ke daerah Batak Toba, orang-orang Batak Toba sendiri telah memiliki instrumen sarune yang menjadi bagian integral dari ensambel gondang sabangunan. Ensambel ini terdiri dari: lima taganing (conical drum chime) ditambah satu gordang, ogung (oloan, ihutan, panggora, dan doal), hesek, dan sarune (shawm).
Awalnya di gereja HKBP dan GKPS diajarkan permainan alat-alat musik trumpet dan saksofon. Kemudian masyarakat Batak Toba sendiri mengkreasikan sebuah genre yang disebut brass band atau musik tiup terutama penggunaannya untuk mengiringi upacara kematian, terutama kematian saur matua.
Kematian saur matua bagi masyarakat Batak Toba, sayur matua bagi masyarakat Batak Simalungun, dan cawir metua bagi masyarakat Karo, adalah apabila orang yang meninggal tersebut telah mencapai usia dalam kategori tua, memiliki anak, memiliki harta yang relatif banyak, dan semasa hidupnya menduduki tingkat sosial yang baik. Bagi masyarakat Batak Toba untuk mencapai tujuan hidup dan diakhiri kematian yang saur matua, mereka memiliki konsep tripartit kehidupan yaitu: hasangapon, hagabeon, dan hamoraon.
Dari sini kemudian para pemusik populer Batak Toba memasukkan alat musik saksofon untuk mengiringi lagu-lagunya. Kapan masuknya instrumen saksofon ke dalam musik populer Batak Toba, kemungkinan besar secara historis adalah sejak munculnya musik populer Batak Toba yang disiarkan di radio, sekitar tahun 1930-an.
Musik populer Batak Toba itu berkembang dengan masuknya pengaruh budaya asing dan berinteraksi dengan budaya Batak Toba. Awalnya musik populer Batak Toba dipengaruhi oleh musik gereja yang mana tangga nada diatonis nampak di dalam melodinya secara melodis. Seiring perkembangan jaman dan perkembangan teknologi, sehingga masyarakat dan para pemusik Batak Toba banyak mendengar berbagai jenis irama yang mana sarana utamanya adalah radio. Karena seringnya mendengar musik dalam berbagai irama, para pemusik mendapatkan wawasan secara musikal, alhasil timbul keinginan para pemusik membuat sesuatu yang baru di dalam musik populer Batak Toba yang membawa musik Batak Toba itu sendiri kepada perkembangan.

8. Periodesasi Lagu Populer Batak Toba
Menurut Panggabean (1994:30-39) musik Batak Toba dapat dibuat penggolongannya kepada empat masa, yaitu: (a) tradisi, (b) transisi, (c) modernisasi, dan (d) konstilasi.

8.1 Masa Tradisi
Masa tradisi merupakan corak asli dari musik Batak Toba secara melodis, karena belum ada variasi-variasi dalam melodi yang dipengaruhi tradisi asing. Apabila dibandingkan dengan struktur harmoni Barat, lagu-lagu pada masa tradisi ini terasa lebih spesifik disebabkan oleh wilayah nada bagi melodi yang dihasilkan oleh instrumen dan tangga nada diatonis belum digunakan.

8.2 Masa Transisi
Masa transisi dalam lagu-lagu Batak Toba terjadi perkembangan dengan adanya perubahan gaya. Hal ini disebabkan masuknya pengaruh gereja, yang mana lagu-lagu di dalam gereja mengiringi saat kebaktian adalah menggunakan harmoni Barat, walaupun lirik lagunya dalam bahasa Batak Toba. Sistem harmoni Barat itu dibawa oleh para misionaris ke dalam gereja Batak. Pengaruh gereja tersebut sangat kuat di dalam lagu-lagu populer Batak Toba, hal ini dapat dilihat pada wilayah nada yang sudah berkembang pada masa ini apabila dibandingkan dengan masa sebelumnya. Masa transisi ini komponis yang paling berpengaruh adalah Tilhang Gultom, seorang pelopor Opera Batak yang banyak menciptakan lagu-lagu Batak untuk pertunjukan Opera Batak, sekitar dasawarsa 1920 sampai 1930-an.

8.3 Masa Modernisasi
Masa modernisasi merupakan masa perkembangan musik Batak Toba yang semakin maju. Salah satu faktor penyebabnya adalah semakin majunya teknologi termasuk media massa seperti radio dan piringan hitam. Hadirnya radio siaran yang resmi berdiri tanggal 16 Juli 1925 di Batavia (sekarang Jakarta), sangat menunjang perkembangan musik di tanah air termasuk musik populer Batak Toba. Musik populer Batak Toba mulai diperdengarkan di radio pada mulanya direkam pada bentuk piringan hitam. Orang pertama yang merekam musik populer Batak Toba adalah Romulus Lumban Tobing (ayah Gordon Tobing). Lagu-lagu Batak mulai diperdengarkan di radio pada tanggal 10 Januari 1939 yang dimainkan oleh Hard Batak Hawaiian Tapanuli dipimpin oleh F. Toenggoel Hutabarat (Panggabean, 1994:34).
Sejak maraknya musik populer dalam berbagai irama pada siaran radio, masyarakat dan pemusik Batak Toba sering mendengar berbagai macam irama seperti: chacha, jazz, rumba, waltz, tango, seriosa, dan lain-lain. Hal ini merupakan faktor pendorong bagi pemusik Batak Toba untuk membuat musik Batak Toba menjadi sesuatu yang baru, dan mencoba membuat musik Batak Toba dengan berbagai irama seperti yang tertera di atas salah satu contoh adalah lagu yang berjudul Lissoi. Lagu ini digarap oleh Nahum Situmorang dalam irama waltz dengan metrum 3/4. Pemusik pelopor pada masa ini adalah Nahum Situmorang, Sidik Sitompul, Ismail Hutajulu, Marihot Hutabarat, dan Cornel Simanjuntak.

8.4 Masa Konstelasi
Masa konstelasi merupakan sebuah hasil interaksi antara corak gaya sebelumnya dengan gaya baru, corak yang sedang ada pada masa ini dalam musik populer secara umum). Masa ini muncul sejumlah pemusik baru yang mencoba memunculkan dan membuat lebih baru dari masa sebelumnya seperti Andolin Sibuea, Poster Sihotang, Tagor Tampubolon dan yang paling baru adalah Vicky Sianipar. Masa ini dapat dikatakan suatu trend baru dalam blantika musik populer Batak Toba, dikarenakan pada masa sebelumnya ada lagu-lagu yang diciptakan komponis Batak Toba saat ini, penggarapannya digabung secara tradisi dan teknologi modern. Misalnya lagu Sinanggar Tullo digarap oleh Andolin Sibuea ke dalam irama remix akan tetapi menggunakan instrumen tradisional seperti sulim Batak dan taganing (drum chime) dipadukan dengan alat instrumen modern (berasal dari kebudayaan Barat) seperti seperangkat alat band dan program keyboard synthesizer. O Tano Batak lagu ini digarap oleh Vicky Sianipar dengan bentuk rock dan dimasukkan unsur-unsur orkestra Barat.
Selain lagu-lagu lama digarap dengan bentuk komposisi baru muncul juga lagu-lagu baru di mana sistem penggarapannya mengadopsi beberapa elemen, estetika, harmoni dan juga instrumen sehingga munculnya suatu rasa baru yang lebih dinamis salah satunya instrumen saksofon, hal seperti ini dinamakan perpaduan antara beberapa kebudayaan atau cultural contact. Pengambilan elemen-elemen budaya asing dan mencoba menggabungkan dengan budaya sendiri sehingga terjadi suatu interaksi yang menghasilkan model baru dan rasa yang lebih dinamis. Dalam musik populer Batak Toba, instrumen saksofon fungsi utamanya adalah membawa melodi antara frase-frase vokal yang kosong.

9. Fungsi Sosiobudaya
Di dalam antropologi, teori fungsi didasarkan kepada teori belajar (learning theory). Proses belajar adalah ulangan-ulangan dari reaksi-reaksi organisme terhadap gejala-gejala dari luar dirinya sedemikian rupa, sehingga salah satu kebutuhan nalurinya dapat dipuaskan. Teori ini sering juga disebut teori S-D-R (stimulus-drive-reaction). Teori ini pada prinsipnya menyatakan bahwa segala aktivitas kebudayaan sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dan kebutuhan-kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan kehidupannya, misalnya: kesenian timbul karena pada mulanya manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan; ilmu pengetahuan timbul karena kebutuhan naluri manusia untuk selalu ingin tahu. Dalam konteks seni musik popular Batak Toba, seni ini muncul karena berbagai kebutuhan dalam budaya Batak Toba.
Di dalam teori antropologi, ada dua aliran fungsionalisme, yaitu aliran Malinowski, yang mengemukakan fungsi timbul karena kebutuhan biologis manusia. Yang kedua adalah aliran Radcliffe-Brown yang mengemukakan bahwa fungsi berkaitan dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus sedangkan individu-individu dapat berganti setiap waktu. Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan dari suatu bagian aktivitas terhadap aktivitas secara keseluruhan di dalam sistem sosial masyarakatnya, untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal (Radcliffe-Brown 1951:181).

By the definition here offered ‘function’ is the contribution which a partial activity makes of the total activity of which it is a part. Tha function of a particular social usage is the contribution of it makes to the total social life as the functioning of the total social system. Such a view implies that a social system … has a certain kind of unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it as a condition in which all parts of the social system work together with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i.e., without producing persistent conflicts which can neither be resolved not regulated.

Fungsi menunjukkan proses kehidupan sosial atau aktivitas komunikasi bagi kelangsungan hidup struktur sosial yang mewadahinya dalam sebuah sistem. Sebaliknya, suatu proses kehidupan sosial atau aktivitas suatu masyarakat (comunity) dapat dikatakan tidak fungsional apabila aktivitas tersebut tidak mampu lagi memberikan sumbangan bagi sistem sosialnya. Dalam keadaan ini, kesenian dalam kehidupan sosial dalam penelitian ini musik popular Batak Toba, dapat dipandang sebagai bagian dari proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan kehidupan budaya masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara.
Untuk mengamati suatu genre seni tentu saja tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat pendukungnya. Dalam hal ini Malinowski, seorang tokoh antropolgi dalam bidang fungsionalisme, menyatakan bahwa fungsi bukan hanya sekedar hubungan praktis tetapi juga bersifat integratif, dalam arti mempunyai fungsi hubungan dengan lingkungan alam yang berkaitan dengan kompleksitasnya (Malinowski 1987:165-171).
Soedarsono yang melihat fungsi seni terutama dari hubungan praktis dan integratifnya, merreduksinya menjadi tiga fungsi utama, yaitu: (1) untuk kepentingan sosial atau sarana upacara; (2) sebagai ungkapan perasaan pribadi yang dapat menghibur diri; dan (3) sebagai penyajian estetis.
Menurut Merriam musik dipergunakan dalam situasi tertentu yang menjadi bagian darinya, fungsi ini dapat atau tidak dapat menjadi fungsi yang lebih dalam. Dia memberikan contoh, jika seseorang menggunakan nyanyian untuk kekasihnya, maka fungsi musik seperti itu dapat dianalisis sebagai kontinuitas dan kesinambungan kelompok biologis (keturunan). Mekanismenya adalah seperti penari, pembaca doa, ritual yang diorganisasikan, dan kegiatan-kegiatan seremonial. “Penggunaan” menunjukkan situasi musik dipakai dalam kegiatan manusia; sedangkan “fungsi” memperhatiakn pada sebab yang ditimbulkan oleh pemakaiannya, dan terutama tujuan-tujuan yang lebih jauh dari apa yang dilayaninya.
Berkaitan dengan musik popular Batak Toba, penggunaannya adalah untuk memeriahkan suasana pesta perkawinan; memeriahkan suasana pesta rakyat misalnya Pesta Rakyat Danau Toba, untuk mengiringi upacara kematian (baik saur matua atau tidak), untuk mencari pencaharian, untuk memeriahkan suatu kegiatan seperti: seminar, lokakarya, peresmian gedung, kepentingan pariwisata, pendidikan, pengiring wisuda, dan lainnya, terutama yang berkaitan dengan identitas budaya Batak Toba.
Contoh kasus, adalah pesta perkawinan Bupati Tapanuli Utara Periode 1990-an yaitu Pak Sinaga, yang mengundang pemusik Booster Latin yang menyanyikan lagu-lagu Batak Toba. Pesta perkawinan ini dilangsungkan di Hotel Danau Toba Internasional. Di luar masyarakat Batak Toba, musik populer Batak ini juga disenangi oleh masyarakat etnik lainnya di Sumatera Utara. Misalnya saja ketika puteri Bapak Drs. Akmal Hasibuan, Direktur Utama Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) III, tahun 2004 ini, melangsungkan acara perkawinan, ia mengundang dua penyanyi populer Batak Toba dari ibukota Jakarta, yaitu Jack Marpaung dan Ucok Amigos, mereka menyanyikan lagu-lagu Batak Toba seperti Tao Toba, Sitogol, Surat Narara, dan lain-lainnya. Namun dalam konteks ini Drs. Akmal Hasibuan juga mengundang beberapa pemusik Melayu atau dangdut Sumatera Utara. Dengan demikian musik populer Batak Toba difungsikan dalam pesta perkawinan.
Di Sumatera Utara musik populer Batak Toba ini tetap eksis karena terutama kegunaannya untuk memeriahkan suasana pesta orang-orang di kedai-kedai minuman (baik yang tidak mengandung alkohol ataupun yang mengandung alkohol) dan makanan. Fungsinya dalam konteks ini adalah menghibur pengunjung lewat satu genre seni hiburan–dalam bentuknya menyanyi sambil menari secara berpasangan atau berkaraoke. Kegiatan seperti ini misalnya saja seperti yang dilakukan di hotel-hotel di Kota Parapat, yang mengadakan hiburan-hiburan setiap malam.
Untuk kegiatan-kegiatan seperti seminar, lokakarya, peresmian gedung, pariwisata biasanya hanya disajikan beberapa lagu populer Batak Toba saja, terutama yang telah dikenal luas, baik masyarakat Batak maupun di luarnya.
Fungsi lainnya musik populer Batak Toba adalah untuk kepentingan bisnis, baik dalam tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Fungsi ini berkaitan erat dengan konsep perdagangan bebas dunia, yang menganut sistem pasar terbuka atau lazimnya disebut liberalisasi. Keadaan ini sangat menguntungkan fihak-fihak yang memiliki modal besar. Mereka inilah yang siap mengatur dan mendistribusikan polarisasi musik populer seluruh Dunia, tak terkecuali musik populer Batak Toba. Sistem semikian ini dikelola dalam konteks kapitalisame dunia. Tujuan utamanya untuk mencari untung yang sebesar-besarnya, dengan modal sekecil-kecilnya. Dalam konteks ini, musik populer Batak Toba umumnya diterbitkan dan diedarkan dari Jakarta, sedangkan prosesnya bias di Jakarta atau bias pula di Kota Medan atau kota-kota lainnya di Sumatera Utara.
Fungsi lainnya musik populer Batak Toba adalah sebagai ekspresi identitas kultural masyarakat Batak Toba atau masyarakat Batak lainnya. Hal ini terasa jelas bahwa setiap kegiatan yang berkaitan dengan unsure budaya Batak Toba, selalu menyertakan genre musik populer ini, terutama mereka yang berada di perkotaan. Bahwa musik populer dianggap sebagai simbol dari status modern dan sekali gus tradisi budaya yang menjadi identitas masyarakat Batak Toba itu sendiri. Modern dalam pengertian terbuka, toleran, mengambil unsur asing yang dianggp menjadi kebanggaan, tanpa harus hilang jati dirinya.
Fungsi lain musik populer Batak Toba adalah untuk membina kerukunan antara sub masyarakat Batak. Dalam masyarakat Batak, yang terdiri dari beberapa sub, seperti: Mandailing-Angkola, Batak Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak-Dairi. Selain mereka memiliki berbagai perbedaan, mereka juga memiliki berbagai kesamaan, yang diantaranya diekspresikan dalam budaya musik populer Batak atau Tapanuli. Dalam lagu-lagu ini sering juga selain lagu populer Batak dicipta lagu-lagu populer sub Batak lainnya. Hal ini menunjunkkan solidaritas di antara mereka.
Fungsi lainnya musik populer Batak Toba menurut peneliti adalah untuk kesinambungan kebudayaan. Masyarakat Batak Toba menyadari akan masa depan budaya mereka. Di saat yang sama globalisasi ataupun internasionalisasi begitu gencarnya masuk ke dalam kebudayan mereka. Selain itu, untuk menghindar atau melakukan puritanisasi juga tidak mungkin. Salah satu upayanya adalah menciptakan musik populer dan juga melakukan kontinuitas budaya tradisinya, yang terbentuk dalam musik populer Batak Toba. Dengan demikian fungsi musik populer Batak Toba sangat berkaitan erat dengan eksistensi kebudayaan Batak Toba. Selanjutnya kita kaji struktur musik populer Batak Toba.

10. Struktur
Struktur sangat erat kaitannya dengan fungsi. Dalam antropologi, pemikiran konsep struktur sosial yang dikemukakan Radcliffe-Brown pada hakekatnya dipusatkan kepada susunan hubungan antara individu-individu yang menyebabkan bermacam-macam bentuk dan sistem masyarakat. Perumusan dari susunan individu di dalam masyarakat ini lazim disebut dengan struktur sosial (social structure). Struktur musik dan tari juga berkaitan erat dengan struktur sosial dalam suatu kebudayan masyarakat. Para etnomusikolog setuju bahwa musik hanya dapat dianalisis dari format yang jelas. Oleh kerana itu perlu notasi.
Dengan mengikuti pola pikir tersebut, penulis mengemukakan bahwa sebagai produk seni, seni ronggeng juga mempunyai struktur, yang pada hakekatnya dipusatkan kepada susunan hubungan antar seni: musik (termasuk teksnya) serta tari. Struktur seni ini menyebabkan gaya seni musik populer Batak Toba. Berikut ini akan penulis deskripsikan secara umum saja, struktur musik populer Batak Toba di Sumatera Utara.

10.1 Teks
Secara umum musik populer Batak Toba jumlahnya ribuan. Namun berdasarkan temanya biasanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) tema percintaan, (b) tema perjuangan, (c) tema gambaran keindahan alam, (d) tema religi, dan lainnya.
Misalnya lagu Horas ma Ho, bertemakan tentang percintaan, khususnya perpisahan antara dua sejoli muda-mudi, seperti dapat dilihat dalam teks berikut ini.

Horas Ma Ho
Molo saut maho lao tu na dao
Molo saut maho taripar dao
Manadingkon au do na sailaon
Mansai hansit mansai ponggor do hu hilala
Molo ia ma nina roham
Molo ina ma saut dihatam
Sai horas ma ho nang di na dao
Horas maho, horas maho, horas ito
Ref:
Sa di hari o ro, hupaima do ho
Sai horas maho nang di na dao
Horas ma ho, horas ma ho, horas nang au

Artinya:
Bila ku pergi ke tempat nan jauh
Bila kamu berpisah dariku
Meninggalkan ku selalu
Sungguh sakit, sungguh perih ku rasakan
Bila itu yang kamu mau
Bila itulah yang terjadi
Selamat jalanlah kau yang pergi
Selamat, selamat, selamatlah kasih
Ref:
Kapan pun kau datang, engkau kan ku tunggu
Selamat jalanlah, meskipun jauh
Bahagialah, bahagialah, begitu juga diriku.

Teks tersebut di atas menggambarkan jiwa seorang seniman penulis lagu yang akan segera meninggalkan kekasihnya, dalam jarak yang cukup jauh. Perpisahan itu membuat sakit hati, baik bagi yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan, karena keduanya sedang dimabuk asmara. Namun kehendak Tuhan berkata bahwa perpisahan itu memanglah harus terjadi. Kemungkinan kekasih yang akan pergi itu akan bersekolah atau bekerja, atau yang lainnya, yang penting adalah untuk masa depan mereka berdua. Namun demikian, tak lupa doa mereka kepada Tuhan agar selamatlah sampai di rantau orang. Di akhir bait pada bagian refrein, adalah harapan untuk dapat bersatu kembali, mencapai kebahagiaan yang sama-sama dicita-citakan selama ini.
Untuk tema keindaan alam, umumnya lagu-lagu populer Batak Toba umumnya memuji keindahan alam Danau Toba. Bagaimanapun Danau Toba adalah danau kebanggaan masyarakat Toba, sebagai kawasan yang indah (na uli). Lihat pada teks lagu berikut ini.

O Tao Toba
Angka dolok na timbo, do mangkaliangi ho, o Tao Toba na uli
Tapianmu natio i, tongtong dibahen ho dalan lao tu pulo mi
Haumana tung bolak, adaranna pe lomak di pangisi ni luatmi
Pinahanna pe rarak, pandaraman pe bahat na humaliang topimi
O tao Toba, raja ni sude na tao
Tao na sumurung nalumobi ulimi
Molo huida rupami sian na dao,
Tudos tu intan do denggan jala uli
Barita ni hina ulim di tano on
Umpama ni hinajogim, di Portibion
Mambahen masihol, saluhut ni nasa bangso
Mamereng ho o Tao Toba na uli.

Artinya:
Bukit-bukit yang tinggi, mengelilingimu, O Danau Toba yang indan
Airmu yang jernih, selalu kau buat sebagai perantara ke pulaumu
Sawah yang luas, ladang yang subur, untuk penghunimu,
Ternak yang banyak, mata pencaharian pun banyak, bagi penghuni sekitarmu,
O Danau Toba raja semua danau, danau terbesar, terutama keindahanmu.
Bila ku pandang panoramamu dari jauh, bagaikan intan berkilai dengan keindahanmu
Keindahanmu termasyhur ke penjuru dunia, sebagai wibawamu di dunia ini,
Membuat seluruh bangsa rindu, untuk melihatmu, Wahai Danau Toba yang indah.

Teks lagu O Tao Toba tersebut adalah berupa puji-pujian seniman pengarangnya terhadap danau Toba. Keadaan itu diagambarkan secara eksplisit, bahwa Danau Toba adalah danau terbesar, terutama keindahannya. Danau ini juga merupakan bagian dari rangkain bukit barisan di pulau Sumatera, yang merupakan keunikan sendiri sebagai danau vulkanik, yang mengelilingi pulau Samosir di tengahnya. Pulau Samosir adalah pulau di tengh pulau besar Sumatera. Demikian sekilas tentang teks lagu-lagu musik populer Batak Toba, yang sebenarnya mengekspresikan segala kompleks gagasan masyarakat Batak Toba, terutama dalam melakukan kehidupannya sehari-hari sesuai dengan dimensi waktu dan ruang yang dilalui mereka.

10.2 Struktur Melodi
Struktur melodi, yang akan dianalisis, terlebih dahulu harus ditranskripsikan, yaitu pemindahan dimensi ruang ke dalam dimensi visual. Dalam rangka kerja ini, peneliti menggunakan teknik-teknik transkripsi sebagai berikut.
Transkripsi adalah proses menotasikan bunyi dari yang kedengaran secara aural menjadi visual dalam bentuk simbol-simbol bunyi. Simbol bunyi yang terlihat tersebut dinamakan notasi musik, yang pada sistem notasi Barat, secara garis besar dibagi dalam dua jenis, yaitu notasi balok dan notasi angka.
Dalam penelitian ini, notasi lagu-lagu populer Batak Toba menggunakan notasi balok, dengan menggunakan garis paranada dalam kunci trebel atau kunci G. Alasan penggunaan notasi balok ini adalah: (a) lebih dikenal secara umum dalam penulisan musik baik secara nasional maupun internasional, (b) lagu-lagu populer Batak Toba umumnya diciptakan dengan menggunakan notasi balok atau angka seperti yang ada dalam kebudayaan Barat, (c) notasi balok Barat ini sesuai digunakan untuk musik-musik diatonik maupun mikrotonal.
Untuk mentranskripsikan musik, ada dua masalah penting yang berhubungan dengan teori dan metodologi, yaitu notasi preskriptif dan deskriptif. Notasi preskriptif yaitu bertujuan untuk digunakan para penyaji (bagaimana ia harus menyajikan sebuah komposisi musik). Notasi ini merupakan sarana untuk mengingat. Selanjutnya yang dimaksud notasi deskriptif adalah notasi yang bertujuan untuk menyampaikan kepada pembaca ciri-ciri dan detil-detil komposisi musik yang memang belum diketahi secara rinci oleh para pembaca.
Untuk mentranskripsikan musik populer Batak Toba maka berbagai langkah peneliti lakukan sebagai berikut. (a) mendengarkan nada secara seksama, untuk membedakan antara bunyi, alat musik dan lainnya, (b) untuk memindahkan nada yang didengar ke dalam bentuk tulisan, digunakan garis paranada untuknotasi balok, (c) penulisan bentuk yang pertama ditulis dengan rinci, untuk menghindarkan terjadinya kesulitan dalam bentuk yang pertama dengan bentuk lainnya, (d) memperlambat kecepatan tape dua kali dari kecepatan normal, (e) menggunakan kecepatan normal, kemudian asil transkripsi diperiksa kembali, lalu diteruskan pada nada lainnya.
Adapun lagu yang digunakan sebagai sampel analisis adalah tiga lagu, yaitu: (1) Ala Ma Dogema, (2) Dana Tiniptip Sanggar, dan (3) Guygun Laskar Rakyat. Setelah melakukan proses transkripsi atau notasi dengan mengikuti teknik-teknik dan metode-metode seperti yang telah dikemukakan di atas, maka hasilnya adalah seperti pada Notasi 2 di bawah ini.

Notasi 2.

Notasi 3.

Notasi 4.

Dengan menggunakan teori weighted scale untuk analisis melodi, yang ditawarkan oleh Malm (1977), yang mencakup 8 (delapan) aspek melodi, yaitu: (1) tangga nada, (2) nada dasar, (3) interval, (4) wilayah nada, (5) frekuensi pemakaian nada, (6), kadensa, (7) formula melodi, dan (8) kontur, maka hasilnya adalah sebagai berikut.
(1) Tangga nada yang digunakan ketiga lagu tersebut adalah sama-sama tangga nada mayor, untuk lagu Ala Ma Dogema adalah tangga nada D Mayor, untuk lagu Danatiniptip Sanggar menggunakan tangga nada Es Mayor, dan untuk lagu Guygun Laskar Rakyat menggunakan tangga nada F Mayor.
(2) Nada dasar ketiga lagu populer Batak Toba adalah mengikuti tangga nadanya, yaitu nada dasar D untuk lagu Ala ma Dogema, nada Es untuk lagu Danatiniptip Sanggar, dan nada dasar F untuk lagu Guygun Laskar Rakyat.
(3) Interval yang digunakan oleh ketiga-tiga lagu populer Batak Toba, terutama banyak menggunakan langkah bukan lompatan. Interval yang paling banyak muncul adalah sekunde mayor dan minor. Selain itu juga digunakan interval ters, kuart, kuint, dan sekta.
(4) Wilayah nada yang digunakan ketiga lagu populer Batak Toba tersebut adalah sebagai berikut. Untuk lagu Ala ma Dogema nada terendah adalah D di atas C tengah dan nada tertinggi adalah nada E satu oktaf di atas C tengah. Maka keseluruannya adalah berjarak 1400 sent atau 7 langkah. Untuk lagu Danatiniptip Sanggar, nada terendah adalah C tengah, dan nada tertinggi adalah nada E satu oktaf di atas C tengah. Maka keseluruhannya berjarak 1600 sent atau 8 langkah. Untuk lagu Guygun Laskar Rakyat, nada terendah C tengah, dan nada tertinggi D satu oktaf di atas C tengah. Keseluruannya berjara 1400 sent atau 7 langkah. Dengan demikian, ketiga lagu itu menggunakan wilayah nada satu oktaf lebih sedikit saja.
(5) Frekuensi pemakaian nada-nada umumnya menggunakan nada-nada dalam rangkain harmonik yaitu, nada root, ters, dan kuint. Nada-nada lainnya adala sebagai pelengkap dalam rangkaian tangga nada mayor.
(6) Kadensa juga mengikuti alur rangakian harmonik, yaitu nada root, ters, dan kuint.
(7) Formula melodi yang digunakan ketiga lagu musik populer Batak Toba ini umumnya berbentuk binari dan ternari.
(8) Kontur yang digunakan umumnya adalah pendulum.

10.3 Struktur Ensambel
Musik populer Batak Toba diwujudkan dengan menggunakan medium bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat musik dan vokal manusia. Alat-alat musiknya biasanya membawa irama dan tekanan irama. Sedangkan vokalnya biasanya serdasar kepada pantun tradisi Batak Toba yang dinyanyikan dengan mempergunakan bentuk melodi yang sama atau hampir sama dengan teks yang berbeda, yang disebut strofik. Alat- alat musik ini dapat diklasifikasikan ke dalam ensambelnya. Musik ini dikreasikan dalam dua dimensi: waktu dan ruang.
Alat-alat musiknya berdasarkan klasifikasi etnosais dikelompokkan ke dalam: (1) alat-alat musik pembawa ritme, (2) alat-alat musik pembawa melodi, dan (3) alat musik yang memberikan alur progresi akord. Alat musik pembawa rentak biasanya terdiri dari drum kadang dipadu dengan taganing (gendang konis satu sisi lima buah). Alat-alat musik pembawa melodi dan juga progrei akord, biasanya: gitar, saksofon, dan lainnya.

11. Kesimpulan dan Saran
Dari aspek sejarah, musik populer masuk dalam kebudayaan etnik Batak Toba melalui proses kesejarahan yang panjang dan sifatnya bertahap. Unsur harmoni dan musik Barat awal kali masuk di gereje-gereja Batak (HKBP dan GKPS), yang bertujuan sebagai sarana ibadat, termasuk “menepatkan” sistem nada-nada di Barat terhadap lagu-lagu gereja Batak. Awal kali alat-alat musik pendukung musik gaya Eropa ini tergabung dalam ensambel alat musik tiup, yang terdiri dari: saksofon, trumpet, horn, sausafon, dan lainnya.
Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Batak Toba mengkreasikan satu genre ensambel musik tiup yang disebut juga brass band untuk kepentingan upacara-upacara kematian, yang fungsinya sebagian menggantikan gondang sabangunan. Brass band ini sejak tahun 1970-an hingga kini mengalami perkembangan yang pesat.
Sejalan dengan itu pula, di negara Republik Indonesia muncullah industri musik rekaman, yang awalnya terpusat di Jakarta. Para seniman dari daerah-daerah etnik mencoba memanfaatkan teknologi ini sebagai media perkembangan seni populer etnik atau daerahnya. Di Tanah Batak muncul berbagai komponis etnik Batak Toba, seperti Nahum Situmorang, Liberty Manik, Tilhang Gultom, Sidik Sitompul (S.Dis), dan lainnya. Begitu juga dengan kelompok dan para penyanyi populer Batak Toba seperti: Kelompok Trio Lasidos, Trio Ambisi, Trio Amsisi, Edi Silitonga, Jack Marpaung, Nainggolan Sisters, Rita Butar-butar. Begitu pula para pemusik yang menonjol seperti: Jens Butar-butar, Cucu Situmorang, Eka Manurung, Martogi Sitohang, Andolin Sibuea, dan lainnya.
Secara umum, sejarah perkembangan musik populer Batak Toba, dibagi ke dalam empat fase, berdasarkan perubahan-perubahan besar, yaitu: (a) masa tradisi dari sejak adanya masyarakat batak Toba sampai pertengahan abad 19, (b) masa transisi yaitu saat masuknya gereja di pertengaan abad ke-19 sampai awal abad ke-20, (c) masa modernisasi awal abad ke-20 sampai tahun 1960-an, masa ini ditandai dengan munculnya siaran radio, (d) masa konstelasi tahun 1960-an sampai sekarang, yang ditandai dengan derasnya pengaruh musik populer Barat, seperti disco,techno pop, rap, dan lainnya.
Fungsi utama musik populer Batak Toba adalah sebagai kontinuitas kebudayaan dan mempertahankan jati diri masyarakat Toba secara keseluruhan. Fungsi-fungsi lainnya adalah untuk kepetingan ekonomi dalam konteks kapitalisasi global, integrasi antar warga Batak, sebagai bagian dari stabilitas dan kesinambungan kebudayaan, hiburan, mata pencaharian, dan lain-lainnya. Penggunaannya umumnya adalah memeriahkan acara pesta perkawinan, kematian, adat, dan lainnya, terutama yang berkaitan dengan budaya Batak Toba.
Teks yang digunakan dalam musik populer Batak Toba umumnya berdasar kepada pantun dalam tradisi Toba, walau ada juga yang lebih bebas memilih gaya. Namun secara umum teks selalu menggunakan rima dan baris. Teks umumnya memakai bahasa Batak Toba, dengan diksi yang sedikit lebih mempunyai gaya bahasa dibandingkan bahasa sehari-hari.
Struktur melodi, menggunakan sistem tangga nada diatonik terutam mayor Barat, yang disesuaikan juga dengan strktur modal dalam musik Batak Toba lama. Nada dasar mengikuti alur tangga nada Barat, mayor atau minor mengutamakan nada dasarnya. Wilayah nada menggunakan satu oktaf lebih sedikit. Formula melodi yang digunakan umumnya binari atau ternari. Konturnya yang paling umum adalah pendulum.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka kami para peneliti selanjutnya mengambil kesimpulan umum. Bahwa musik populer Batak adalah hasil yang kompleks dari proses penempatan dirimasyarakat Batak dalam kondisi Sumatera Utara, Indonesia, dan Dunia yang serba berkembang secara pesat. Di dalamnya dilakukan akulturasi, inkulturasi, dan enkulturasi budaya, dalam konteks globalisasi, dengan tetap memelihara nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari nenek moyang masyarakat Batak Toba.
Penelitian ini barulah dalam tahap awal, tentu masih perlu terus disempurnakan terutama oleh para ilmuwan yang berkaitan bidang ilmunya. Selain itu, alangka idealnya apabila penelitian ini melibatkan berbagai pakar, terutama yang terkait, seperti budayawan, ekonom, antropolog, ahli hukum, dan lainnya mengkaji bersama keadaan musik populer Batak Toba ini, dalam kajian multi disiplin ilmu. Sehingga dihasilkan suatu kajian yang mendalam dan kompriensif, yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk perkembangan musik populer Batak Toba di masa depan.
Selain itu, kami memohon kepada semua intelektual musik (budaya) Batak Toba agar terus meneliti, menggali, dan mengembangkan kebudayaan masyarakat Toba, demi kemajuan peradaban masyarakatnya.

12. Bibliografi
Aritonang, Tetty B., 1990. Musik Tiup dalam Upacara Saur Matua di Kota Medan: Analisis Gaya Melodi dan Fungsi Sosial. Medan: Skripsi sarjana Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Bigsby, C.W.E., 1975. Superculture, American Popular Culture, and Europe. London: Paul Elek.
Cook, Nicholas, 1987. A Guide to Musical Analysis. London dan Melbourne: J.M. Dent & Sons Limited.
Duvignand, Jean, 1972. The Sociology of Art. (terjemahan dari The French oleh Timothy Wilson, Paris: Paladin).
Gans, H.J., 1966. “Popular Culture in America: Social Problems in a Mass Society or Social Asset in a Pluralist Society?” Dalam H.S. Becker (ed.) 1966, Social Problems: A Modern Approach. New York, pp. 540-620.
Hiroshue, Masashi, 1988. Prophets and Followers in Batak Millenarian Responses to the Colonial Order: Parmalim, Nasiak Bagi and Parhudamdam, 1890-1930. Canberra: Tesis Doktoral Australian National University.

Hoover, Kenneth R., 1989. Unsur-Unsur pemikiran Ilmiah dalam Ilmu-ilmu Sosial (terjemahan Hartono Hadikusumo). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Kaplan, Max, 1975. Leisure: Theory and Policy. New York: Wiley and Sons Inc.
Lohisse, Jean, 1973. Anonimous Communication, Mass Media in the Modern World. London: George Allen and Unwin Ltd.
Lorimer, Lawrence T. et al 1995. Grolier Encyclopedia of Knowledge. Vol. 1-20. Grolier Incorporated, Danburry, Connecticut.
Lowenthal, Leo, 1961. Literature, Popular Culture, and Society. New York: Pacific Book Publisher.
Madsen, Clifford K. dkk. 1975. Research in Music Behavior. New York dan London: Teachers College Press.
Malinowski, 1987. “Teori Fungsional dan Struktural,” dalam Teori Antroplologi I. Koentjaraningrat (ed.), Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Merriam, Alan P., 1964. The Anthropology of Music. Chicago: North Western University Press.
Pasaribu, Amir, 1986. Analisis Musik Indonesia. Jakarta: Pantja Simpati.
Pasaribu, Ben M., 1986. Taganing Batak Toba: Suatu Kajian dalam Konteks Gondang Sabangunan, Medan: Skripsi Sarjana Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Purba, Setia Dermawan, 1988. Penggunaan, Fungsi, dan Perkembangan Nyanyian Rakyat Simalungun bagi Masyarakat Pendukungnya: Studi Kasus di Desa Dolok Mariah Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Jakarta: Tesis S-2 Antropologi Universitas Indonesia.
Quail, Denis Mc, 1969. Toward to Sociology of Mass Communication. London: Collier MacMillan.
Radcliffe-Brown, A.R., 1952. Structure and Function in Primitive Society. Glencoe: Free Press.
Rosenberg, Bernard dan David Manning White (eds.), 1960. Mass Culture, The Popular Art in America. Glencoe, Illinois: The The Free Press.
Sadie, Stanley (ed.), 1980. The New Grove Dictionary of Music and Musicians. vol. 16, New York: MacMillan Publishers.
Sangti, Batara (Ompu Buntilan), 1977. Sejarah Batak. Balige: Karl Sianipar.
Siantur, Rosmaida, 2003. Analisis Gaya Musikal Lagu Populer Batak Toba dengan Perhatian Khusus pada Lagu-lagu Karya Nahum Situmorang. Medan: Skripsi Sarjana Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Sinurat, Horasman, 2001. Perkembangan Musik Brass di Kota Medan dengan Masuknya Unsur Musik Tradisi Batak Toba: Studi Kasus, Kelompok Musik Sopo Nauli. Medan: Skripsi sarjana Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Soedarsono, 1995. “Pendidikan Seni dalam Kaitannya dengan Kepariwisataan.” Makalah Seminar dalam Rangka Penringatan Hari Jadi Jurusan pendidikan Sendratasik ke-10 FPBS IKIP Yogyakarta, 12 Pebruari 1995.
Tambunan, Nestor Rico, 1996. Tambunan, “Dr. I.L. Nommensen: Missionaris Besar, Penguak Kegelapan Tanah Batak,” Kartini, No. 601, Desember 1996.
Tampubolon, Berliana, 1999. Aspek Penggarapan Melodi pada Instrumen Terompet dan Sulim Dalam Ensambel Musik Tiup pada Masyarakat Batak Toba di Medan. Medan: Skripsi sarjana Fakultas Kesenian Universitas HKBP Nommensen.
Tarihoran, P. Emerson, 1994. Analisis Perbandingan Sttruktur Repertoar Musik Brass Band dengan Gondang Sabangunan dalam Sipitu Gondang di Medan. Medan: Skripsi Sarjana Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Winston, Brain, 1973. The Image of the Media. London: Davis-Pointer.

Tentang Penulis
Muhammad Takari, Dosen Etnomusikologi Fakultas Sastra USU, lahir pada tanggal 21 Desember 1965 di Labuhanbatu. Menamatkan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas dii Labuhanbatu. Tahun 1990 menamatkan studi sarjana seninya di Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya tahun 1998 menamatkan studi magister humaniora pada Program Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sekarang sedang studi S-3 Pengajian Media (Komunikasi) di Universiti Malaya, Malaysia. Aktif sebagai dosen, peneliti, penulis di berbagai media dan jurnal dalam dan luar negeri. Juga sebagai seniman khususnya musik Sumatera Utara, dalam rangka kunjungan budaya dan seni ke luar negeri. Kini juga sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Kantor: Jalan Universitas No. 19 Medan, 20155, telefon/fax.: (061)8215956. Rumah: Tanjungmorawa, Bangunrejo, Ds I, No. 40/3, Deliserdang, 20336. E-mail: mtakari@yahoo.com, takarimhd@yahoo.co.id.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ETNOMUSIKOLOGI

ETNOMUSIKOLOGI, ILMU-ILMU SENI,DAN PENGEMBANGAN TEORI

Muhammad Takari

Abstrak

Tulisan ini mengkaji secara umum tentang keberadaan disiplin etnomusikologi di tengah-tengah ilmu-imu seni dan upaya-upaya pengembangan teori di dalamnya. Etnomusiko-logi adalah disiplin saintifik yang pada dasarnya adalah mengkaji musikk dalam kebudayaan manusia di seluruh dunia ini. Etnomusikologi merupakan difusi dua ilmu utama yaitu musikologi dan antropologi. Etnomusikologi masuk ke dalam kelompok disiplin ilmu-ilmu social dan humaniora atau kemanusiaan sekali gus. Di sisi lain, etnomusikologi juga memiliki disiplin-disiplin saudaranya yatu etnokoreologi, yaitu ilmu yang mengkaji tari dalm konteks kebudayaan manusia. Ada lagi antropologi teater, yaitu ilmu yang mengkaji teater dalam konteks kebudayaan. Ke depan tampaknya etnomusikologi akan terus berkembang sesuai dengan teori-teori yang berkembang di dalamnya. Perkembangan ini berdasar kepada perkembangan musik dalam kebudayaan manusia yang terus secara intens distudi dalam disiplin etnomusikologi.

Pengantar

Kesenian adalah ekspresi dan sebuah unsur dari tujuh unsur kebudayaan. Kesenian dapat berwujud dalam bentuk ide, kegiatan, maupun benda-benda seni. Contohnya dalam budaya musik Toba terdapat ide marsiulak hosa yang dilakukan dalam aktivitas hembusan dengan pernafasan yang sirkular (circular breathing) dalam memainkan alat musik sarune (shwam)—sarune itu sendiri adalah benda seni budaya.  Kesenian mencerminkan sejauh mana tingkat peradaban manusia pendukungnya. Kesenian tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat tertentu karena mereka memerlukan pemuasan akan rasa keindahan atau estetika.[i] Kesenian dapat diekspresikan melalui bunyi yang disebut dengan nada dan ritme; titik, garis dan warna; dialog, prolog, epilog, lakon, adegan; gerak-gerik, mimik muka, dan lain-lainnya. Kesenian dapat digunakan dan difungsikan dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Demikian pentingnya kesenian, sampai-sampai dunia wisata di setiap negara pun memungsikan kesenian untuk tujuan bisnis di bidang ini. Sementara itu, selain fungsinya untuk berbagai kepentingan masyarakat, kesenian juga perlu dikaji secara ilmiah, menurut ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah untuk mengetahui ilmu di sebalik pertunjukan dan perwujudan kesenian. Di antara ilmu-ilmu seni adalah etnologi tari (disebut juga dengan etnokoreologi dan antropologi tari), antropologi teater, ilmu seni rupa, kajian seni pertunjukan (performing art study), kajian seni rupa (visual art study), etnomusikologi, dan lain-lain.  Munculnya disiplin-disiplin seni ini, selaras dengan perkembangan ilmu dan perkembangan kebudayaan manusia di dunia.

Seiring dengan perkembangan peradaban dan keilmuan dunia, maka etnomusikologi muncul secara alamiah, untuk perkembangan ilmu dan pencerahan pemikiran.  Di Dunia Barat (Oksidental) ilmu ini muncul di universitas-universitas seperti Wesleyan University, University California of Berkeley, University California at Los Angeles, University of Hawaii, Brown University, Alberta University, Jaap Kunst University, Durham University, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di Dunia Timur etnomusikologi didirikan di beberapa negara, di antaranya adalah National University Philippine, Universiti Sains Malaysia, dan Universiti Malaya. Di Ausralia didirikan di Monash University.

Di Indonesia, disiplin etnomusikologi umumnya diintegrasi-kan ke dalam sekolah tinggi seni atau institut seni. Misalnya di Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang. Satu-satunya disiplin etnomusiklogi yang diasuh universitas adalah Departemen Etnomusikologi, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (FS USU) Medan.  Selain itu, sejak tahun 2009 ini, ketika Program Studi Etnomusikologi FS USU telah berusia 30 tahun, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jederal Perguruan Tinggi, telah mengizinkan USU untuk membuka Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni. Ini juga yang kedua sebagai S-2 Penciptaan dan Pengkajian Seni yang diasuh oleh universitas, selepas Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan melihat kondisi tersebut di atas, maka kita lihat betapa etnomusikologi sebagai ilmu sangat berperan dalam konteks dunia dan nasional Indonesia.

Dalam makalah ini penulis akan mengkaji etnomusikologi dalam konteks ilmu-ilmu seni. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran, bahwa etnomusikologi secara keilmuan memiliki “saudara-saudara” lainnya. Bagaimana kedudukan etnomusikologi secara keilmuan, hubungannya dengan ilmu-ilmu seni lainnya. Bagaimana pula kedudukannya dalam dunia sains. Kemudian tentu saja bagaimana pengembangan teorinya, agar ilmu ini berkembang dalam masyarakat. Dalam hal ini, etnomusikologi di Indonesia, akan menyumbangkan berbagai teori dari kawasan Dunia Timur bagi mengembangkan ilmu ini dalam konteks etnomusikologi di dunia.[ii]

Penceraahan kepada Masyarakat Dunia

Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan, etnomusikologi telah terbukti mampu memberikan pencerahan-pencerahan kepada umat manusia, baik pencerahan dalam tatanan dunia baru atau lama. Dimulai dari kalangan akademisi, pemerintahan, masyarakat, dan suku bangsa atau etnik. Di belahan bumi Eropa, berkat lahirnya disiplin ini, masyarakatnya memberikan apresiasi, memahami, dan akhirnya menyadari keberanekaragaman kebudayaan di seluruh dunia. Sedikit demi sedikit mereka pun mulai meninggalkan istilah-istilah yang berkonotasi tak baik terhadap kelompok manusia lain seperti istilah savage, primitive, tribal, dan sejenisnya.[iii]

Menurut I Made Bandem, etnomusikologi merupakan sebuah bidang keilmuan yang topiknya menantang dan menyenangkan untuk diwacanakan. Sebagai disiplin ilmu musik yang unik, etnomusikologi mempelajari musik dari sudut pandang sosial dan budaya. Sebagai disiplin yang amat populer saat ini, etnomusikologi merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda umurnya. Kendati umurnya baru sekitar satu abad, namun dalam uraian tentang musik eksotik sudah dijumpai jauh sebelumnya. Uraian-raian tersebut ditulis oleh para penjelajah dunia, utusan-utusan agama, orang-orang yang suka berziarah dan para ahli fillogi. Pengenalan musik Asia di Dunia Barat, pada awal-awalnya dilakukan oleh  Marco Polo, pengenalan musik China oleh Jean-Babtise Halde tahun 1735 dan Josep Amiot tahun 1779. Kemudian musik Arab oleh Guillaume-Andre Villoeau hun 1809. Periode ini dipandang sebagai awal perkembangan etnomusikologi. Masa ini pula diterbitkan Ensiklopedi Musik oleh Jean-Jaques Rousseau, tepatnya tahun 1768, yang memberi semangat tumbuhnya etnomusikologi.[iv]  Penelitian tentang musik rakyat dari berbagai bangsa di Eropa dilakukan oleh Grin dan Herder dan kawan-kawannya, yang akhirnya menjadi tumbuhnya benih keasadaran akan perbedaan budaya dalam persamaan universal makhluk manusia.

Sikap dan ideologi etnosentrisme Eropa perlahan-lahan bertukar ke arah humanisme universal manusia. Misalnya konsep Jerman di atas segalanya (Deuthsland ubber alles) tidak relevan dalam tatanan dunia kini. Begitu juga Amerika Serikat yang menetapkan konsep keanekaragaman (unibis e umum),  terus berusaha menerapkannya walau tetap masih adanya sisa-sisa etnosentrisme, terutama pembedaan warna kulit, serta gerakan puritanisme agama.[v]

Demikian juga di kalangan agamawan, penerimaan perbedaan di dunia ini menjadi suatu keniscayaan yang tak boleh ditolak. Vatikan sebagai pusat Katholik telah memberikan dan menghargai konsep-konsep dasar tentang keberagaman manusia dan agamanya di dunia ini.  Agama Kristen Katholik dan Protestan juga memiliki konsep inkulturasi, yaitu menerima semua kebudayaan di dunia ini dengan keindahannya masing-masing dalam konteks membumikan gereja di mana pun di dunia ini.

Dalam Islam pula dijarakan tentang keanekaragaman budaya ini seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an, yang artinya:  “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kamu bangsa dan puak supaya kamu berkenal-kenalan, sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa di antara kamu.” (Qur’an, surah Al-Hujurat:13). Jadi sejak awal Islam telah menghargai perbedaan itu. Ketika etnomusikologi lahir, maka tiada halangan bagi agama ini untuk menerima disiplin ilmu etnomusikologi. Misalnya di beberapa universitas di Turki, mendirikan disiplin ini secara khas Turki. Demikian pula di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Beberapa etnomusikolog, etnokoreolog, dan antropolog di kawasan Asia Tenggara cukup mewarnai etnomusikologi Dunia. Misalnya kita mengenal nama Mohd Anis Md Noor, Mohamed Ghouse Nasuruddin, Rizaldi Siagian, R.M. Soedarsono, Santosa, Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan, dan lain-lain, sebagai ilmuwan muslim. Demikian pula ilmuwan yang beragama lain di Asia Tenggara seperti Jose Maceda, Tan Sooi Beng, dan lainnya. Ini semua mengindikasikan bahwa etnomusikologi diterima di seluruh dunia—bukan hanya di Dunia Barat saja.

Di kawasan Dunia Timur (Oriental) pula, di tempat-tempat ilmu ini berkembang, masyarakatnya menyadari juga akan aneka ragam budaya di dunia yang sama-sama dihuni makhluk manusia ini. Manusia di Dunia Barat maupun  Dunia Timur menyadari bahwa sifat dan sikap etnosentrisme yang rata-rata terkandung dalam nilai kebudayaan mereka, berangsur-angsur berubah seiring proses globalisasi. Mereka belajar   dari sejarah bahwa konsep-konsep etnosentrisme tak lagi relevan diterapkan di masa kini.  Dengan demikian etnomusikologi turut berperanserta dalam mencerahkan makhluk manusia di seluruh dunia.

Etnomusikologi dalam Konteks Keilmuan

Sebagai sebuah disiplin ilmu, etnomusikologi dengan terang-terangan dinobatkan sebagai dua kelompok disiplin, yaitu ilmu humaniora dan ilmu sosial sekali gus. Selain itu pula, sangat dirasakan perlunya memanfaatkan ilmu eksakta di bidang disiplin ini, terutama yang berkaitan dengan organologi, akustik, dan artefak. Etnomusikologi, pada waktu ini, memberikan kontribusi keunikannya dalam hubungannya bersama aspek-aspek ilmu pengetahuan sosial dan aspek-aspek ilmu humaniora, dalam caranya untuk melengkapi satu dengan lainnya, mengisi penuh kedua pengetahuan itu.  Keduanya akan dianggap sebagai hasil akhir darinya sendiri; keduanya dipertemukan menjadi pengetahuan yang lebih luas.[vi]

Etnomusikologi biasanya secara tentatif paling tidak menjangkau lapangan-lapangan studi lain sebagai suatu sumber stimulasi baik terhadap etnomusikologi itu sendiri maupun disiplin saudaranya, dan ada beberapa cara yang dapat dijadikan nilai pemecahan terhadap masalah-masalah ini.  Studi teknis dapat memberitahukan kita banyak tentang sejarah kebudayaan.  Fungsi dan penggunaan musik adalah sebagai suatu yang penting dari berbagai aspek lainnya pada kebudayaan, untuk mengetahui kerja suatu masyarakat.  Musik mempunyai interelasi dengan berbagai tumpuan budaya; ia dapat membentuk, menguatkan, saluran sosial, politik, ekonomi, linguistik, religi, dan beberapa jenis tata tingkah laku lainnya.  Teks nyanyian melahirkan beberapa pemikiran tentang suatu masyarakat, dan musik secara luas dipergunakan sebagaimana analisis makna terhadap prinsip struktur sosial.  Etnomusikolog seharusnya tak dapat menghindarkan diri terhadap dirinya sendiri dengan masalah-masalah simbolisme di dalam musik, pertanyaan tentang hubungan antara berbagai seni, dan semua kesulitan pengetahuan apa itu estetika dan bagaimana strukturnya.  Ringkasnya, masalah-masalah etnomusikologi bukan hanya terbatas kepada teknik semata–tetapi juga tentang tata tingkah laku manusia.  Etnomusikologi juga tidak sebagai sebuah disiplin yang terisolasi, yang memusatkan perhatiannya kepada masalah-masalah esoteris saja, yang tak dapat diketahui oleh orang selain yang melakukan studi etnomusikologi itu sendiri.  Tentu saja, etnomusikologi berusaha mengkombinasikan dua jenis studi, untuk mendukung hasil riset, untuk memecahkan masalah-masalah spektrum yang luas, yang mencakup baik ilmu humaniora ataupun sosial.

Ilmu pengetahuan humaniora lebih menaruh perhatian kepada nilai-nilai kemanusiaan dibandingkan dengan ilmu pengetahuan sosial, dan lebih menaruh perhatian kepada nilai kebebasan dalam mendeskripsikan perilaku manusia.  Pernyataan ini, secara umum memang benar, yang kembali mendiskusikan dan menanyakan metode-metode daripada menanyakan muatan lapangan studinya.  Begitu juga, penting untuk menyatakan bahwa ilmu pengetahuan humaniora sangat melibatkan nilai-nilai, dan ini menjadi titik kuncinya.  Dengan demikian, fokus ilmu-ilmu humaniora dibangun di atas kritik pengujian dan evaluasi dari produk manusia di dalam urusan kebudayaan (seni, musik, sastra, filsafat, dan religi), sedangkan fokus ilmu pengetahuan sosial adalah cara  manusia hidup bersama, termasuk aktivitas-aktivitas kreatif mereka.

Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Sebagai sebuah disiplin ilmu, etnomusikologi tentu saja harus berdasar kepada tiga esensi dasar dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, yaitu epistemologis, aksiologis, dan ontologis. Dalam filsafat dikenal dua istilah yang saling berkaitan, tetapi memiliki makna yang berbeda yaitu istilah pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (ilmu atau sains) yang berasal dari bahasa Inggris science. Pengetahuan adalah istilah yang digunakan dalam filsafat yang berarti belum sampai kepada tahap ilmu pengetahuan. Filsafat sendiri dapat diartikan sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh—suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.[vii]

Ilmu pegetahuan adalah sebuah disiplin yang mempunyai tahapan-tahapan dan prosedur-prosedur tertentu, yang sering disebut ilmiah. Di antaranya adalah rasionalisme, empirisme, determinisme, hipotesis dan pembuktian, asumsi, pengamatan (observasi), penelitian, pengolahan data, temuan, dan lain-lainnya.[viii]

Dalam ontologis biasanya dipertanyakan apa yang ingin kita ketahui. Seterusnya dalam epistemologis dipertanyakan tentang bagaimana kita mengetahuinya. Sedangkan pada aksiologis ditanyakan nilai apa yang berkembang pada pengetahuan yang kita ketahui.

Ketiga dasar filosofis ini tentu saja dapat diaplikasikan dalam menjawab munculnya etnomusikologi di tengah-tengah ilmu pengetahuan yang bersifat saintifik. Secara ontologis etnomusikologi digunakan oleh para ilmuwannya untuk mengetahui musik dalam kebudayaan.  Atau kalau diperluas menjadi musik dalam kebudayaan, musik sebagai kebudayaan, dan musik dalam konteks kebudayaan. Secara filosofis mengetahui musik tujuan akhirnya adalah mengetahui bagaimana manusia yang menggunakan dan mendukung musik itu. Musik adalah salah satu cabang kesenian, dan kesenian sediri adalah salah satu unsur kebudayaan. Jadi mengetahui musik, harus mempertimbangkan dalam seni dan kebudayaan yang lebih holistik. Selain itu dalam rangka mengetahui musik tentu saja harus melihatnya dalam konteks sosial juga selain budaya. Bagaimana musik ini hidup dan berkembang dalam kelompok manusia, sejauh apa pula sumbangannya dalam konteks sosiobudaya.

Secara epistemologis pula etnomusikologi dalam rangka mengetahui musik dalam kebudayaan, mestilah memiliki teori dan metode. Teori adalah panduan dasar dalam memecahkan dan memerikan fenomena musik dalam konteks sosiobudaya. Teori menjadi alat untuk menganalisis. Namun untuk mengembangkan ilmu dibutuhkan penemuan dan pembaharuan teori di kalangan ilmuwan etnomusikologi atau ilmu terkait secara terus-menerus. Sementara metode digunakan untuk mendukung kerja penelitian dan analisis. Metode yang baik dapat mempermudah kerja etnomusikolog dan memperoleh hasil yang terverifikasi. Teknik kerja dalam etnomusikologi tampaknya sangat diwarnai dan didukung oleh penemuan teknologi terkini. Oleh karenanya etnomusikolog haruslah menguasai teknologi terkait, bukan gagap teknologi (gaptek).

Kemudian secara aksiogis, yaitu nilai-nilai apa yang terkandung dalam disiplin etnomusikologi, harus diletakkan sejak awal beridirinya disiplin ini.  Nilai-nilai, sasaran dan tujuan etnomusikologi tidak berbeda menariknya dengan disiplin-disiplin lain.  Musik adalah fenomena manusia secara universal dan musik ini dalam pengetahuan filsafat Barat berjasa dalam studi terhadap kebenaran itu sendiri.  Kepentingan manusia yang akhir kali adalah manusia itu sendiri, dan musik itu adalah bagian dari apa yang ia lakukan dan bagian dari apa yang ia studi terhadap dirinya sendiri.  Namun kepentingan yang sama adalah fakta bahwa musik adalah sebagai tata tingkah laku manusia, dan etnomusikolog mempunyai andil baik itu dengan ilmu pengetahuan sosial atau humaniora, menjangkau suatu pengetahuan kenapa manusia bertata tingkah laku seperti itu.

Fusi dan Prosesnya

Etnomusikologi sebagai sebuah disiplin ilmu, merupakan fusi atau gabungan dari dua induk ilmu yaitu etnologi (antropologi) dan musikologi.  Penggabungan ini sendiri telah menimbulkan dampak yang kompleks dalam perkembangan etnomusikologi.  Jika kemudian ia berfusi lagi dengan ilmu lain, katakanlah arkeologi, maka akan terjadi sesuatu perkembangan yang menarik. Dalam konteks etnomusikologi, bidang musikologi   selalu  dipergunakan   dalam   mendeskripsikan struktur   musik  yang  mempunyai  hukum-hukum  internalnya sendiri–sedangkan etnologi memandang musik sebagai  bagian dari fungsi  kebudayaan manusia  dan sebagai  suatu  bagian yang  menyatu dari suatu dunia yang  lebih  luas.   Secara eksplisit dinyatakan oleh Merriam sebagai berikut.

Ethnomusicology  carries  within itself the seeds of  its  own division, for it has always been compounded of two distinct  parts, the  musicological  and  the ethnological, and  perhaps  its  major problem  is  the  blending of the two in  a  unique  fashion  which emphasizes neither but takes into account both. This dual nature of the field is marked by its literature, for where one scholar writes technically  upon the structure of music sound as a system  in  itself, another chooses to treat music as a functioning part of human culture and as an integral part of a wider whole.  At  approximately the same time, other scholars, influenced  in considerable part by American anthropology, which tended to  assume an aura of intense reaction against the evolutionary and diffusionist schools, began to study  music in its ethnologic context.  Here the emphasis was placed not so much upon the structural  components of  music  sound as upon the part music plays in  culture  and  its functions in the wider social and cultural organization of man.  It has been tentatively suggested by Nettl (1956:26-39) that it is possible to characterize German and American “schools” of ethnomusicology,  but the designations do not seem quite apt.  The  distinction to be made is not so much one of geography as it is one of theory,  method, approach, and emphasis, for many provocative  studies  were  made by early German scholars in problems  not  at  all concerned  with music structure, while many American  studies  heve been devoted to technical analysis of music sound.[ix]

Dari  kutipan paragraf di atas,  menurut Merriam  para pakar etnomusikologi membawa  dirinya  sendiri kepada  benih-benih  pembahagian  ilmu, untuk  itu selalu dilakukan percampuran dua bagian  keilmuan yang   terpisah,  yaitu  musikologi  dan   etnologi.   Kemudian menimbulkan  kemungkinan-kemungkinan  masalah  besar   dalam rangka  mencampur kedua disiplin itu dengan cara yang  unik, dengan  penekanan  pada salah satu bidangnya,  tetapi  tetap mengandung kedua disiplin tersebut.  Sifat dualisme lapangan studi  ini,  dapat ditandai  dari  literatur-literatur yang dihasilkannya–seorang sarjana menulis secara teknis tentang struktur  suara musik sebagai suatu sistem  tersendiri,  sedangkan  sarjana  lain  memilih  untuk  memperlakukan  musik sebagai  suatu  bagian dari fungsi kebudayaan  manusia,  dan sebagai  bagian  yang integral dari  keseluruhan  kebudayaan.   Pada  saat  yang  sama,  beberapa  sarjana  dipengaruhi secara  luas oleh para pakar antropologi Amerika, yang cenderung  untuk mengasumsikan  kembali  suatu aura reaksi  terhadap  aliran-aliran  yang  mengajarkan  teori-teori  evolusioner  difusi, dimulai   dengan   melakukan  studi  musik   dalam   konteks etnologisnya.   Di sini, penekanan etnologis yang  dilakukan para sarjana ini lebih luas dibanding dengan kajian struktur komponen suara  musik sebagai suatu bagian dari permainan musik dalam  kebudayaan, dan fungsi-fungsinya dalam organisasi sosial dan  kebudayaan manusia yang lebih luas.

Hal  tersebut  telah disarankan  secara  tentatif  oleh Nettl  yaitu  terdapat  kemungkinan  karakteristik  “aliran-aliran”   etnomusikologi   di  Jerman  dan   Amerika,   yang sebenarnya  tidak  persis  sama.   Mereka  melakukan   studi etnomusikologi  ini,  tidak  begitu  berbeda,  baik   dalam geografi,  teori,  metode,  pendekatan,  atau  penekanannya.  Beberapa  studi  provokatif  awalnya  dilakukan  oleh   para sarjana  Jerman.   Mereka  memecahkan  masalah-masalah  yang bukan  hanya pada semua hal yang berkaitan  dengan  struktur musik saja.  Para   sarjana   Amerika    telah mempersembahkan teknik analisis suara musik.  Dari  kutipan di atas tergambar dengan jelas bahwa etnomusikologi dibentuk dari dua  disiplin  dasar  yaitu  etnologi  dan  musikologi, walau  terdapat variasi penekanan bidang yang  berbeda  dari masing-masing  ahlinya.   Namun  terdapat  persamaan   bahwa mereka   sama-sama  berangkat  dari  musik dalam konteks kebudayaannya.

Berbagai definisi tentang etnomusikologi telah dikemukakan dan dianalisis oleh para pakar etnomusikologi.  Dalam edisi berbahasa Indonesia, Rizaldi Siagian dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan Santosa dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, telah mengalihbahasakan berbagai definisi etnomusikologi, yang terangkum dalam buku yang bertajuk Etnomusikologi, 1995, yang disunting oleh Rahayu Supanggah, terbitan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, yang berkantor pusat di Surakarta.  Dalam buku ini, Alan P. Merriam mengemukakan 42 definisi etnomusikologi dari beberapa pakar, menurut kronologi sejarah dimulai oleh Guido Adler 1885 sampai Elizabeth Hesler tahun 1976.[x]

Dari 42 definisi tentang etnomusikologi dapat diketahui bahwa etnomusikologi adalah fusi dari dua disiplin utama yaitu musikologi dan atropologi, pendekatannya cenderung multi disiplin dan interdisiplin.  Etnomusikologi masuk ke dalam bidang ilmu humaniora dan sosial sekali gus, merupakan kajian musik dalam kebudayaan, dan tujuan akhirnya mengkaji manusia yang melakukan musik sedemikian rupa itu.  Walau awalnya mengkaji budaya musik non-Barat, namun sekarang ini semua jenis musik menjadi kajiannya namun jangan lepas dari konteks budaya.  Dengan demikian, masalah definisi dan lingkup kajian etnomusikologi sendiri akan terus berkembang dan terus diwacanakan tanpa berhenti.

Ruang Lingkup Kajian

Dalam pandangan dua jenis disiplin yang mengisi etnomusikologi ini, atau musik eksotik (‘ajaib’) sebagaimana yang kemudian mereka sebut, kebanyakannya selalu didefinisikan dalam istilah-istilah yang menekankan kepada deskriptif: studi karakter struktural dan daerah geografis yang selalu ingin dijangkaunya.  Misalnya  Benjamin Gilman, pada tahun 1909, menganjurkan ide studi terhadap musik eksotik yang sebenarnya, meliputi bentuk-bentuk musik primitif dan Dunia Timur atau Oriental (1909), sedangkan V.M. Bingham menambahinya dengan musik para petani Dalmatian (1914).  Penilaian umum terhadap pandangan ini, memberikan anjuran untuk juga mempergunakan definisi secara kontemporer, di mana daerah geografis lebih ditekankan, dibanding jenis-jenis studi yang dilakukan.  Marius Schneider mengatakan bahwa “tujuan utama [etnomusikologi adalah] studi komparatif terhadap semua karakteristik, yang biasa atau tidak biasa, dari [musik] non-Eropa”[xi]; dan Nettl mendefinisikan etnomusikologi sebagai “sains terhadap sejumlah besar musik rakyat di luar peradaban Barat.”[xii]

Kesulitan dengan jenis definisi seperti ini adalah terhadap kecenderungan untuk membatasi ruang lingkup dan pendekatannya, yang pada akhirnya, etnomusikologi ini lebih berupa suatu proses dibandingkan dengan pembatasan geografis yang statis. Willard Rhodes, sebagai contoh, memberikan langkah dalam arahan ini, meskipun bersifat tentatif, ia menambahkan musik “Timur Tengah, Timur Jauh, Indonesia, Afrika, Indian Amerika Utara, dan musik rakyat (folk) Eropa” juga studi “musik dan tarian populer.”  Pada masa yang lebih akhir, Kolinski mempunyai maksud untuk mendefinisikan etnomusikologi sebagai “sains terhadap musik non-Eropa” dan dia mencatatat bahwa “etnomusikologi ini tidak banyak perbedaannya dalam area geografis analisis, sebagaimana dalam pendekatan umum yang membedakan etnomusikologi dari musikologi pada umumnya”[xiii]

Jaap Kunst menambahkan suatu dimensi lanjutan, yaitu kualifikasi terhadap tipe-tipe musik yang dapat distudi dalam etnomusikologi, seperti yang ditulisnya seperti berikut [terjemahan penulis].

Studi etnomusikologi, atau, yang pada awalnya disebut: musikologi komparatif, adalah musik dan alat musik tradisional dalam semua strata kebudayaan umat manusia, dari yang disebut masyarakat primitif sampai kepada bangsa yang berperadaban.  Sains kita ini, selanjutnya, menyelidiki semua musik tribal dan folk dan setiap jenis musik seni non-Barat.   Di samping itu, studinya juga mencakup aspek sosiologi musik, seperti fenomena akulturasi musik, mis. Pengaruh hibridasi dengan elemen-elemen musik asing.  Musik seni dan musik populer (hiburan) Barat tidak termasuk ke dalam lapangan etnomusikologi.[xiv]

Mantle Hood mengajukan definisinya dari usul Masyarakat Musikologi Amerika, tetapi dengan menyisipkan (memasukkan ke dalam tanda kurung) prefiks “etno,” yang dalam usulannya menyatakan bahwa “[Etno]musikologi adalah suatu lapangan ilmu pengetahuan, yang mempunyai objek penyelidikan terhadap seni musik, sebagaimana pula fisika, psikologi, estetika, dan fenomena kebudayaan.  [Etno]musikolog  adalah seorang ilmuwan-peneliti, dan dia mengarahkan dirinya terutama untuk mencapai pengetahuan tentang musik.[xv]  Akhirnya, Gilbert Chase menunjukkan bahwa “penekanan pada masa kini … adalah studi musik kontemporer manusia, untuk masyarakat apa pun, ia dapat memasukkannya, apakah masyarakat primitif atau kompleks, Timur atau Barat.”[xvi]

Untuk definisi yang bervariasi ini, saya mempunyai suatu yang perlu ditambahkan, dalam menyatakan etnomusikologi, Merriam  mendefinisikannya sebagai “studi musik di dalam kebudayaan”[xvii]  adalah suatu yang penting bahwa definisi ini sesungguhnya dapat diterangkan jika ia benar-benar dipahami.  Makna implisit yang terkandung dalam asumsi bahwa etnomusikologi adalah dibentuk dari musikologi dan etnologi, dan suara musik merupakan hasil dari proses tata tingkah laku manusia, yang dibentuk oleh berbagai nilai, sikap, dan kepercayaan masyarakatnya yang turut mengisi suatu kebudayaan.  Suara musik tidak akan tercipta, kecuali dari satu orang  ke orang lainnya, dan meskipun kita tidak dapat memisahkan dua aspek tersebut secara konseptual, tidak akan diperoleh kenyataan yang lengkap tanpa mau mempelajarinya.   Tata tingkah laku manusia menghasilkan musik, tetapi prosesnya adalah suatu yang kontinu; tata tingkah laku itu sendiri membentuk hasil suara musik, dan dengan demikian studi terhadap aspek yang satu tentunya akan melibatkan aliran studi lainnya.

Dalam Konteks Aliran Pemikiran

Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan, maka etnomusikologi juga tidak harus mengisolasi diri dari perkembangn-perkembangan arus pemikiran ilmu-ilmu sosial, humaniora, maupun eksakta pada masa kini. Etnomusikologi harus membuka diri untuk menerima berbagai teori dan metode dari ilmu-ilmu lainnya. Pada masa sekarang ini jelas terjadi pergulatan antara aliran pemikiran modernisme dengan posmodernisme.  Begitu juga muncul aliran pemikiran posstrukturalisme dan poskolonialisme. Semua aliran-aliran ini sudah semestinya direspons oleh para etnomusikolog di seluruh dunia.

Ada kesamaan dan titik temu antara tujuan etnomusiklogi sebagai ilmu dengan aliran pemikiran posmodernisme, sebagai antitesis terhadap modernisme, yaitu adanya kesamaan menghargai pluralitas budaya.  Secara historis, istilah posmodernisme muncul dalam kebudayaan Eroamerika pada dasawarsa 1960-an. Posmodernisme muncul dalam disiplin-disiplin: seni rupa, sastra, arsitektur, teater, musik, ilmu-ilmu sosial, filsafat, dan lainnya. Walaupun posmodernisme muncul secara spektakuler pada dekade 1960-an, terutama di Amerika, namun gejala-gejala geliatnya telah tampak sejak akhir abad kesembilan belas di mana saat itu lagi tumbuh subur ide modernisme di dunia ini.  Rintisan awal aliran pemikiran ini bersumber dari pemikiran filosof Friederich Nietzsche di akhir abd kesembilan belas. Kemudian diteruskan ke awal abad kedua puluh oleh pemikiran filsafat yang bersumber dari filosof Martin Heidegger.

Aliran pemikiran posmodernisme ini mulai diwacanakan secara holistik dan serius oleh filosof Lyotard dan Kristeva. Bahkan terjadi polemik antara Lyotard yang mewakili kubu posmodernisme (poststrukturalis) dan Habermas yang mewakili kubu modernisme (strukturalis). Bagi Habermas, meskipun di dunia ini terjadi krisis sosiopolitis yang begitu mendasar, namun mencuatnya gagasan rasionalisme modernis tampaknya belum selesai, dan masih akan berlangsung lama. Para pendukung posmodernisme juga umumnya terkesan anti terhadap filsafat Hegelian dan Marxisme, yang mereka anggap sangat totalitarian. Hegel menotalkan setiap unsur kehidupan pada unsur roh atau juwa, sebaliknya Karl Marx pada substansi materi.

Kritik lainnya para pendukung posmodernisme diarahkan kepaa berbagai faham kebenaran dalam dunia ilmiah yang disebut dengan legitimasi, yang biasanya mengacu secara tunggal pada idealisme.  Padahal sains yang lahir dari metode rasional dan empirik, tidak akan leps dari aspek etika, metafisika, dan hal-hal irasionalitas lainnya. Dengan demikian, dalam kondisi masyarakat kontemporer, pengetahuan tidak membutuhkan lagi legitimasi pada kebenaran tunggal, sehingga manusia dihadapkan kepada delegitimasi atau paralogi, yang menghargai keanekaragaman atau pluralisme.

Dalam konteks kenegaraan misalnya, Indonesia memiliki filsafat dan way of life Pancasila, yang menurut masyarakatnya digali dari nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Aliran pemikiran Pancasila ini wajar diterima oleh seluruh warga negara Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sudah selayaknya setiap etnomusikolog Indonesia atau etnomusikolog Indonesianis mendudukan aliran pemikiran ini dalam konteks mengkaji seni, terutama yang sarat dengan muatan-muatan nilai Pancasila. Masih banyak aliran-aliran pemikiran lain yang dapat diambil kira oleh para etnomusikolog. Ini menjadi daya tarik sendiri ke masa depan.

Aplikasinya di Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang merdeka pada tahun 1945. Dalam masa kemerdekaan ini, kita dapat membaginya kepada peiodesasi politik, yaitu Orde Lama dari tahun 1945 sampai 1966. Kemudian dilanjutkan ke masa Orde Baru mula tahun 1966 sampai 1998. Kemudian Era Reformasi dari tahun 1998 hingga kini. Periode ini diwarnai dengan tesis dan antitesis pemikiran dan skala pembangunan bangsa Indonesia yang merdeka. Zaman Orde Lama ditandai dengan pengutamaan di bidang pembangunan politik. Kemudian masa Orde Baru ditandai dengan pembangunan ekonomi. Zaman Reformai pula ditandai dengan pembangunan demokrasi dan kebebasan.

Etnomusikologi sebagai institusi formal memang baru dimulai tahun 1979, ketika Universitas Sumatera Utara, yang ketika itu dipimpin oleh Adi Putra Parlindungan Lubis membuka Jurusan Etnomusikologi, yang diintegrasikan di Fakultas Sastra. Pendirian institusi ini bekerjasama dengan The Ford Foundation Amerika Serikat dan Monash University, Australia.  Namun demikian, rintisan etnomusikologi ini sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Masuknya Kristen ke Indonesia juga menjadi pengalaman menarik bagi bangsa Eropa. Mereka tidak akan dapat masuk melalui kekuatan senjata dan penjajahan, tetapi dapat masuk dengan cara pendekatan budaya, seperti yang dilakukan Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak. Demikian pula rintisan etnomusikologi ini sudah dimulai dengan berdirinya konserva-torium-konservatorium musik yang polarisasinya seperti yang terjadi dalam berbagai konservatorium di Eropa.

Saat Indonesia merdeka dalam rangka membina dan memberdayakan seni tradisi Indonesia, maka dibukalah sekolah-sekolah seni. Di peringkat sekolah menengah didirikan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang terdiri dari Jurusan Karawitan, Musik Barat, Tari, dan Teater.  Untuk seni rupa didirikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Khusus untuk Jurusan Musik didirikan Sekolah Menengah Musik Negeri (SMMN). Di peringkat Perguruan Tinggi (PT) didirikan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) atau Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian berangsur-angsur dinaikkan tarafnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Perkembangan yang lebih akhir dinaikkan statusnya menjadi Institut Seni Indonesia atau Institut Kesenian. Kesemua perguruan tinggi seni ini hanya terdapat di kawasan Indonesia Barat, khsususnya pulau Jawa, Bali, dan Sumatera saja. Kini perguruan tinggi seni itu terdiri dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Ada pula universitas-universitas yang mengasuh ilmu seni seperti Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung. Di sisi lain, universitas hasil pengembangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) tetap memelihara program kependidikan kesenian, yang diintegrasikan ke dalam Jurusan Sendratasik, seperi yang terdapat di Universitas Negeri Medan (Unmed), Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Makasar, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, dan lainnya.

Bidang ilmu etnomusikologi di Indonesia diajarkan di peringkat atau jenjang strata satu saja, yang ini agak berbeda dengan di berbagai universitas dunia, yang umumnya mengasuh disiplin ilmu ini di peringkat strata dua atau tiga. Namun demikian pemerintah Indonesia memiliki kebijakan yang lebih memperluas cakupan strata dua di bidang seni,  yaitu didirikanlah program studi penciptaan dan pengkajian seni baik di strata dua atau tiga. Tujuannya adalah untuk membentuk wadah yang lebih luas dalam menimba lulusan strata satu di bidang seni.

Etnomusikologi dan Pascasarjana Magister dan Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni

Dengan didirikannya strata dua atau program pascasarjana magister dan strata tiga atau program doktoral penciptaan dan pengkajian seni, etnomusikologi memiliki peran dan harus “berkawan” dengan rekan-rekan yang berilmu sejenis, apakah itu dari musikologi, etnologi tari, antropologi teater, kependidikan, ilmu seni rupa, maupun yang lainnya (seperti sastra, linguisitik, dan filsafat). Perkawanan ini terjadi ketika kuliah di strata dua dan tiga.

Oleh karena itu, sudah selayaknya etnomusikolog Indonesia baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri membantu polarisasi ilmu ini, dan bekerjasama dengan rekan-rekan yang berilmu sejenis. Hal ini sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai pemerintah. Bahwa magister seni dan doktor seni jangan hanya bertungkus lumus di bidangnya saja, tetapi mampu juga mengapresiasi atau bekerjasama dengan bidang seni lain sejenis, dalam rangka menjadi ilmuwan, dan tururt serta terlibat dalam mensejahterahkan rakyat Indonesia, terutama di bidang seni dan pariwisata.

Tahun 2009 ini, dua program studi penciptaan dan pengkajian seni dibuka di pulau Sumatera, tepatnya di Fakultas Sastra USU Medan, Sumatera Utara–dan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, Sumatera Barat. Sebelumnya telah berdiri di Universitas Gadjah Mada, IKJ, ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, dan ISI Denpasar.  Bagaimanapun ke depan institusi seni dan universitas pengasuh ilmu seni di Indonesia ini mestilah bekerjasama dan membentuk jejaring keilmun dan profesi untuk mendayagunakan ilmu-ilmu seni di Repubik Indonesia ini. Etnomusikologi yang diposisikan di strata satu pun harus punya andil kuat untuk itu.

Ilmu-Ilmu Seni

Seperti sudah terurai di atas, bahwa tampaknya pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional, tampaknya mempolarisasikan ilmu seni secara bersama, tidak sendiri-sendiri. Artinya tidak mengkhususkan pengembangan bidang seni secara parsial saja, tetapi holistik dan menyeluruh. Untuk itu perlu saling memahami dan kerjasama antara pakar, mahasiswa, dan luusan ilmu-ilmu seni ini seperti yang diuraikan ada sub tulisan ini.

Pendekatan Multidisiplin dan Interdisiplin

Dengan gambaran seperti tersebut di atas, tentu saja penekanan pendekatan multidisilin dan interdisiplin sangat mutlak diperlukan, dalam ilmu-ilmu seni dan tak terkecuali etnomusikologi di Indonesia. Pendekatan multidisiplin dan interdisiplin ini juga sejiwa dengan roh etnomusikologi yang sejak berdirinya  adalah hasil dari fusi dua ilmu dasar yaitu musikologi dan antropologi.

Selain dari itu pendekatan yang demikian perlu pula melihat dan mengaplikasikan metode dan teori yang berasal dari ilmu-ilmu bahasa, sastra, filsafat, ilmu agama, etnokoreologi, semiotika, psikologi, sosiologi, fisika (gelombang), dan lain-lainnya. Dengan demikian akan didapati kajian yang mendalam, holistik, dan menjawab permasalahan sosiobudaya yang dihadapi.

Persinggungan Ilmu-ilmu Seni dengan Antropologi

Antropologi adalah sebuah bidang ilmu yang mempelajari manusia (anthropos), sebagai sebuah disiplin integrasi dari berbagai ilmu yang masing‑masing mempelajari suatu kompleks masalah‑masalah khusus mengenai makhIuk manusia.[xviii]  Integrasinya ini mengalami proses sejarah yang panjang, dimulai sejak kira‑kira. awal abad ke‑19. Antropologi mulai mencapai bentuknya yang konkret setelah lebih dari 60 pakamya dari berbagai negara Eroamerika bertemu mengadakan simposiurn tahun 1951. Pendekatan ilmiah antropologi adalah berdasarkan kepada kajian menyeluruh (universal) terhadap manusia, yang mencakup bermacam jenis manusia, kebudayaannya, serta semua aspek pengalaman manusia. Pendalaman bidang‑bidang antropologi di antaranya adalah: antropologi fisik, antropologi budaya, arkeologi, antropologi linguistik, dan etnologi.

Kesenian sebagai salah satu unsur dan ekspresi budaya, jelas dapat dikaji oleh antropologi budaya. Namun dalarn perkembangan selanjutnya, beberapa disiplin yang objeknya adalah seni berdiri dan tetap memakai berbagai teori dan metode dalam antropologi, seperti persinggungannya dengan musikologi menghasilkan etnomusikologi, dengan tari menghasilkan antropologi tari, dengan teater menghasilkan antropologi teater, dan seterusnya. Oleh karena itu, akan dibahas apa itu musikologi secara garis besar saja.

Musikologi lahir di Dunia Barat, yang pada dasamya mempelajari musik seni (art music) Barat seperti kcarya‑karya Bach, Beethoven, Stravinsky, musik gereja, trobadour, trouvere, dan lainnya. Ilmu ini mernbuat dikotomi yang mencolok antara “musik seni” dan “musik primitif” berdasarkan atas ada atau tidaknya budaya tulis dan teori yang telah berkembang. Secara keilmuan, musikologi bersifat humanistis dan cenderung mengesampingkan ilmu‑ilmu pengetahuan lain, kecuali yang bersinggungan saja. Secara mendasar, musikologi bersifat historis budaya Barat dan objek studinya adalah musik sebagaimana adanya.

Berbanding terbalik dengan musikologi, antropologi mempunyai ciri‑ciri mempelajari manusia sepanjang masa; melihat semua aspek budaya manusia dan masyarakat sebagai sekelornpok variabel yang berinteraksi. Antropologi mernpunyai orientasi saintifik, yang metodologinya sebagian historis akan tetapi pada dasarnya bersifat saintifik. Tujuan antropologi adalah untuk memahami tingkah laku manusia.

Musikologi dan antropologi bukanlah bentuk studi yang sama. Yang pertarna masuk pada studi humaniora, yang kedua adalah ilmu sosial. Setelah berpadu dalam disiplin baru etnomusikologi, maka terjadi perkembangan‑perkembangan lebih lanjut, disertai ciri khas setiap kawasan yang mengasuh ilmu ini, walaupun dasar‑dasamya adalah ingin mengetahui manusia, lewat jendela budaya musik secara universal.  Dalam perkembangan selanjutnya, para musikolog yang sadar akan kemitraan dengan budaya di luar Barat, bahkan menjadi etnomusikolog. Atau ada juga etnomusikolog yang kajiannya adalah musik Eropa, biasanya musik folk atau rakyat.

Secara ilmiah, interaksi positif terjadi antara antropologi dengan teater, musik, dan tari. Yang pertarna menghasilkan. disiplin antropologi teater, yang kedua etnomusikologi, dan ketiga etnologi tari, atau disebut juga antropologi tari dan etnokoreologi. Ketiga disiplin ilmu pengetahuan tersebut lahir di Barat, dan etnomusikologi muncul paling dahulu, yaitu akhir abad ke‑19 (1890‑an). Demikian pula di Indonesia, etnomusikologi lebih dahulu dibuka di Fakultas Sastra, Universitas Surnatera Utara, tahun 1979, yang kemudian diikuti oleh institusi seni lainnya. Kemudian disusul oleh berdirinya ilmu antropologi tari dan antropologi teater.

Antropologi Tari

Antropologi tari adalah sebuah disiplin baru yang sebelumnya dikenal sebagai etnologi tari, atau oleh sebagian pakar disebut dengan etnokoreologi. Walau istilah etnologi tari baru tersebar luas, tetapi  penelitian di bidang etnologi tari telah berlangsung sejak tahun 1930‑an. Jika di bidang etnomusikologi ada tokoh Alan P. Merriam, maka dalarn antropologi tari salah seorang perintisnya adalah Getrude Prokosch Kurath yang kumpulan esainya diterbitkan tahun 1986 dengan judul Half Century of Dance Research oleh Cross Cultural Dance Research (CCDR, Flagstaff, Arizona, Amerika Serikat).  Ada pula seorang tokoh yang dikenal cukup ahli baik di bidang etnomusikologi maupun antropologi tari yaitu Curt Sachs.

Kurath menggunakan 20 tahun pertama karirnya sebagai penari dan produser pertunjukan budaya, tetapi kemudian menceburkan dirinya di bidang penelitian etnologi tari. Menurutnya, metode penelitian etnologi tari terdiri dari tiga tahap: (1) melakukan studi secara aktif dan mendatangi upacara‑upacara masyarakat yang diteliti; (2) mentransfer pola‑pola tari ke dalam bentuk tulisan, dengan deskripsi verbal dan layout visual; dan (3) menginterpretasikan fakta‑fakta yang telah diorganisasikan.

Seperti dalam studi etnomusikologi, yang tergantung latar belakang pengalaman dan pendidikannya, dalam kajian tari pun ada peneliti‑peneliti yang lebih menekankan salah satu disiplin: antropologi atau tari. Seperti yang dikemukakan oleh Adrianne Kaeppler, bahwa para ahli etnologi tari biasanya adalah berlatarbelakang sebagai penari‑‑yang melihat tari terpisah dari konteks budaya masyarakatriya. Mereka selalu mendeskripsikan tari menurut pandangan mereka sendiri, bukan pandangan masyarakat pelaku tari itu. Mereka mendeskripsikan secara. struktural bagian‑bagian tari itu seperti pola gerak, motif, garis, arah, dan repetisi tari.

Sebaliknya, para etnolog tari ingin mengetahui lebih dari itu. Antropologi pada abad ke‑20 telah berkembang dari pendekatan deskriptif dan natural ke pendekatan yang menekankan kepada teori. Bagi antropolog, deskripsi tari dari seluruh dunia ini bukan etnologi, hanya sekedar data, yang lebih jauh harus dianalisis secara. etnografis, sehingga didapatkan makna‑makna kulturalnya, baik dengan memakai teori maupun metode ilmiah.

Menurut Janet Adshead dalarn bukunya Dance Analysis: Theory and Practice (London, Dance Book, 1988:6) penelitian terhadap tari pada perkembangan sekarang ini memerlukan bantuan disiplin lainnya, seperti: antropologi, sejarah, psikologi, sosiologi, teologi, dan lainnya. Disiplin-­disiplin ini sangat membantu untuk memahami tari dalarn konteks yang lebih luas, serta menjelaskan fungsi‑fungsinya dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.

Kajian Pertunjukan Budaya atau Antropologi Teater

Kajian pertunjukan (performance study) adalah sebuah disiplin (ilmu) yang relatif baru, yang dalam pendekatan saintifiknya berdasar kepada interdisiplin atau multidisiplin ilmu, yaitu mempertemukan antara lain antropologi, kajian teater, antropologi tari atau etnologi tari, etnomusikologi, folklor, semiotika, sejarah, linguistik, koreografi, kritik sastra, dan lainnya. Dua orang tokoh terkernuka pada disiplin ini adalah Victor Turner (antropolog) dan Richard Schechner (aktor, sutradara teater, pakar pertunjukan, dan editor majalah The Drama Review).

Sasaran kajian pertunjukan tidak terbatas kepada pertunjukan yang dilakukan di atas panggung saja, tetapi juga yang terjadi di luar panggung, seperti olah raga, permainan, sirkus, karnaval, perjalanan ziarah, nyekar, dan upacara. Dia menulis buku yang terkenal From Ritual to Theater On the Edge of the Bush: Anthropology as Experience, The Anthropology of Performance, dan The Anthropology of Experience. Buku yang terakhir ini, disuntingnya bersarna Victor Turner dan Edward M. Bruner tahun 1982 setahun sebelum ia meninggal dunia. Pada karya‑karyanya tersebut secara saintifik Schechner dan Turner tampaknya menawarkan pentingnya pendekatan pengalaman, pragmatik, praktik, dan pertunjukan dalarn mengkaji kesenian. Tentunya pendekatan ini diperlukan berdasarkan asumsi dasar bahwa pengalarnan yang kita alami tidak hanya dalam bentuk verbal tetapi juga dalam bentuk imajinasi dan impresi (kesan). Keseluruhan disiplin pertunjukan budaya di atas umumnya mendasarkan kajianya pada pendekatan ilmiah dengan menggunakan teori­-teori.

Pengembangan Teori dalam Etnomusikologi dan Ilmu-ilmu Seni

Sebagai disiplin ilmu dengan pendekatan-pendekatan ilmiah, maka etnomusikologi dan ilmu-ilmu seni lain seperti etnokoreologi, musikologi, antropologi teater, ilmu seni rupa, pengkajian seni pertunjukan, pengakajian seni rupa, dan lainnya perlu mengembangkan teori dan metode. Pengembangan ini mutlak diperlukan sebagai respons perubahan zaman dan keilmuan yang pasti terjadi secara terus-menerus.

Ilmu pengetahuan (sains) adalah suatu disiplin yang mempunyai tahap‑tahap dan prosedur tertentu, yang sering disebut dengan pendekatan ilmiah. Di antaranya adalah: rasionalisme, empirisme, determinisme, hipotesis dan pembuktian, asumsi, pengamatan, penelitian, dan lainnya.[xix]  Teknik yang dikenal dengan metode ilmiah sangat didasarkan kepada akal sehat.  Model penelitiannya berjalan mengikuti lngkah-langkah seperti berikut: (a) identifikasi variabel yang dipelajari; (b)  satu hipotesis mengenai hubungan satu variabel terhadap yang lainnya atau terhadap satu situasi; (c) suatu uji realitas di mana hubungan hipotesis diukur dengan suatu hasil penelitian; (d) suatu evaluasi hubungan yang terukur dibandingkan dengan hipotesis awalnya, dan dikembangkannya generalisasi-generalisasi; dan (e) saran-saran mengenai keberaturan teoretis dari penemuan-penemuan, faktor-faktor yang terlibat dalam uji yang mungkin menyesatkan hasil-hasilnya, dan hipotesis-hipotesis lain yang tercetus dalam pikiran dalam konteks penelitian.[xx]

Pendekatan saintifik biasanya menggunakan teori tertentu. dalarn mengkaji fenomena alam, biologi, sosial, budaya, dan lain‑lainnya. Teori memiliki peran penting dalam pendekatan ilmiah. Dengan teori seorang ilmuwan dibekali dasar‑dasar bagaimana mencari dan mengolah data‑­sehingga didapatkan kesimpulan yang absah. Teori menurut Marckward[xxi] memiliki tujuh pengertian: (1) sebuah rancangan atau skema pikiran, (2) prinsip dasar atau penerapan ilmu pengetahuan, (3) abstrak pengetahuan yang antonim dengan praktik, (4) rancangan hipotesis untuk menangani berbagai fenornena, (5) hipotesis yang mengarahkan seseorang, (6) dalam matematika adalah teorema yang menghadirkan pandangan sistematik dari beberapa subjek, dan (7) ilmu pengetahuan tentang komposisi musik. Jadi dengan dernikian, teori berada dalam tataran ide orang, yang kebenarannya secara empiris dan rasional telah diujicoba terutama oleh pakar teori tersebut. Dalam dimensi waktu teori‑teori dari semua disiplin ilmu terus berkembang. Teori‑teori yang dipergunakan dalam mengkaji tari, musik, teater/pertunjukan, seni rupa, diambil dari berbagai disiplin atau dikembangan sendiri secara khas, seperti beberapa contoh yang dikemukakan berikut ini.

Berikut ini akan dideskripsikan teori-teori dan metode yang lazim digunakan dalam etnomusikologi dan ilmu-ilmu seni. Kemudian penulis menawarkan pengembangan-pengembangannya ke masa depan, yang pasti dibutuhkan oleh disiplin-disiplin ini. Pengembangan tentu harus dilatarbelakangi oleh dasar filsafat terbentuknya ilmu ini, dan selain itu juga perlunya latar belakang teori-teori yang pernah ada dan yang tetap digunakan hingga ke hari ini.

Semiotika

Pendekatan untuk mengkaji seni, salah satunya mengambil teori semiotika dalam rangka usaha untuk memahami bagaimana makna diciptakan dan dikomunikasikan melalui sistern simbol yang membangun sebuah peristiwa seni. Dua tokoh perintis semiotika adalah Ferdinand de Saussure seorang ahli bahasa dari Swiss dan Charles Sanders Peirce, seorang filosof dari Amerika Serikat. Saussure melihat bahasa sebagai sistem yang membuat lambang bahasa itu terdiri dari sebuah imaji bunyi (sound image) atau signifier yang berhubungan dengan konsep (signified). Setiap bahasa mempunyai lambang bunyi tersendiri.

Peirce juga menginterpretasikan bahasa sebagai sistem larnbang, tetapi terdiri dari tiga bagian yang saling berkaitan: (1) representatum, (2) pengamat (interpretant), dan (3) objek.  Dalarn kajian kesenian berarti kita harus memperhitungkan peranan seniman pelaku dan penonton sebagai pengamat dari lambang‑lambang dan usaha kita untuk memahami proses pertunjukan atau proses penciptaan. Peirce membedakan lambang‑lambang ke dalarn tiga kategori: ikon, indeks, dan simbol. Apabila larnbang itu menyerupai yang dilambangkan seperti foto, maka disebut ikon. Jika larnbang itu menunjukkan akan adanya sesuatu seperti tirnbulnya asap akan diikuti api, disebut indeks. Jika larnbang tidak menyerupai yang dilambangkan, seperti burung garuda melambangkan negara Republik Indonesia, maka disebut dengan simbol.

Dengan mengikuti pendekatan semiotika, maka dua pakar pertunjukan budaya, Tadeuz Kowzan dan Patrice Pavis dari Perancis, mengaplikasikannya dalam pertunjukan. Kowzan menawarkan 13 sistern lambang dari sebuah pertunjukan teater–8 berkaitan langsung dengan pemain dan 5 berada di luarnya. Ketiga belas lambang itu adalah: kata‑kata, nada bicara, mirnik, gestur, gerak, make‑up, gaya rarnbut, kosturn, properti, setting, lighting, musik, dan efek suara.

Pavis menyusun daftar pertanyaan yang lebih lugas dan detil untuk mengkaji sebuah pertunjukan. Pertanyaan‑pertanyaannya menekankan perlunya dijelaskan bagaimana makna dibangun dan mengapa demikian. Pertanyaan ini menekankan pentingnya sebuah proses pertunjukan. Adapun pertanyaan‑pertanyaan itu adalah yang mencakup: (1) diskusi umum tentang pertunjukan, yang meliputi: (a) unsur‑unsur apa yang mendukung pertunjukan, (b) hubungan antara sistem‑sistem pertunjukan, (c) koherensi dan inkoherensi, (d) prinsip‑prinsip estetis produksi, (e) kendala‑kendala  apa yang dijumpai tentang produksi seni, apakah momennya kuat, lernah, atau membosankan; (2) skenografi, yang meliputi: (a) bentuk ruang pertunjukan‑‑mencakup: arsitektur, gestural, keindahan, imitasi tata ruang, (b) hubungan. antara tempat penonton dengan panggung pertunjukan, (c) sistem pewarnaan dan konotasinya., (d) prinsip‑prinsip organisasi ruang yang meliputi hubungan antara on‑stage dan off‑stage dan keterkaitan antara ruang yang diperlukan dengan gambaran panggung pada teks drama; (3) sistem tata cahaya; (4) properti panggung: tipe, fungsi, hubungan antara ruang dan para pemain; (5) kostum: bagaimana mereka mengadakannya serta bagaimana hubungan kostum antar pernain; (6) pertunjukan: (a) gaya. individu atau konvensional, (b) hubungan antara pernain dan kelompok, (c) hubungan antara. teks yang tertulis dengan yang dilakukan, antara pernain dan peran, (d) kualitas gestur dan mimik, (e) bagaimana dialog dikembangkan; (7) fungsi musik dan efek suara; (8) tahapan pertunjukan: (a) tahap keseluruhan, (b) tahap‑tahap tertentu sebagai sistem tanda seperti tata cahaya, kostum, gestur, dan lain‑lain, tahap pertunjukan yang tetap atau berubah tiba‑tiba; (9) interpretasi cerita dalam pertunjukan: (a) cerita apa yang akan dipentaskan, (b) jenis dramaturgi apa yang dipilih, (c) apa yang menjadi ambiguitas dalam pertunjukan dan poin‑poin apa yang dijelaskan, (d) bagaimana struktur plot, (e) bagaimana cerita dikonstruksikan oleh para pemain dan bagaimana pementasannya, (f) termasuk genre apakah teks dramanya; (10) teks dalam pertunjukan: (a) terjemahan skenario, (b) peran yang diberikan. teks drama dalam produksi, (c) hubungan antara teks dan imaji; (11) penonton: (a) di mana pertunjukan dilaksanakan, (b) prakiraan penonton tentang apa yang akan terjadi dalam pertunjukan, (c) bagaimana reaksi penonton, dan (d) peran penonton dalam konteks menginterpretasikan makna‑makna; (12) bagaimana mencatat produksi pertunjukan secara teknis, (b) imaji apa yang menjadi fokus; (13) apa yang tidak dapat diuraikan dari tanda‑tanda pertunjukan: (a) apa yang tidak dapat diinterpretasikan dari sebuah pertunjukan, (b) apa yang tidak dapat direduksi tentang tanda dan makna pertunjukan (dan mengapa), (14) apakah ada masalah‑masalah khusus yang perlu dijelaskan, serta berbagai komentar dan saran lebih lanjut untuk. melengkapi sejumlah pertanyaan dan memperbaiki produksi pertunjukan.[xxii]

Menurut Encylopedia Brittanica pengertian dari semiotika itu adalah seperti yang dijabarkan berikut ini.

 Semiotic also called  Semiology,  the study of signs and sign-using behaviour. It was defined by one of its founders, the Swiss linguist Ferdinand de Saussure, as the study of “the life of signs within society.” Although the word was used in this sense in the 17th century by the English philosopher John Locke, the idea of semiotics as an interdisciplinary mode for examining phenomena in different fields emerged only in the late 19th and early 20th centuries with the independent work of Saussure and of the American philosopher Charles Sanders Peirce.

Peirce’s seminal work in the field was anchored in pragmatism and logic. He defined a sign as “something which stands to somebody for something,” and one of his major contributions to semiotics was the categorization of signs into three main types: (1) an icon, which resembles its referent (such as a road sign for falling rocks); (2) an index, which is associated with its referent (as smoke is a sign of fire); and (3) a symbol, which is related to its referent only by convention (as with words or traffic signals). Peirce also demonstrated that a sign can never have a definite meaning, for the meaning must be continuously qualified.

Saussure treated language as a sign-system, and his work in linguistics has supplied the concepts and methods that semioticians apply to sign-systems other than language. One such basic semiotic concept is Saussure’s distinction between the two inseparable components of a sign: the signifier, which in language is a set of speech sounds or marks on a page, and the signified, which is the concept or idea behind the sign. Saussure also distinguished parole, or actual individual utterances, from langue, the underlying system of conventions that makes such utterances understandable; it is this underlying langue that most interests semioticians.

This interest in the structure behind the use of particular signs links semiotics with the methods of structuralism (q.v.), which seeks to analyze these relations. Saussure’s theories are thus also considered fundamental to structuralism (especially structural linguistics) and to poststructuralism.

Modern semioticians have applied Peirce and Saussure’s principles to a variety of fields, including aesthetics, anthropology, psychoanalysis, communications, and semantics. Among the most influential of these thinkers are the French scholars Claude Lévi-Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault, Jacques Derrida, Roland Barthes, and Julia Kristeva.[xxiii]

Semiotika atau semiologi adalah kajian teradap tanda-tanda (sign)  serta tanda-tanda yang digunakan dalam perilaku manusia.  Definisi yang sama pula dikemukakan oleh salah seorang pendiri teori semiotika, yaitu pakar linguistik dari Swiss Ferdinand de Sausurre. Menurutnya semiotika adalah kajian mengenai “kehidupan tanda-tanda dengan masyarakat yang menggunakan tanda-tanda itu.”  Meskipun kata-kata ini telah dipergunakan oleh filosof Inggris abad ke-17 yaitu John Locke, gagasan semiotika sebagai sebuah modus interdisiplin ilmu, dengan berbagai contoh fenomena yang berbeda dalam berbagai lapangan studi, baru muncul ke permukaan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika munculnya karya-karya Sausurre dan karya-karya seorang filosof Amerika Serikat, Charles Sanders Peirce.

Dalam karya awal Peirce di  lapangan semiotika ini, ia menumpukan perhatian kepada pragmatisme dan logika.  Ia mendefinisikan tanda sebagai “sesuatu yang mendukung seseorang untuk sesuatu yang lain.”  Salah satu sumbangannya yang besar bagi semiotika adalah pengkategoriannya mengenai  tanda-tanda ke dalam tiga tipe, yaitu: (a) ikon, yang disejajarkan dengan referennya (misalnya jalan raya adalah tanda untuk jatuhnya bebatuan);  (b) indeks, yang disamakan dengan referennya (asap adalah tanda adanya api); dan (c) simbol, yang berkaitan dengan referentnya dengan cara penemuan (seperti dengan kata-kata atau signal trafik).

Secara saintifik, istilah semiotika berasal dari perkataan Yunani semeion.  Panuti Sudjiman dan van Zoest[xxiv]  menyatakan bahwa semiotika berarti tanda atau isyarat dalam satu sistem lambang yang lebih besar.  Manakala bidang pragmatik mengkaji kesan penggunaan lambang terhadap proses komunikasi.  Dengan menggunakan pendekatan semiotika, seseorang boleh menganalisis makna yang tersurat dan tersirat di balik penggunaan lambang dalam kehidupan manusia sehari-hari. Semiotika dapat menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan lambang, termasuk: penggunaan lambang, isi pesan, dan cara penyampaiannya.[xxv]   Dalam semiotika terdapat hubungan tiga segi antara lambang, objek, dan makna.[xxvi] Lambang itu mewakili objek yang dilambangkan. Penerima yang menghubungkan lambang dengan objek dan makna, disebut interpretan, yang berfungsi sebagai perantara antara lambang dengan objek yang dilambangkan.  Oleh karena itu, makna  lambang hanya terwujud dalam pikiran interpretan, selepas saja  interpretan menghubungkaitkan lambang dengan objek.

Dalam konteks kajian musik, terdapat beberapa makna musik.  Salah satu yang fundamental adalah bahwa tanda dan objek menghadirkan sebuah keterhubungan identitas.  Bahwa tanda musikal adalah murni sebagai sebuah ikon.  Bagaimanapun, musik memiliki kapasistas tanda.  Beberapa ahli estetika musik, seperti Eduard Hanslick[xxvii] dan para komposer seperti Pierre Boulez,[xxviii] dan John Cage,[xxix]  mengemukakan bahwa estetika musik itu sangat bergantung kepada modus signifikasi.  Sehingga ide musik murni atau musik absolut tak mungkin terwujud dalam membicarakan musik dalam kebudayaan.  Setiap tradisi musik di dunia ini memiliki asas dan konsepsi estetika yang berlainan.

Pentingnya mengkaji berbagai tanda ikonik dalam musik juga penting.  Peirce membagi tanda-tanda ikonik dalam pelbagai imaji, diagram, dan metafora.  Imaji adalah ikon yang menghadirkan karakter objek.  Contoh musikal ikonik adalah mulai dari suara burung sampai kepada musik sesungguhnya.  Dalam analisis semiotika ini, purlu pula bagi para pengkajinya memperhatikan pada aspek metafora.  Musik adalah bidang semiotika yang kompleks, yang dapat dikaji melalui berbagai titik pandang.

Teori Fungsionalisme

Untuk mengkaji sejauh apa  fungsi komunikasi seni pertunjukan, serta bagaimana fungsi lagu dan tari dalam masyarakat, biasanya digunakan teori fungsionalisme.  Menurut Lorimer et  al., teori   fungsionalisme   adalah  salah  satu   teori   yang dipergunakan  pada ilmu sosial, yang menekankan pada  saling ketergantungan  antara  institusi-institusi (pranata-pranata) dan  kebiasaan-kebiasaan   pada  masyarakat  tertentu.   Analisis   fungsi menjelaskan   bagaimana   susunan   sosial   didukung   oleh fungsi institusi-institusi seperti: negara, agama, keluarga, aliran dan pasar terwujud.  Sebagai contoh, pada masyarakat yang  kompleks seperti Amerika Serikat, agama  dan  keluarga mendukung  nilai-nilai  yang  difungsikan  untuk   mendukung kegiatan   politik  demokrasi  dan ekonomi  pasar. Dalam masyarakat   yang   lebih  sederhana,   masyarakat   tribal, partisipasi   dalam   upacara  keagamaan   berfungsi   untuk mendukung  solidaritas  sosial di  antara kelompok-kelompok manusia yang berhubungan kekerabatannya.  Meskipun teori ini menjadi dasar bagi para penulis Eropa abad ke-19,  khususnya Emile  Durkheim,  fungsionalisme  secara  nyata   berkembang sebagai sebuah teori yang mengagumkan sejak dipergunakan oleh Talcott Parsons dan Robert Merton tahun 1950-an.  Teori  ini sangat  berpengaruh kepada para pakar sosiologi  Anglo-Amerika dalam dekade 1970-an. Bronislaw Malinowski dan A.  R.  Radcliffe-Brown, mengem-bangkan  teori ini di bidang antropologi,  dengan  memusatkan perhatian pada masayarakat bukan Barat.  Sejak dekade 1970-an,  teori fungsionalisme dipergunakan pula  untuk  mengkaji dinamika konflik sosial.[xxx]

Dalam bidang komunikasi, ada beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya mengenai fungsi komunikasi.  Fungsi komunikasi memperlihatkan arus gerakan yang seiring dengan masyarakat atau individu.  Komunikasi berfungsi menurut keperluan pengguna atau individu yang berinteraksi.  Oleh karena itu, fungsi komunikasi bisa dikaitkan dengan ekspresi (emosi), arahan, rujukan, puitis, fatik, dan metalinguitik yang berkaitan dengan bahasa.   Secara umum fungsi komunikasi terdiri dari empat kategori utama yaitu: (1) fungsi memberitahu, (2) fungsi mendidik, (3) memujuk khalayak mengubah pandangan, dan (4) untuk menghibur orang lain.

Fungsi untuk memberi tahu, artinya adalah melalui komunikasi berbagai konsep atau gagasan diberitahukan kepada  orang lain (penerima komunikasi), dan penerima ini menerimanya, yang kemudian dampaknya ia tahu tentang gagasan yang dikomunikasikan tersebut.  Akhirya isi komunikasi itu akan direspons oleh penerima, boleh jadi dalam bentuk perilaku, balasan, dan lainnya. Pemberitahuan ini sangat penting dalam konteks sosial kemasyarakatan.  Misalnya orang yang diberitahu bahwa salah seorang warganya meninggal dunia, melalui saluran komunikasi, seperti dalam bentuk lisan atau bukan lisan seperti bunyi bedug dengan pukulan dan irama tertentu, atau lambang-lambang, seperti bendera merah atau hijau di depan rumah, dan lainnya. Akibatnya penerima komunikasi akan menafsir pesan komunikasi dalam bentuk lisan dan bukan lisan tadi, kemudian datang bertakziah ke tempat warganya yang meninggal dunia.

Fungsi komunikasi lainnya adalah mendidik. Artinya adalah bahwa  komunikasi berperan dalam konteks pendidikan manusia.  Komunikasi menjadi saluran ilmu dari seseorang kepada orang lainnya.  Ilmu pengetahuan dipindahkan dari sesorang yang tahu kepada orang yang belum tahu.  Berkat terjadinya komunikasi maka kelestarian kebudayaan akan terus berlanjut antara generasi ke generasi, dan dampak akhirnya masyarakat itu cerdas dan dapat mengelola alam melalui ilmu pengetahuan.

Komunikasi juga berfungsi untuk mengubah pandangan  manusia atau memujuk khlayak untuk merubah pandangannya.  Melalui komunikasi, pandangan seseorang atau masyarakat dapat diubah, dari satu pandangan ke pandangan lain. Apakah pandangan yang lebih baik atau lebih buruk menurut stadar norma-norma sosial.  Dalam konteks bernegara misalnya, pandangan yang tak sesuai dengan ideologi negara akan bisa dipujuk untuk menuruti ideologi yang selaras dengan negara.  Dalam konteks ini umumnya suatu kabinet di dalam negara, membentuk departemen komunikasi, informasi, atau penerangan.  Tujuan utamanya adalah memujuk masyarakat bangsa itu untuk menurut ideologi dan program-program pembangunan yang dianut dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Fungsi komunikasi lainnya adalah menghibur orang lain.  Maksudnya adalah bahwa melalui komunikasi seorang penyampai atau sumber komunikasi akan menghibur orang lain sebagai penerima komunikasi, yang memang dalam konteks sosial diperlukan.  Fungsi komunikasi sebagai sarana hiburan ini akan dapat membantu seseorang atau sekumpulan orang terhibur dari beban sosial budaya yang dialaminya.  Hiburan ini dapat berupa rasa simpati sumber kepada penerima.  Bentuknya boleh saja seperti ungkapan verbal turut merasakan apa yang dirasakan penerima komunikasi, atau juga seperti bernyanyi, bermain musik, melawak, dan lain-lainnya.  Dengan demikian, melalui komunikasi terjadi hiburan, yang juga melegakan diri dari himpitan  dan tekanan sosial.  Demikian sekilas teori fungsionalisme komunikasi dalam seni pertunjukan.  Selanjutnya kita lihat bagaimana teori  fungsionalisme di bidang antropologi, serta bagaimana fungsi seni pertunjukan.

Teori fungsionalisme dalam ilmu antopologi mulai dikembangkan oleh seorang pakar yang sangat penting dalam sejarah teori antropologi, yaitu Bronislaw Malinowski (1884-1942).  Ia lahir di Cracow, Polandia, sebagai putera keluarga bangsawan Polandia. Ayahnya seorang guru besar dalam ilmu sastra Slavik.  Jadi tidak mengherankan apabila Malinowski memperoleh pendidikan yang kelak memberikannya suatu karir akademik juga. Tahun 1908 ia lulus dari Fakultas Ilmu Pasti dan Alam dari Universitas Cracow.  Yang menarik, selama studinya ia gemar membaca buku mengenai folklor dan dongeng-dongeng rakyat, sehingga ia menjadi tertarik kepada ilmu psikologi.  Ia kemudian belajar psikologi kepada Profesor W. Wundt, di Leipzig, Jerman.

Perhatiannya terhadap folklor menyebabkan ia membaca buku J.G. Frazer, bertajuk The Golden Bough, mengenai ilmu ghaib, yang menyebabkan ia menjadi tertarik kepada ilmu etnologi.  Ia melanjutkan belajar ke London School of Economics, tetapi karena di  Perguruan Tinggi itu tak ada ilmu folklor atau etnologi, maka ia memilih ilmu yang paling dekat kepada keduanya, yaitu ilmu sosiologi empiris.  Gurunya ahli etnologi, yaitu C.G. Seligman.  Tahun 1916 ia mendapat gelar doktor dalam ilmu itu, dengan menyerahkan dua buah karangan sebagai ganti disertasi, yaitu The Family among the Australian Aborigines (1913) dan The Native of Mailu (1913).   Kemudian ia berangkat ke Pulau Trobiand di utara Kepulauan Massim, sebelah tenggara Papua Nugini, untuk melakukan penelitian tahun 1914.   Sehabis perang dunia pertama pada tahun 1918, ia pergi ke Inggris karena mendapat pekerjaan sebagai asisten ahli di London School of Economics.

Ia mulai mengembangkan suatu kerangka teori baru untuk menganalisis fungsi kebudayaan manusia, yang disebutnya dengan teori fungsional tetang kebudayaan, atau a functional theory of culture.  Ia kemudian mengambil keputusan untuk menetap di Amerika Serikat, ketika ia ditawari untuk menjadi guru besar antropologi di University Yale tahun 1942.  Sayang tahun itu juga ia meninggal dunia.  Buku mengenai teori fungsional yang baru yang telah ditulisnya, diredaksi oleh muridnya H. Cairns dan menerbitkannya dua tahun selepas itu (Malinowski 1944).

Pemikiran Malinowski mengenai syarat-syarat metode etnografi berinteraksi secara fungsional yang dikembangkannya dalam berbagai kuliahnya.  Isinya adalah tentang metode-metode penelitian lapangan.   Dalam masa penulisan ketiga buku etnografi mengenai kebudayaan Trobiand selanjutnya, menyebabkan konsepnya mengenai fungsi sosial  adat, perilaku manusia, dan pranata-pranata sosial, menjadi lebih mantap.  Ia membedakan fungsi sosial dalam tiga tingkat abstraksi yaitu:

(1)       Fungsi sosial suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh atau efeknya terhadap adat, perilaku manusia, dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat;

(2)       Fungsi sosial suatu adat, pranata sosial, atau usur kebudayaan pada tingkat abstraksi kedua mengenai pengaruh atau efeknya terhadap keperluan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang terlibat;

(3)       Fungsi sosial suatu adat atau pranata sosial pada tingkat abstraksi ketiga mengenai pengaruh atau efeknya terhadap keperluan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi suatu sistem sosial tertentu.

Malinowski juga mengemukakan teori fungsional tentang kebudayaan.  Kegemaran Malinowski terhagap ilmu psikologi juga tampak ketika ia mengujungi University Yale di Amerika Serikat selama setahun, pada tahun 1935.  Di sana ia berteu dengan ahli-ahli psikologi seperti J. Dollard, yag ketika itu sedang mengembangkan serangkaian penelitian mengenai proses belajar.  Menurut sarjana psikologi dari Yale itu, asas dari proses belajar adalah tidak lain dari ulangan-ulangan  dari reaksi-reaksi suatu organisme terhadap gejala-gejala dari luar dirinya, yang terjadi sedemikian rupa  sehingga salah satu keperluan naluri dari organisme tadi dapat dipuaskan.  Teori belajar, atau learning theory, ini sangat menarik perhatian Malinowski, sehingga dipakainya untuk memberi asas pasti bagi pemikirannya terhadap hubungan-hubungan berfungsi dari unsur-unsur sebuah kebudayaan.

Seperti telah diuraikan di atas, saat Malinowski awal kali menulis karangan-karangannya tentang pelbagai aspek masyarakat orang Trobiand sebagai kebulatan, ia tidak sengaja mengenalkan pandangan yang baru dalam ilmu antropologi.  Namun reaksi dari kalangan ilmu itu memberinya dorongan untuk mengembangkan suatu teori tentang fungsi dari unsur-usur kebudayaan manusia.  Dengan demikian, dengan menggunakan learning theory sebagai dasar, Malinowski mengembangkan teori fungsionalismenya, yang baru terbit selepas ia meninggal dunia. Bukunya bertajuk A Scientific Theory of Culture and Other Essays (1944).  Dalam buku ini Malinowski mengembangkan teori tentang fungsi unsur-unsur kebudayaan yang sangat kompleks.  Namun inti dari teori itu adalah pendirian bahwa segala kegiatan kebudayaan itu sebenarnya  bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah keperluan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.  Kesenian sebagai contoh dari salah satu unsur kebudayaan, terjadi karena manusia ingin memuaskan keperluan nalurinya akan keindahan; ilmu pengetahan juga timbul karena keperluan naluri manusia untuk ingin tahu; teknologi muncul karena keperluan manusia akan peralatan yang mempermudah hidupnya; organisasi sosial timbul karena manusia ingin hiduop berkelompok untuk menuju cita-cita bersama, dan seterusnya.  Namun banyak juga kegiatan kebudayaan terjadi karena kombinasi dari beberapa macam human needs itu.  Dengan faham ini, kata Malinowski, seseorang peneliti boleh mengkaji dan menerangkan banyak masalah dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia.

Menurut penjelasan Ihromi[xxxi]  Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme, yang ditulis Malinowski dalam artikel  bertajuk “The Group and the Individual in Functional Analysis”,  dalam jurnal American Journal of Sociology, jilid 44 (1939), hal. 938-964.  Dalam artikel ini Malinowski  beranggapan atau berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu terdapat.  Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan menyatakan bahwa setiap pola kelakuan yang telah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bahagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, yang memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan.  Menurut Malinowski, fungsi dari  satu unsur budaya adalah kemampuannya untuk memenuhi beberapa keperluan dasar atau  beberapa keperluan yang timbul dari keperluan dasar yaitu keperluan sekundari dari para warga suatu masyarakat.  Keperluan pokok atau asas adalah seperti makanan, reproduksi (melahirkan keturunan), merasa enak badan (bodily comfort), keamanan, kesantaian, gerak, dan pertumbuhan.  Beberapa aspek dari kebudayaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar itu.  Untuk memenuhi kebutuhan dasar ini, muncul keinginan jenis kedua (derived needs), keinginan sekunder yang juga harus dipenuhi oleh kebudayaan.  Misalnya unsur kebudayaan yang memenuhi keinginan akan makanan menimbulkan keinginan sekunder untuk kerja sama dalam mengumpulkan makanan atau yang untuk diproduksi.  Untuk ini masyarakat mengadakan bentuk-bentuk organisasi politik dan pengawasan sosial, yang akan menjamin kelangsungan kewajiban kerjasama itu.   Sehingga menurut pandangan Malinowski mengenai kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat.

Malinowski percaya bahwa pendekatan fungsional mempunyai sebuah nilai praktis yang penting.  Pengertian nilai praktis ini dapat dimanfaatkan oleh mereka yang bergaul dengan masyarakat primitif.  Ia menjelaskan sebagai berikut: “nilai praktis teori fungsionalisme ini adalah teori ini mengajar kita tentang kepentingan relatif dari berbagai kebiasaan yang beraneka ragam; bagaimana kebiasaan-kebiasaan itu tergantung satu dengan yang lainnya, bagaimana harus dihadapi oleh para penyiar agama, oleh penguasa kolonial, dan oleh mereka yang secara ekonomi mengekploitasi perdagangan dan tenaga orang-orang masyarakat primitif.”[xxxii]

Selain Malinowski pakar teori fungsionalisme dalam ilmu antropologi lainnya adalah Arthur Reginald Radcliffe-Brown.  Seperti Malinowski, ia mendasarkan teorinya mengenai perilaku manusia pada konsep fungsionalisme.  Namun berbeda dengan Malinowski, Radcliffe-Brown merasa bahwa berbagai aspek perilaku sosial, bukanlah berkembang untuk memuaskan keinginan individual, tetapi justeru timbul untuk mempertahankan strukur sosial masyarakat.  Struktur sosial sebuah masyarakat adalah keseluruhan jaringan dari hubungan-hubungan sosial yang ada[xxxiii] (Radcliffe-Brown 1952).

Sebuah contoh nyata pendekatan yang  bersifat struktural-fungsional dari Radcliffe-Brown adalah kajiannya mengenai cara penanggulangan ketegangan sosial yang terjadi di antara orang-orang yang terikat karena faktor perkawinan, yang terdapat dalam pelbagai masyarakat yang berbeda.  Untuk mengurangi kemungkinan ketegangan antara orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan karena perkawinan, misalnya orang beripar, atau berbesanan.  Ia menjelaskan bahwa masyarakat boleh melakukan satu dari dua cara sebagai berikut: pertama dibuat peraturan yang ketat yang tidak membuka kesempatan betemu muka antara orang yang mempunyai hubungan ipar atau mertua seperti halnya pada suku Indian Navajo di Amerika Serikat, yang melarang seorang menantu laki-laki bertemu muka dengan mertua perempuannya.  Kemudian, yang kedua, hubungan itu dianggap sebagai hubungan berkelakar seperti yang terdapat pada orang-orang Amerika kulit putih yang mengenal banyak lelucon tentang ibu mertua.  Dengan begitu, konflik antara anggota keluarga dapat dihindarkan dan norma budaya, yaitu aturan ketat pada orang Navaho dan lelucon pada orang kulit putih Amerika, berfungsi dalam menjaga solidaritas sosial masyarakatnya.  Demikian sekilas tentang teori fungsionalisme yang lazim digunakan di bidang antropologi.

Teori Evolusi

Selain itu dalam seni pertunjukan lazim pula dipergunakan pula teori evolusi. Pada dasarnya, teori evolusi menyatakan bahwa unsur kebudayaan berkembang sejalan dengan perkembangan ruang dan waktu, dari yang berbentuk sederhana menjadi lebih kompleks. Teori ini dalam kesenian banyak digunakan untuk mengkaji sejarah seni. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Wan Abdul Kadir dari Malaysia dalam tulisannya. yang berjudul Budaya Popular dalam Masyarakat Melayu Bandaran (1988), yang mengkaji perkembangan kebudayaan Melayu dari masa kerajaan Melayu Melaka sampai akhir Perang Dunia Kedua‑‑yaitu terdiri dari masa Kerajaan Melayu Melaka 1400‑an berkembang ke masa pendudukan Pulau Pinang oleh Inggris tahun 1786, pembukaan Singapura 1819, Pernerintahan Kolonial sampai 1874, 1880‑an pertumbuhan teater bangsawan, 1908 film, 1914 piringan hitam, 1930 film Melayu, dan 1930‑an radio. Wan Abdul Kadir melihat perkembangan budaya masyarakat Melayu dari yang sederhana ke yang lebih kompleks dalam batasan waktu tahun 1400‑an sampai pertengahan abad ke‑20 dan berdasarkan penemuan teknologi baru.

Teori Difusi

Teori difusi juga dipergunakan dalam mengkaji seni.  Pada prinsipnya, teori ini mengemukakan bahwa suatu kebudayaan dapat menyebar ke kebudayaan lain melalui kontak budaya. Karena teori ini berpijak pada alasan adanya suatu sumber budaya, maka ia sering disebut juga dengan teori monogenesis (lahir dari suatau kebudayaan). Lawannya adalah teori poligenesis, yang menyatakan bahwa beberapa kebudayaan mungkin saja memiliki persamaan‑persamaan baik ide, aktivitas, maupun benda. Tetapi sejumlah persamaan itu bukanlah menjadi alasan adanya satu sumber kebudayaan. Bisa saja persamaan itu muncul secara kebetulan, karena ada unsur universal dalarn diri manusia. Misalnya bentuk dayung perahu hampir sama di mana‑mana di dunia ini. Namun itu tidak berarti bahwa ada satu sumber budaya pembentuk dayung perahu. Katakanlah dayung perahu berasal dari China Selatan. Teori ini banyak dipergunakan oleh para pengkaji seni yang mencoba mencari adanya sebuah sumber budaya. Dalarn kajian seni, misalnya sebagian besar peneliti percaya bahwa zapin berasal dari Yaman. Hal ini didukung oleh fakta‑fakta sejarah, dan bukti-bukti peninggalannya di Yaman sekarang ini, dan persebaran kesenian ini ke berbagai kawasan di Nusantara.

Teori Pergerakan Sosial dan Perilaku Kolektif

Dalam karyanya yang bertajuk Protest Movements in Rural Java (1973), Sartono Kartodirdjo mempergunakan sebahagian kerangka analitis yang pernah dikemuakan Landsberger dalam “The Role of Peasant Movements and Revolts in Development: An Analitical Framework” dalam Landsberger (ed.) Latin American Movements (1968) untuk memahami asal-usul, perkembangan, dan berbagai dampak pergerakan yang bersifat protes sosial.  Dalam semua kasus yang kompleks, faktor-faktor harus dikaji, serta fenomena keresahan sosial hanya dapat dijelaskan melalui kombinasi sebab-sebab yang terpisah.  Aspek-aspek analitis yang merupakan kerangka penelitian Kartodirdjo adalah: (a) struktur politik ekonomi pedesaan Jawa abad ke-19 dan 20; (b) basis massa pergerakan sosial; (c) kepemimpinan pergerakan-pergerakan sosial; (d) ideologi-ideologi pergerakan; dan (e) dimensi budaya yang bersifat mendorong pergerakan sosial (cultural conduciveness).  Dari sembilan butir hal yang dikemukakan Landsberger hanya empat yang diambilnya, yaitu: (a) peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya; (b) sekutu-sekutu dan musuh-musuh gerakan tani; (c) cara-cara aksi gerakan tani; (d) gerakan sebagai organisasi; dan (e) pemikiran mengenai berhasil serta gagalnya gerakan tani dan dampaknya.

Sebuah pendekatan ilmu sejarah lainnya adalah menggunakan teori perilaku kolektif atau dalam bahasa Inggris disebut collective behaviour.  Contoh aplikasi ini dalam tulisan sejarah adalah apa yang ditulis oleh Ibrahim Alfian, yang mengkaji peperangan yang berlangsung antara kerajaan Aceh melawan kerajaan Belanda 1873-1912.  Buku yang ditulis Ibrahim Alfian bertajuk Perang di Jalan Allah (1987).  Teori perilaku kolektif ini ia adopsi dari tulisan sosiolog Amerika Serikat, Neil J. Smelser, dalam buku yang berjudul Theory of Collective Behaviour, 1962.

Teori Siklus Kuint dan Lainnya

Dalam mengkaji timbulnya tangga nada di dunia ini, para etnomusikolog telah mencapai tahap generalisasi, dengan menggunakan teori siklus kuint (overblown fifth). Dari bahan‑bahan sejarah di China ditemui bahwa untuk membentuk sebuah tangga nada, seorang rajanya bernama Huang Ti memerintahkan memotong bambu dalam ukuran‑ukuran tertentu berdasarkan siklus interval kuint dengan rasio matematis 3/4 dan 2/3. Di Yunani‑Romawi, India, serta Timur Tengah, tangga nada diturunkan dari alat‑alat musik bersenar dengan membagi rasio panjangnya senar. Sehingga didapati tangga nada heptatonik (7 nada) yang dibagi ke dalam dua tetrakord (kumpulan empat nada tangga nada). Tangga nada jenis ini dianalisis dalam teori devisif.

Para pengkaji seni yang meminati upacara‑upacara terutama kematian, selalu menggunakan teori rites de passages yang ditawarkan oleh antropolog Van Gennep. Bahwa sebuah kematian manusia adalah dalam kondisi transisi dari suatu dunia ke dunia lain.  Para etnomusikolog juga dalam mengkaji struktur musik sering menggunakan teori kantometrik, yaitu sebuah teori “general” untuk melihat bagaimana struktur umum budaya musik yang diteliti melalui 37 jenis parameter dimensi ruang dan waktu dalarn musik. Selain itu juga dipergunakan teori weighted scale, yang melihat unsur‑unsur pembentuk melodi, seperti: tangga nada, wilayah nada, jumlah nada , interval, kontur, formula, dan lainnya (lihat Malm 1977). Para etnolog tari, dalam mengkaji struktur tari juga selalu menggunakan teori koreometrik, yang sama dasarnya dengan kantometrik namun dipergunakan untuk mengkaji struktur tari. Unsur‑unsur tari yang dibahas di antaranya: waktu, ruang, dan tenaga.

Selain dari teori‑teori ilmu sosial dan humaniora dalam kajian seni tak kalah pentingnya juga dipergunakan teori‑teori dalam ilmu eksakta. Misalnya untuk mendeskripsikan pengecoran dalam pembuatan alat‑alat musik, dipergunakan teori reduksi oksidasi (redoks) dan sejenisnya dari ilmu kimia. Atau untuk menguji aspek akustik dan timber bunyi alat‑alat musik, biasanya dipergunakan disiplin fisika gelombang. Salah satu karya monumental di bidang akustik musik adalah karya John Backus yang berjudul The Acoustical Foundation of Music (1977).

Teori‑teori yang dipergunakan dalarn mengkaji seni akan terus berkembang, scsuai dengan perkembangan pcradaban manusia di muka bumi ini. Dengan demikian, seniman dan ilmuwan seni terus ditantang untuk mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan umat manusia secara umum atau secara khusus kelompoknya.

Penutup

Etnomusikologi secara formal dan institusional adalah disiplin ilmu yang relatif baru. Namun dalam konteks sejarah ilmu-ilmu seni, ia termasuk pelopor awal. Etnomusikologi awalnya muncul di belahan bumi peradaban Barat. Kemudian ilmu ini tumbuh dan berkembang juga di wilayah Dunia Timur.  Etnomusikologi dalam konteks  ilmu pengetahuan dan filsafat, masuk ke dalam rumpun ilmu humaniora dan sosial sekali gus. Etnomusikologi juga merupakan disiplin ilmu yang menekankan kepada penelitian lapangan.

Dalam konteks ilmu-ilmu seni, etnomusikologi memiliki peran strategis. Ilmu ini sangat mewarnai ilmu-ilmu seni. Etnomusikologi yang tampil dan muncul di awal-awal sejarah perkembangan ilmu-ilmu seni, menjadi percontohan dan model bagi ilmu-ilmu seni lainnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya antara ilmuwan etnomusikologi dengan ilmu-ilmu seni seperti antropologi tari, antropologi teater, pengkajian seni pertunjukan, pengkajian seni rupa, ilmu seni rupa, bekerjasama mengkaji kebudayaan (seni) manusia. Bagaimanapun fokus kajian ilmu-ilmu seni ini agak sedikit berbeda, dan pengalamannya tentu saja berbeda. Untuk saling mengembangkan keilmuan dan daya guna dalam masyarakat mutlak diperlukan kerjasama dan saling bertukar ilmu.

Pengembangan teori juga selayaknya dilakukan terus-menerus oleh para pakar etnomusikologi. Teori ini dikembangkan berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari hasil penelitian. Teori akan sangat berguna dalam rangka memecahkan persoalan kajian atau pokok permasalahan penelitian. Teori ini juga perlu didukung oleh metode-metode dan teknik-teknik dalam proses mengembangkan disiplin etnomusikologi.

Tentang Penulis

Muhammad Takari, Dosen Fakultas Sastra USU, lahir pada tanggal 21 Desember 1965 di Labuhanbatu. Menamatkan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas di Labuhanbatu.  Tahun 1990 menamatkan studi sarjana seninya di Jurusan Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya tahun 1998 menamatkan studi magister humaniora pada Program Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 2009 menyelesaikan studi S-3 Pengajian Media Komunikasi di Universiti Malaya, Malaysia.  Aktif sebagai dosen, peneliti, penulis di berbagai media dan jurnal dalam dan luar negeri.  Juga sebagai seniman khususnya musik Sumatera Utara, dalam rangka kunjungan budaya dan seni ke luar negeri.  Kini juga sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.  Kantor: Jalan Universitas No. 19 Medan, 20155, telefon/fax.: (061)8215956.  Rumah: Tanjungmorawa, Bangunrejo, Ds I, No. 40/3, Deliserdang, 20336, e-mail: mtakari@yahoo.com.


[i]Pada dasarnya, sejak di alam kandungan manusia itu telah membutuhkan keindahan. Denyut jantung dan nadi itu sendiri adalah ritme dan taktus kehidupan musikal. Gerakan-gerakan saat berada di dalam kandungan ibu, juga mencerminkan adanya konsep-konsep tarian awal dalam diri manusia. Kemudian saat lahir ia menangis sekeras-kerasnya, yang juga mengekspresikan jiwa dan raganya “terkejut” sementara lahir di dunia fana ini seperti yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya. Setelah lahir dan kemudian tmbuh dan berkembang, ia pun belajar. Dengan menggunakan unsur-unsur keindahan, seperti bernyanyi, menari, main musik, main bola, main petak umpet, dan sejenisnya, makhluk manusia muda ini lebih akan dapat menerima pendidikan yang diperoleh dari alam sekitarannya.

[ii]Tentu saja ini bukan hanya hayalan atau cita-cita yang begitu tinggi.  Bagaimanapun sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia memiliki peran strategis, baik itu politis, ekonomi, budaya, maupun ilmu pengetahuan.  Dalam berbagai perlombaan di peringkat internasional para siswa Indonesia telah berkali-kali menjadi juara. Yang baru lalu siswa menengah kita menjuarai olimpiade matematika peringkat dunia, yang diselenggarakan di New Delhi. Begitu pula Bacharuddin Jusuf Habibie, adalah mantan presiden Indonesia ketiga, yang sekaligus teknokrat penemu teori aerodinamika pesawat terbang yang digunakan di peringkat dunia. Untuk bidang etnomusikologi kemungkinan sumbangan untuk ilmu pengetahuan manusia di dunia ini juga terbuka lebar, karena faktor-faktor: Indonesia memiliki ragam budaya yang kaya. Selain itu setiap kelompok etnik memiliki ilmu pengetahuannya sendiri, yang terbukti dapat mencerahkan dari masa ke masa. Begitu pula para ilmuwan sosial, budaya, dan eksakta di Indonesia mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya bagi kesejahteraan umat manusia sejagad, bukan hanya untuk orang Indonesia saja.

[iii]Mungkin yang sangat luas menyebar dalam disiplin ini, dan hal itu juga umum terjadi di dalam antropologi.  Titik pandangan ini pada dasarnya terlindung secara alamiah, bahwa musik berbagai masyarakat di dunia ini banyak disalahgunakan dan dirugikan; misalnya kebanyakan orang Barat tidak menempatkannya sebagai dualisme; dan selanjutnya membantu etnomusikolog untuk melindunginya dari hinaan lainnya serta menerangkan dan memenangkannya dengan berbagai kemungkinan.  Dalam cara ini, etnomusikologi seperti juga antropologi, memandang dunia keseluruhannya sebagai lapangan studi dan melakukan reaksi kembali dengan disiplin yang lebih khusus, yang mengkonsentrasikan perhatian hanya terhadap fenomena budaya Barat.  Titik pandangan ini muncul secara luas di dalam etnomusikologi, salah satunya mencapai pernyataan atau kesimpulan langsung.  Jaap Kunst, sebagai contoh, melakukan reaksi dengan intensitas keras kepada pandangan orang-orang Barat bahwa musik pada masyarakat lainnya adalah “tidak lebih dari sekedar inferior, peradaban yang lebih primitif, atau sebagai suatu jenis musik yang murtad.”

[iv]I Made Bandem, 2001. “Etnomusikologi Penyelamat Musik Dunia,” dalam Selonding: Jurnal Etnomusikologi Indonesia. Yogyakarta: Masyarakat Etnomusikologi Indonesia. Volume 1 tahun 1. h. 1-2.

[v]Kesadaran tentang kesamaan hak dan kewajiban antara seiap warga negara dalam negara bangsa ini, dalam sejarah politik Amerika Serikat telah dibuktikan pada tahun 2009 ini, ketika seorang keturunan kulit hitam (ibunya kulit putih) yaitu Barack Obama Husin menjadi presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Beberapa dasawarsa sebelumnya seorang Katolik yaitu John Fitzgerald Kennedy menjadi presiden Amerika Serikat, yang mungkin kedua kondisi in tak pernah terbayangkan di era-era sebelumnya. Bagaimanapun secara normatif, yang menjadi presiden Amerika Serikat seharusnya adalah  Anglosakson  kulit putih dan beragama Protestan.

[vi]Silahkan lihat lebih jauh Alan P. Merriam, 1964. The Anthropology of Music. Chicago: North Western University Press.

[vii]Yuyun S. Suria Sumantri, Ilmu dalam Perpektif, Yayasan Obor dan Leknas LIPI, Jakarta, 1984, h. 4.

[viii]Lebih lanjut lihat Norman K. Denzim dan Yvonna S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative Research, Sage Publications, Thousand Oaks, London dan New Delhi, 1995.

[ix]Silahkan lihat lebih jauh Alan P. Merriam, op. cit. 1964. h. 3-4.  Buku ini menjadi “bacaan wajib dan mendasar” bagi para pelajar etnomusikologi seluruh dunia, dengan pendekatan kebudayan, fungsionalisme, strukturalisme, sosiologis, dan lain-lainnya.

[x]R. Supanggah, 1995. Etnomusikologi. Surakarta: Yayasan bentang Budaya, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.  Buku ini merupakan kumpulan enam tulisan  oleh empat pakar etnomusikologi (Barat) seperti: Barbara Krader, George List, Alan P. Merriam,  dan K.A. Gourlay; yang dialihbahasakan oleh Santosa dan Rizaldi Siagian.  Dalam buku ini Alan P. Merriam menulis tiga artikel, yaitu: (a)  “Beberapa Definisi tentang ‘Musikologi Komparatif’ dan ‘Etnomusikologi’: Sebuah Pandangan Historis-Teoretis,” (b) “Meninjau Kembali Disiplin Etnomusikologi,” (c) “Metode dan Teknik Penelitian dalam Etnomusikologi.”  Sementara Barbara Krader menulis artikel yang bertajuk “Etnomusikologi.” Selanjutnya George List menulis artikel “Etnomusikologi: Definisi dalam Disiplinnya.”  Pada akhir tulisan ini K.A. Gourlay menulis artikel yang berjudul “Perumusan Kembali Peran Etnomusikolog di dalam Penelitian.”  Buku ini barulah sebagai alihbahasa terhadap tulisan-tulisan etnomusikolog (Barat).  Ke depan, dalam konteks Indonesia diperlukan buku-buku panduan tentang etnomusikologi terutama yang ditulis oleh anak negeri, untuk kepentingan perkembangan disiplin ini.  Dalam ilmu antropologi telah dilakukan penulisan buku seperti Pengantar Ilmu Antropologi yang ditulis antropolog Koentjaraningrat, diikuti oleh berbagai buku antropologi lainnya oleh para pakar generasi berikut seperti James Dananjaya, Topi Omas Ihromi, Parsudi Suparlan, Budi Santoso, dan lain-lainnya.

[xi]Marius Schneider, 1957. “Primitive Music,” dalam  Egon Weller (ed.), Ancient and Oriental Music. London: Oxford University Press. h. 1-22.

[xii] Bruno Nettl, 1956. Music in Primitive Culture. Cambridge: Cambridge University Press. h. 1.

[xiii]Mieczyslaw Kolinski, 1957. “Ethnomusicology in Problems and Methods,” dalam  Ethnomusicology Newsletter. No 10: 1-7, h. 1-2.

[xiv]Jaap Kunst, 1959. Ethnomusicology.The Hague: Martinus Nijhoff. (Edisi Ketiga) h.1.

[xv]Mantle Hood, 1957.  Training and Playing in Ethnomusicology. Ethnomusicology Newsletter. No. 11:2-8. h. .

[xvi]Gilbert Chase, 1958. “A Dialectical Approch in Music History.” Ethnomusicology. 2:1-9. h. 7.

[xvii]Alan P.  Merriam, op. cit., 1964.

[xviii]Koentjaraningrat, 1980. Pengantar Ilmu Antropologi.  Jakarta: Rineka Cistra, h.1.

[xix]Lihat Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, 1995. Handbook of Qualitative Research. New Delhi dan London: Thousand Oaks.

[xx]Keneth R. Hoover, 1989. Unsur-unsur Pemikiran Ilmiah dalam Ilmu Sosial. (Terjemahan Hartono H.). Yogyakarta: Tiara Wacana. h. 26.

[xxi]Marckward, Albert H. et al. (eds.), 1990. Webster Comprehensive Dictionary  (volume 2). Chicago: Ferguson Publishing Company. h. 1302.

[xxii]Dalam tulisan Victor Turner dan Edward M. Bruner (eds.). 1983. The Anthropology of Performance. Urbana dan Chicago: University Illinois.

[xxiii]Encyclopedia Brittanica (versi elektronik), 2007. London.

[xxiv] Panuti Sudjiman dan Art van Zoest,  (eds.), 1992.  Serba-serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

[xxv]D.K. Berlo, 1960. The process of Communication. San Francisco: Rinenart Press. h.54.

[xxvi]Lihat tulisan-tulisan: (a) Wimal Dissanayake, 1993. Teori Komunikasi Perspektif Asia. Rahmah Hashim (penterj.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Pelancongan Malaysia; (b) Littlejohn S.W. Littlejohn, S.W. 1992. Theories of Human Communication. Ed ke-4. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company; dan (c) Barthes, 1967. Barthes, R., 1967. Elementss of Semiology. London: Jonathan Cape.

[xxvii]Eduard Hanslick, 1957. The Beautiful in Music. Edited and translated by Gustave Cohen.  New York: Liberal Arts. h. 61.

[xxviii]Eduard Hanslick, 1957. The Beautiful in Music. Edited and translated by Gustave Cohen.  New York: Liberal Arts. h. 61.

[xxix]John Cage, 1961. Silence. Middletown: Wesleyan University Press.

[xxx]Lawrence T. Lorimer et al., 1991, Grolier Encyclopedia of Knowledge (volume 1-20).  Danburry, Connecticut: Groller Incorporated. vol. 18. h.112-113.

[xxxi]Ihromi, 1987. Pokok-pokok Atropologi Budaya. Jakarta: Jambatan. h. 59-61.

[xxxii]Ibid. Keberatan utama terhadap teori fungsionalismenya Malinowski adalah bahwa teori ini tidak dapat memberi penjelasan mengenai adanya aneka ragam kebudayaan manusia.  Keinginan-keinginan  yang diidentifikasikannya, sedikit banyak bersifat universal, seperti keinginan akan makanan yang semua masyarakat harus memikirkannya kalau ingin hidup terus.  Jadi  teori  fungsionalisme memang dapat menerangkan kepada kita bahwa semua masyarakat menginginkan pengurusan soal mendapatkan makanan, namun teori ini tak dapat menjelaskan kepada kita  mengapa setiap mesyarakat berbeda pengurusannya mengenai pengadaan makanan mereka.  Dengan kata lain, teori fungsionalisme tidak menerangkan mengapa pola-pola kebudayaan tertentu timbul untuk memenuhi suatu keinginan manusia, yang sebenarnya boleh sahaja dipenuhi dengan cara yang lain yang boleh dipilih dari sejumlah alternative dan mungkin cara itu lebih mudah.

[xxxiii]Radcliffe-Brown, A.R., 1952., Structure and Function in  Primitive Society. Glencoe: Free Press.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment